<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>xh &amp;mdash; ⋆</title>
    <link>https://lunarlatte.writeas.com/tag:xh</link>
    <description>a pale blue dot.</description>
    <pubDate>Thu, 27 Aug 2026 05:39:46 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>kamera</title>
      <link>https://lunarlatte.writeas.com/kamera?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[xh&#xA;blockquote &#xA;(for jungseok) &#xA;part of a bigger universe that doesn&#39;t have a title yet (and maybe will never see the end of the light).&#xA;/blockquote&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Kamera?&#34;&#xA;&#xA;Klik.&#xA;&#xA;Suara shutter kamera samar terdengar. Jiseok berkedip terkejut; walau tak ada kilatan cahaya apa pun yang keluar darinya.&#xA;&#xA;Pria itu menurunkan kameranya. Menampilkan wajah yang sembap sehabis bangun tidur. Ia lantas tertawa kecil, mengerutkan kedua ujung matanya yang ikut menyipit.&#xA;&#xA;&#34;Iya. Bagus, nggak? Aku dapat dari tukang loak di samping rumah,&#34; jawabnya serak.&#xA;&#xA;Namun yang ditanya hanya diam terpana, menatap wajah mengantuk yang masih bertanya-tanya. Kalau seperti ini, Jungsu tak terlihat seperti anak menyeramkan yang suka bolos sekolah dan membuat ulah. Jungsu hanyalah Jungsu. Anak laki-laki yang bekerja siang-malam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, lalu sesekali mencuri tidur untuk menyegarkan badan.&#xA;&#xA;&#34;Hei,&#34; Jungsu melambaikan tangan, membuat Jiseok tersadar. &#34;Kok ngelamun? Pikiranmu pasti ke mana-mana lagi. Kali ini jalan-jalan ke mana?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok akhirnya mengalihkan pandangan, terlalu malu untuk mengaku. Alih-alih menjawab, ia bergeser agar posisi duduknya berada di samping pria itu.&#xA;&#xA;&#34;Toko yang kamu cerita baru buka itu? Aku mau lihat hasilnya,&#34; Jiseok memajukan wajah pada layar kamera. Jungsu menekan sebuah tombol, menampilkan wajah Jiseok yang menatap kosong pada layarnya.&#xA;&#xA;&#34;Dih, kok aku kayak orang dongo, hapus, ah!&#34; Jiseok mencoba merebut kamera itu, tapi Jungsu sudah menjauhi barang itu darinya sambil tertawa.&#xA;&#xA;&#34;Kok gitu! Lucu tau,&#34; Jungsu tersenyum jahil, masih meninggikan kameranya ke udara. &#34;Yah! Nanti jatuh kameranya!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hapus dulu makanya!&#34; Jiseok setengah merengek, setengahnya lagi mencoba menggelitiki Jungsu agar ia menyerah. Tawa mereka bergemuruh, mengisi ruang kecil pada taman belakang siang-siang.&#xA;&#xA;Bagitu, dan seterusnya mereka menghabiskan musim panas yang tidak lama lagi akan hilang.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:xh" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">xh</span></a>
<blockquote>(for jungseok)
part of a bigger universe that doesn&#39;t have a title yet (and maybe will never see the end of the light).
</blockquote>
</p>

<hr/>

<p>“Kamera?”</p>

<p><em>Klik.</em></p>

<p>Suara <em>shutter</em> kamera samar terdengar. Jiseok berkedip terkejut; walau tak ada kilatan cahaya apa pun yang keluar darinya.</p>

<p>Pria itu menurunkan kameranya. Menampilkan wajah yang sembap sehabis bangun tidur. Ia lantas tertawa kecil, mengerutkan kedua ujung matanya yang ikut menyipit.</p>

<p>“Iya. Bagus, nggak? Aku dapat dari tukang loak di samping rumah,” jawabnya serak.</p>

<p>Namun yang ditanya hanya diam terpana, menatap wajah mengantuk yang masih bertanya-tanya. Kalau seperti ini, Jungsu tak terlihat seperti anak menyeramkan yang suka bolos sekolah dan membuat ulah. Jungsu hanyalah <em>Jungsu.</em> Anak laki-laki yang bekerja siang-malam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, lalu sesekali mencuri tidur untuk menyegarkan badan.</p>

<p>“Hei,” Jungsu melambaikan tangan, membuat Jiseok tersadar. “Kok ngelamun? Pikiranmu pasti ke mana-mana lagi. Kali ini jalan-jalan ke mana?”</p>

<p>Jiseok akhirnya mengalihkan pandangan, terlalu malu untuk mengaku. Alih-alih menjawab, ia bergeser agar posisi duduknya berada di samping pria itu.</p>

<p>“Toko yang kamu cerita baru buka itu? Aku mau lihat hasilnya,” Jiseok memajukan wajah pada layar kamera. Jungsu menekan sebuah tombol, menampilkan wajah Jiseok yang menatap kosong pada layarnya.</p>

<p>“Dih, kok aku kayak orang dongo, hapus, ah!” Jiseok mencoba merebut kamera itu, tapi Jungsu sudah menjauhi barang itu darinya sambil tertawa.</p>

<p>“Kok gitu! Lucu tau,” Jungsu tersenyum jahil, masih meninggikan kameranya ke udara. “Yah! Nanti jatuh kameranya!”</p>

<p>“Hapus dulu makanya!” Jiseok setengah merengek, setengahnya lagi mencoba menggelitiki Jungsu agar ia menyerah. Tawa mereka bergemuruh, mengisi ruang kecil pada taman belakang siang-siang.</p>

<p>Bagitu, dan seterusnya mereka menghabiskan musim panas yang tidak lama lagi akan hilang.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://lunarlatte.writeas.com/kamera</guid>
      <pubDate>Sun, 05 May 2024 10:35:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>menara suar(a)</title>
      <link>https://lunarlatte.writeas.com/menara-suar-a?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[xh&#xA;blockquote (for gayeon)&#xA;part of halcyon universe.&#xA;/blockquote&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Pernah kepikiran nggak, kalau suara-suara deru kendaraan yang lewat itu mirip sama suaranya debur ombak?&#34;&#xA;&#xA;Sepi. Hanya ada segaris laut biru pudar di atas pasir-pasir putih yang kosong. Musim dingin memang bukan waktu yang tepat untuk pergi mengunjungi pantai, tapi tidak ada yang tidak mungkin dari isi kepala Jiseok.&#xA;&#xA;Jooyeon menoleh pada gema biru yang mengudara di sampingnya. Jiseok yang hampir tenggelam dalam balutan jaket tebalnya masih melihat pemandangan pantai luas di sekitarnya, tak ada sama sekali raut bosan di wajahnya.&#xA;&#xA;&#34;Suara kendaraan? Memang di laut ada bunyi klakson juga?&#34;&#xA;&#xA;Jawabannya disambut oleh tinjuan pelan Jiseok pada lengannya. &#xA;&#xA;&#34;Bukan yang begitu maksudnya,&#34; Jiseok mendengus. &#34;Maksudnya kayak ... apa, ya? White noise? Desibelnya rendah dan timbul tenggelam. Sama-sama bersuara &#39;wuuuushh&#39; lalu hilang.&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon mengernyit. Ia tidak begitu mengamati suara benda mati karena beberapa tidak punya warna berarti, apalagi paham berapa sekian desibelnya. Tapi dengan memejamkan mata, dalam pantai kosong dan sesepi itu, mungkin ia sedikit banyak dapat memahami maksudnya.&#xA;&#xA;Keduanya memancarkan binar kelabu dingin yang teduh.&#xA;&#xA;&#34;Sepi, ya?&#34; Jooyeon menimpali dengan pikirannya yang lain. &#34;Kita harusnya ke sini pas liburan musim panas, Jiseok-ah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak apa-apa. Aku nggak terlalu suka keramaian,&#34; Jiseok menghela napas, membentuk kepulan asap dingin yang keluar dari mulutnya. &#xA;&#xA;Jooyeon tahu itu.&#xA;&#xA;Jiseok menyandar pada pilar tangga kayu yang ia duduki, membuat suara berderit yang membuyarkan lamunan Jooyeon.&#xA;&#xA;&#34;Dulu,&#34; Jiseok tampak berpikir sebelum melanjutkan, &#34;dulu aku pernah tinggal di apartemen yang lokasinya tepat di depan jalan besar. Setiap hari polusi suara nggak bisa dihindari; dari klakson-klakson kendaraan macet, gerung motor-motor yang suka ngebut, sampai suara tabrakan beruntun ...&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon seketika menoleh padanya. Jiseok sendiri tampak hilang selama beberapa saat, karena ia tak lekas melanjutkan perkataannya; sampai Jooyeon menggenggam tangannya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu nggak apa-apa?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok menoleh. Bertemu dengan raut wajah Jooyeon yang khawatir. Alam bawah sadarnya membuat Jooyeon masih menggenggam tangan itu erat; jempolnya kerap menyapu jemari Jiseok yang terasa dingin.&#xA;&#xA;Jiseok memiringkan kepalanya bingung. Jawaban itu sekaligus menjawab pertanyaan Jooyeon secara tak langsung; ia baik-baik saja. Jooyeon mengembuskan napas yang tak sadar sedari tadi ia tahan.&#xA;&#xA;&#34;Tapi kalau malam hari, jalanannya sepi,&#34; Jiseok kembali melanjutkan, walau kini tutur katanya sedikit lebih lambat. &#34;Hanya ada beberapa truk besar yang lewat. Selain itu, sisanya suara-suara yang aku bilang tadi — deru kendaraan yang lewat lalu hilang. Lucunya, itu membuat aku tidur nyenyak, ya?&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon menunggu Jiseok untuk melanjutkan.&#xA;&#xA;&#34;Aku selalu membayangkan mungkin seperti itu rasanya tinggal di perumahan dekat pantai. Kau akan terus mendengar suara debur ombak yang tak pernah ada habisnya. Meskipun pada beberapa hari tertentu, suara itu diisi oleh kepingan botol pecah dan teriakan orang bertengkar ...&#34;&#xA;&#xA;Jiseok kembali terdiam. Jooyeon merasakan genggaman tangannya mengerat.&#xA;&#xA;&#34;Jiseok-ah,&#34; lamat-lamat Jooyeon memotongnya, sebelum Jiseok tersesat semakin jauh. &#34;Aku pikir, suaranya sangat berbeda dengan debur ombak.&#34;&#xA;&#xA;Keheningan itu kembali terisi oleh sayup-sayup suara ombak yang saling bertabrakan. Mungkin karena anginnya semakin kencang, gulungan ombak yang tercipta terdengar semakin besar. &#xA;&#xA;&#34;Oh ...&#34; Jiseok tampak mendengarkan suara ombak itu dengan seksama, kemudian ia mengerutkan dahi. &#34;Kenapa kita ngomongin tentang hal ini, ya?&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon membalas genggamannya, membuat Jiseok melirik pada kaitan tangan mereka.&#xA;&#xA;&#34;Mungkin karena Jiseok suka pantai?&#34; Jooyeon mencoba memberi jawaban. &#34;Lalu, kamu membayangkan suara-suaranya terasa seperti suasana di pantai.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sebenarnya aku tidak pernah terlalu peduli soal itu,&#34; Jiseok membalas. &#34;Tapi, ini ... ada beberapa saat ketika telingaku terlalu sensitif terhadap suara. Kadang, suara-suara itu merekam memori mengerikan. Kupikir, daripada harus tenggelam dalam kegelapan, lebih baik aku asumsikan rasanya sama seperti melihat matahari di musim dingin. Warna kuning pucat yang teredam kabut dingin. Heh, sayangnya pasir-pasir itu terlalu basah untuk dipijak, ya? Jadi kita nggak bisa lihat dari dekat,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Warna?&#34; Jooyeon kembali mengernyit. Meskipun ia paham sedikit-banyak pembicaraan Jiseok adalah omongan abstrak yang tidak seberapa ia mengerti, ia tetap terkejut ketika mendengar Jiseok mengasumsikan suara sebagai warna.&#xA;&#xA;&#34;Ngomongin tentang warna, aku juga punya rahasia kecil,&#34; timpalnya. Sesungguhnya, Jooyeon melakukannya untuk mengalihkan pembicaraan ini; agar Jiseok berhenti mengingat hal-hal tidak baik—bahkan ketika mereka sudah jauh pergi meninggalkan hal itu. Tapi ia belum pernah bercerita tentang kondisinya itu pada siapa pun selain keluarganya, bahkan pada Jiseok.&#xA;&#xA;&#34;Ini ... aku bisa lihat warna-warna dari gelombang suara.&#34;&#xA;&#xA;Kini Jiseok menatapnya lekat-lekat. Tatapan kosong itu berubah menjadi ketertarikan penuh padanya.&#xA;&#xA;&#34;Warna? Suara?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eum, kayak ... warna suara ombak terlihat kelabu biru di pandanganku. Meskipun suara benda mati itu gelombangnya terlihat sangat samar ... warnanya mirip dengan suara saat kita naik kendaraan di tengah jalan tol yang lengang. Mungkin karena itu menurutmu mirip, meskipun deru kendaraan warnanya kelabu mengarah ke tembaga ... atau, kamu tahu suara gitar? Warnanya kuning kecokelatan transparan, seperti gelombang milik kak Jungsu meskipun warna suara manusia biasanya jauh lebih tebal dan bervariasi. Oh, manusia. Suara manusia selalu terlihat menarik, meskipun sesekali buatku menjadi pusing.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok berkedip, tampak tidak percaya. &#34;Kamu sungguhan bisa lihat warna suara?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak percaya pun nggak apa-apa&#34; Jooyeon mengangkat bahu. &#34;Tapi, begitu. Kadang bisa aku kontrol, kadang tidak. Kalau sudah susah dikontrol, mau melakukan apa pun rasanya seperti buta,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Synesthesia?&#34; Jiseok manggut-manggut.&#xA;&#xA;&#34;Syn ...? Yah, mungkin itu,&#34; Jooyeon kembali mengernyit pada kosa kata Jiseok yang rumit.&#xA;&#xA;&#34;Serius? Wah,&#34; Jiseok tampak terkagum-kagum. &#34;Berarti kalau aku sedang berbicara seperti ini, ada warnanya, dong?&#34;&#xA;&#xA;Gelombang biru itu tampak menari dengan riang. Mereka kini memunculkan warna lainnya—yaitu tosca, yang selalu Jooyeon nantikan kehadirannya.&#xA;&#xA;Warna tosca itu selalu muncul ketika Jiseok sedang tertawa.&#xA;&#xA;&#34;Biru gelap, dengan corak ... eum ... kamu tahu? Cahaya langit malam yang ada di Norwegia. Kalau kamu tertawa, corak hijaunya mengalir persis seperti di video-videonya.&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon tidak ingat namanya, tapi ia ingat—penampakan langit yang ia tonton bersama Jiseok dalam sebuah film dokumenter dulu sekali. Saat pertama Jooyeon melihat langit itu, ia langsung mematenkan bahwa itu benar-benar warna Jiseok. Karena ia kadang kesulitan mendeskripsikan sebuah warna suara, dan tak terkira bahwa visualisasi langit itu akhirnya terpakai—untuk menjelaskannya kepada sang pemilik.&#xA;&#xA;&#34;Norwegia?&#34; Jiseok mrngerutkan dahi. &#34;Norway ... northern— northern lights? Aurora borealis?&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon meringis.  Bukan putri. Tolong berhenti pakai kosa kata rumit,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukan, bukan aurora itu,&#34; Jiseok merogoh sesuatu dalam sakunya, menegluarkan ponsel pintar miliknya dan mencari sesuatu.&#xA;&#xA;Ia menunjukkan sebuah video langit. &#34;Ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh! Iya, yang ini. Tapi, hijaumu lebih ke warna kebiruan. Seperti apa ya? tosca?&#34; Jooyeon menonton video 30 detik itu hingga selesai.&#xA;&#xA;Ia melirik pada Jiseok, yang memandang langit-langit dengan kagum.&#xA;&#xA;&#34;Wah,&#34; ucapnya untuk yang kesekian kali. &#34;Kamu yakin nggak lagi ngegombal? Kayaknya deskripsimu terlalu cantik untuk dipercaya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ey ... aku udah bilang, kalau nggak percaya juga nggak apa-apa,&#34; Jooyeon merengut mendengar ucapannya.&#xA;&#xA;&#34;Aurora borealis di pantai? Wow,&#34; Jiseok tertawa kecil. &#34;Pasti cantik.&#34;&#xA;&#xA;Kamu memang cantik, dalam hati Jooyeon berucap. Begitu rasanya setiap aku melihatmu— rasanya, aku hampir gila.&#xA;&#xA;&#34;Kalau Jooyeonie warnanya apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eng?&#34; Jooyeon tak memperkirakan pertanyaan itu. &#34;Aku? aku nggak bisa lihat warna suaraku sendiri,&#34;&#xA;&#xA;Jiseok tampak terkejut. &#34;Eh? Serius?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eum,&#34; Jooyeon tertegun. &#34;Menurutmu warnanya apa?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok mengernyit. &#34;Aku nggak mengerti bagaimana synesthesia bekerja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak perlu spesifik. Coba dipikir seperti saat kamu menganggap suara mobil lewat itu seperti debur ombak.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok tak menjawab. Tak mengharapkan jawaban, Jooyeon ikut memandang pada lautan luas, yang langit-langitnya mulai tertutupi kabut tipis.&#xA;&#xA;&#34;Oh, mercusuar.&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon menoleh, lalu mengikuti arah pandang dan jari telunjuk Jiseok pada sebuah titik cahaya di pinggir laut. Di balik kabut dingin yang menyelimutinya, samar terlihat bangunan tinggi yang menjulang pada ujung teluk pantai.&#xA;&#xA;&#34;Untuk membantu navigasi kapal, mercusuar akan menyala dalam gelapnya malam, atau saat cuaca sedang buruk.&#34; Jiseok menjelaskan. &#34;Karena itu, mercusuar didesain sedemikian rupa agar cahayanya cukup terang untuk dapat menembus semua itu. &#xA;&#xA;&#34;Aku pikir, itu yang akan aku lihat kalau bisa lihat visualisasi suara Jooyeon.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok kini berpaling dari menara itu, dan menatap Jooyeon lekat-lekat. &#34;Memang tidak ada warna spesifik, tapi kupikir seperti itu. Ketika tersesat dalam gelap, atau ketika sedang menutup mata, ada satu titik cahaya yang memandu pulang. Atau memberi sinyal agar terhindar dari marabahaya. Entah itu obrolan kecil tentang komik yang kamu baca, atau cerita keseharian anjingmu di rumah, atau sekedar senandung dari lagu yang kamu suka saat itu.&#xA;&#xA;&#34;Suara Jooyeon itu seperti suara-suara yang mengantar pulang ke rumah.&#34;&#xA;&#xA;Hening. Jooyeon hanya terdiam, masih mencoba untuk mencerna kata-katanya. Sedang lampu mercusuar di belakang masih berkedip pelan, memancarkan sinyal pada laut kosong.&#xA;&#xA;Pernahkah Jiseok berpikir bahwa justru gelombang birunya yang selalu membuatnya tenang?&#xA;&#xA;&#34;Siapa yang mengajari kamu ngomong gombalan seperti itu?&#34; Akhirnya Jooyeon menanggapi.&#xA;&#xA;&#34;Aku belajar dari ahlinya,&#34; balas Jiseok, lalu ia menepuk lututnya pelan. &#34;Yah. Nggak seperti kamu, aku nggak bercanda,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku nggak bilang begitu, lho?&#34; Jooyeon tertawa kecil, berusaha menyembunyikan kesedihannya. &#34;Ah, aku jadi malu ...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu yang aku rasakan tiap kamu ngomong yang aneh-aneh,&#34; ucapnya kemudian.&#xA;&#xA;&#34;Ini? Seperti apa itu sebutannya—ada kupu-kupu dalam perut?&#34; Jooyeon memasang wajah terkejut yang dilebih-lebihkan. &#34;Apa ini? Sekarang kamu udah sayang sama aku?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sayang kok,&#34; Jiseok menjawab serius. &#34;Apa yang bikin kamu berpikir kalau selama ini aku nggak sayang?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:xh" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">xh</span></a>
<blockquote> (for gayeon)
part of halcyon universe.
</blockquote>
</p>

<hr/>

<p>“Pernah kepikiran nggak, kalau suara-suara deru kendaraan yang lewat itu mirip sama suaranya debur ombak?”</p>

<p>Sepi. Hanya ada segaris laut biru pudar di atas pasir-pasir putih yang kosong. Musim dingin memang bukan waktu yang tepat untuk pergi mengunjungi pantai, tapi tidak ada yang tidak mungkin dari isi kepala Jiseok.</p>

<p>Jooyeon menoleh pada gema biru yang mengudara di sampingnya. Jiseok yang hampir tenggelam dalam balutan jaket tebalnya masih melihat pemandangan pantai luas di sekitarnya, tak ada sama sekali raut bosan di wajahnya.</p>

<p>“Suara kendaraan? Memang di laut ada bunyi klakson juga?”</p>

<p>Jawabannya disambut oleh tinjuan pelan Jiseok pada lengannya.</p>

<p>“Bukan yang begitu maksudnya,” Jiseok mendengus. “Maksudnya kayak ... apa, ya? <em>White noise?</em> Desibelnya rendah dan timbul tenggelam. Sama-sama bersuara <em>&#39;wuuuushh&#39;</em> lalu hilang.”</p>

<p>Jooyeon mengernyit. Ia tidak begitu mengamati suara benda mati karena beberapa tidak punya warna berarti, apalagi paham berapa sekian desibelnya. Tapi dengan memejamkan mata, dalam pantai kosong dan sesepi itu, mungkin ia sedikit banyak dapat memahami maksudnya.</p>

<p>Keduanya memancarkan binar kelabu dingin yang teduh.</p>

<p>“Sepi, ya?” Jooyeon menimpali dengan pikirannya yang lain. “Kita harusnya ke sini pas liburan musim panas, Jiseok-ah.”</p>

<p>“Nggak apa-apa. Aku nggak terlalu suka keramaian,” Jiseok menghela napas, membentuk kepulan asap dingin yang keluar dari mulutnya.</p>

<p>Jooyeon tahu itu.</p>

<p>Jiseok menyandar pada pilar tangga kayu yang ia duduki, membuat suara berderit yang membuyarkan lamunan Jooyeon.</p>

<p>“Dulu,” Jiseok tampak berpikir sebelum melanjutkan, “dulu aku pernah tinggal di apartemen yang lokasinya tepat di depan jalan besar. Setiap hari polusi suara nggak bisa dihindari; dari klakson-klakson kendaraan macet, gerung motor-motor yang suka ngebut, sampai suara tabrakan beruntun ...”</p>

<p>Jooyeon seketika menoleh padanya. Jiseok sendiri tampak hilang selama beberapa saat, karena ia tak lekas melanjutkan perkataannya; sampai Jooyeon menggenggam tangannya.</p>

<p>“Kamu nggak apa-apa?”</p>

<p>Jiseok menoleh. Bertemu dengan raut wajah Jooyeon yang khawatir. Alam bawah sadarnya membuat Jooyeon masih menggenggam tangan itu erat; jempolnya kerap menyapu jemari Jiseok yang terasa dingin.</p>

<p>Jiseok memiringkan kepalanya bingung. Jawaban itu sekaligus menjawab pertanyaan Jooyeon secara tak langsung; <em>ia baik-baik saja.</em> Jooyeon mengembuskan napas yang tak sadar sedari tadi ia tahan.</p>

<p>“Tapi kalau malam hari, jalanannya sepi,” Jiseok kembali melanjutkan, walau kini tutur katanya sedikit lebih lambat. “Hanya ada beberapa truk besar yang lewat. Selain itu, sisanya suara-suara yang aku bilang tadi — deru kendaraan yang lewat lalu hilang. Lucunya, itu membuat aku tidur nyenyak, ya?”</p>

<p>Jooyeon menunggu Jiseok untuk melanjutkan.</p>

<p>“Aku selalu membayangkan mungkin seperti itu rasanya tinggal di perumahan dekat pantai. Kau akan terus mendengar suara debur ombak yang tak pernah ada habisnya. Meskipun pada beberapa hari tertentu, suara itu diisi oleh kepingan botol pecah dan teriakan orang bertengkar ...”</p>

<p>Jiseok kembali terdiam. Jooyeon merasakan genggaman tangannya mengerat.</p>

<p>“Jiseok-ah,” lamat-lamat Jooyeon memotongnya, sebelum Jiseok tersesat semakin jauh. “Aku pikir, suaranya sangat berbeda dengan debur ombak.”</p>

<p>Keheningan itu kembali terisi oleh sayup-sayup suara ombak yang saling bertabrakan. Mungkin karena anginnya semakin kencang, gulungan ombak yang tercipta terdengar semakin besar.</p>

<p>“Oh ...” Jiseok tampak mendengarkan suara ombak itu dengan seksama, kemudian ia mengerutkan dahi. “Kenapa kita ngomongin tentang hal ini, ya?”</p>

<p>Jooyeon membalas genggamannya, membuat Jiseok melirik pada kaitan tangan mereka.</p>

<p>“Mungkin karena Jiseok suka pantai?” Jooyeon mencoba memberi jawaban. “Lalu, kamu membayangkan suara-suaranya terasa seperti suasana di pantai.”</p>

<p>“Sebenarnya aku tidak pernah terlalu peduli soal itu,” Jiseok membalas. “Tapi, ini ... ada beberapa saat ketika telingaku terlalu sensitif terhadap suara. Kadang, suara-suara itu merekam memori mengerikan. Kupikir, daripada harus tenggelam dalam kegelapan, lebih baik aku asumsikan rasanya sama seperti melihat matahari di musim dingin. Warna kuning pucat yang teredam kabut dingin. Heh, sayangnya pasir-pasir itu terlalu basah untuk dipijak, ya? Jadi kita nggak bisa lihat dari dekat,”</p>

<p>“Warna?” Jooyeon kembali mengernyit. Meskipun ia paham sedikit-banyak pembicaraan Jiseok adalah omongan abstrak yang tidak seberapa ia mengerti, ia tetap terkejut ketika mendengar Jiseok mengasumsikan suara sebagai warna.</p>

<p>“Ngomongin tentang warna, aku juga punya rahasia kecil,” timpalnya. Sesungguhnya, Jooyeon melakukannya untuk mengalihkan pembicaraan ini; agar Jiseok berhenti mengingat hal-hal tidak baik—bahkan ketika mereka sudah jauh pergi meninggalkan hal itu. Tapi ia belum pernah bercerita tentang kondisinya itu pada siapa pun selain keluarganya, bahkan pada Jiseok.</p>

<p>“Ini ... aku bisa lihat warna-warna dari gelombang suara.”</p>

<p>Kini Jiseok menatapnya lekat-lekat. Tatapan kosong itu berubah menjadi ketertarikan penuh padanya.</p>

<p>“Warna? Suara?”</p>

<p>“Eum, kayak ... warna suara ombak terlihat kelabu biru di pandanganku. Meskipun suara benda mati itu gelombangnya terlihat sangat samar ... warnanya mirip dengan suara saat kita naik kendaraan di tengah jalan tol yang lengang. Mungkin karena itu menurutmu mirip, meskipun deru kendaraan warnanya kelabu mengarah ke tembaga ... atau, kamu tahu suara gitar? Warnanya kuning kecokelatan transparan, seperti gelombang milik kak Jungsu meskipun warna suara manusia biasanya jauh lebih tebal dan bervariasi. Oh, manusia. Suara manusia selalu terlihat menarik, meskipun sesekali buatku menjadi pusing.”</p>

<p>Jiseok berkedip, tampak tidak percaya. “Kamu sungguhan bisa lihat warna suara?”</p>

<p>“Nggak percaya pun nggak apa-apa” Jooyeon mengangkat bahu. “Tapi, begitu. Kadang bisa aku kontrol, kadang tidak. Kalau sudah susah dikontrol, mau melakukan apa pun rasanya seperti buta,”</p>

<p><em>“Synesthesia?”</em> Jiseok manggut-manggut.</p>

<p>“Syn ...? Yah, mungkin itu,” Jooyeon kembali mengernyit pada kosa kata Jiseok yang rumit.</p>

<p>“Serius? Wah,” Jiseok tampak terkagum-kagum. “Berarti kalau aku sedang berbicara seperti ini, ada warnanya, dong?”</p>

<p>Gelombang biru itu tampak menari dengan riang. Mereka kini memunculkan warna lainnya—yaitu <em>tosca,</em> yang selalu Jooyeon nantikan kehadirannya.</p>

<p>Warna <em>tosca</em> itu selalu muncul ketika Jiseok sedang tertawa.</p>

<p>“Biru gelap, dengan corak ... eum ... kamu tahu? Cahaya langit malam yang ada di Norwegia. Kalau kamu tertawa, corak hijaunya mengalir persis seperti di video-videonya.”</p>

<p>Jooyeon tidak ingat namanya, tapi ia ingat—penampakan langit yang ia tonton bersama Jiseok dalam sebuah film dokumenter dulu sekali. Saat pertama Jooyeon melihat langit itu, ia langsung mematenkan bahwa itu benar-benar warna Jiseok. Karena ia kadang kesulitan mendeskripsikan sebuah warna suara, dan tak terkira bahwa visualisasi langit itu akhirnya terpakai—untuk menjelaskannya kepada sang pemilik.</p>

<p>“Norwegia?” Jiseok mrngerutkan dahi. <em>“Norway ... northern— northern lights? Aurora borealis?”</em></p>

<p>Jooyeon meringis.  Bukan putri. Tolong berhenti pakai kosa kata rumit,”</p>

<p>“Bukan, bukan aurora itu,” Jiseok merogoh sesuatu dalam sakunya, menegluarkan ponsel pintar miliknya dan mencari sesuatu.</p>

<p>Ia menunjukkan sebuah video langit. “Ini?”</p>

<p>“Oh! Iya, yang ini. Tapi, hijaumu lebih ke warna kebiruan. Seperti apa ya? <em>tosca?”</em> Jooyeon menonton video 30 detik itu hingga selesai.</p>

<p>Ia melirik pada Jiseok, yang memandang langit-langit dengan kagum.</p>

<p>“Wah,” ucapnya untuk yang kesekian kali. “Kamu yakin nggak lagi ngegombal? Kayaknya deskripsimu terlalu cantik untuk dipercaya.”</p>

<p>“Ey ... aku udah bilang, kalau nggak percaya juga nggak apa-apa,” Jooyeon merengut mendengar ucapannya.</p>

<p><em>“Aurora borealis</em> di pantai? Wow,” Jiseok tertawa kecil. “Pasti cantik.”</p>

<p><em>Kamu memang cantik,</em> dalam hati Jooyeon berucap. <em>Begitu rasanya setiap aku melihatmu— rasanya, aku hampir gila.</em></p>

<p>“Kalau Jooyeonie warnanya apa?”</p>

<p>“Eng?” Jooyeon tak memperkirakan pertanyaan itu. “Aku? aku nggak bisa lihat warna suaraku sendiri,”</p>

<p>Jiseok tampak terkejut. “Eh? Serius?”</p>

<p>“Eum,” Jooyeon tertegun. “Menurutmu warnanya apa?”</p>

<p>Jiseok mengernyit. “Aku nggak mengerti bagaimana <em>synesthesia</em> bekerja.”</p>

<p>“Nggak perlu spesifik. Coba dipikir seperti saat kamu menganggap suara mobil lewat itu seperti debur ombak.”</p>

<p>Jiseok tak menjawab. Tak mengharapkan jawaban, Jooyeon ikut memandang pada lautan luas, yang langit-langitnya mulai tertutupi kabut tipis.</p>

<p>“Oh, mercusuar.”</p>

<p>Jooyeon menoleh, lalu mengikuti arah pandang dan jari telunjuk Jiseok pada sebuah titik cahaya di pinggir laut. Di balik kabut dingin yang menyelimutinya, samar terlihat bangunan tinggi yang menjulang pada ujung teluk pantai.</p>

<p>“Untuk membantu navigasi kapal, mercusuar akan menyala dalam gelapnya malam, atau saat cuaca sedang buruk.” Jiseok menjelaskan. “Karena itu, mercusuar didesain sedemikian rupa agar cahayanya cukup terang untuk dapat menembus semua itu.</p>

<p>“Aku pikir, itu yang akan aku lihat kalau bisa lihat visualisasi suara Jooyeon.”</p>

<p>Jiseok kini berpaling dari menara itu, dan menatap Jooyeon lekat-lekat. “Memang tidak ada warna spesifik, tapi kupikir seperti itu. Ketika tersesat dalam gelap, atau ketika sedang menutup mata, ada satu titik cahaya yang memandu pulang. Atau memberi sinyal agar terhindar dari marabahaya. Entah itu obrolan kecil tentang komik yang kamu baca, atau cerita keseharian anjingmu di rumah, atau sekedar senandung dari lagu yang kamu suka saat itu.</p>

<p>“Suara Jooyeon itu seperti suara-suara yang mengantar pulang ke rumah.”</p>

<p>Hening. Jooyeon hanya terdiam, masih mencoba untuk mencerna kata-katanya. Sedang lampu mercusuar di belakang masih berkedip pelan, memancarkan sinyal pada laut kosong.</p>

<p>Pernahkah Jiseok berpikir bahwa justru gelombang birunya yang selalu membuatnya tenang?</p>

<p>“Siapa yang mengajari kamu ngomong gombalan seperti itu?” Akhirnya Jooyeon menanggapi.</p>

<p>“Aku belajar dari ahlinya,” balas Jiseok, lalu ia menepuk lututnya pelan. “Yah. Nggak seperti kamu, aku nggak bercanda,”</p>

<p>“Aku nggak bilang begitu, lho?” Jooyeon tertawa kecil, berusaha menyembunyikan kesedihannya. “Ah, aku jadi malu ...”</p>

<p>“Itu yang aku rasakan tiap kamu ngomong yang aneh-aneh,” ucapnya kemudian.</p>

<p>“Ini? Seperti apa itu sebutannya—ada kupu-kupu dalam perut?” Jooyeon memasang wajah terkejut yang dilebih-lebihkan. “Apa ini? Sekarang kamu udah sayang sama aku?”</p>

<p>“Sayang kok,” Jiseok menjawab serius. “Apa yang bikin kamu berpikir kalau selama ini aku nggak sayang?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://lunarlatte.writeas.com/menara-suar-a</guid>
      <pubDate>Tue, 10 Oct 2023 17:27:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>teralis air hujan</title>
      <link>https://lunarlatte.writeas.com/teralis-air-hujan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[xh&#xA;blockquote &#xA;(for jungseok) &#xA;part of a bigger universe that doesn&#39;t have a title yet.&#xA;&#xA;note. school laws and stuff might be inaccurate, i apologize in advance.&#xA;/blockquote&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;Air-air yang turun deras dari langit tak menghalangi Jiseok untuk bergegas menuju lantai teratas bangunan ringkih itu.&#xA;&#xA;Ia berlari menaiki tangga-tangga curam yang licin, berusaha berpegangan pada gagang besi yang juga telah terbasuh air. Ia tidak peduli apabila salah satu kakinya dapat tergelincir; tujuannya saat ini hanya sampai pada bagian atapnya. Karena ia tahu, yang ia cari ada di sana; walau ia tak yakin ia akan mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam kepalanya. Meskipun pertanyaan itu kini telah terganti oleh kilasan peristiwa hari ini yang terus berputar di kepalanya tanpa henti.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Lantai 2.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Surat Permohonan Pengunduran Diri Sebagai Siswa.&#xA;&#xA;Jiseok melihat semuanya. Berkas-berkas serta lembaran duplikasi yang berserakan pada laci meja Jungsu, juga nama yang tercetak di dalamnya. Ia tak bertemu dengan Jungsu seharian ini, atau barangkali Jungsu yang memang sengaja menghindarinya; kemudian, tak sengaja ia temukan kertas-kertas itu bagai kotak pandora yang terbuka.&#xA;&#xA;Pengunduran diri.&#xA;&#xA;Surat pengunduran diri dari sekolah.&#xA;&#xA;Setelah sekian lama ia bertahan, pada akhirnya Jungsu menanggalkan salah satu mimpi terbesarnya.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Lantai 3.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Ruang guru itu tampak sepi, kecuali dua sosok yang tampak serius bercakap. Jiseok membatu di balik pintu, tak jadi melangkah masuk untuk sekedar menyerahkan hasil soal latihan karena pembicaraan antar dua insan tersebut jauh berkali lipat lebih penting.&#xA;&#xA;&#34;Kamu benar-benar berhenti sekolah?&#34;&#xA;&#xA;Tak terdengar jawaban. Jiseok mengintip ke dalam, dan disambut oleh anggukan pelan dari sosok yang membelakanginya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu tahu, ijazah sekolah sangat penting untuk mencari pekerjaan?&#34; wali kelasnya itu menghela napas. &#34;Kamu kira kamu bisa bekerja part-time selamanya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf,&#34; Jungsu hanya dapat menjawab lirih.&#xA;&#xA;&#34;Saya bisa saja mengajukan beasiswa atau keringanan biaya, tapi hasil studimu juga ...&#34; ia kembali menggeleng. &#34;Untuk apa sekolah mempertahankan siswa yang sering bolos sekolah dengan nilai yang buruk?&#34;&#xA;&#xA;Keheningan itu membuat Jiseok pengar. Pikirannya semakin kalut oleh pembelaan-pembelaan yang ingin ia lontarkan. Bagaimana bisa Jungsu belajar dengan baik jika ia bekerja tak ada habisnya? Toh sebulan terakhir ini ia sudah berusaha keras untuk mengikuti semua yang Jiseok ajarkan, dan nilainya sedikit demi sedikit mulai meningkat. Apakah itu tak bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan?&#xA;&#xA;Tapi sistem tetap sistem. Sistem yang mengatur ratusan manusia takkan peduli jika hanya ada satu-dua orang yang tercampakkan karena tak mampu menuruti aturannya.&#xA;&#xA;Sebelum keheningan itu mulai memekakkan telinga hingga Jiseok cukup berani untuk menengahi mereka, Jungsu kembali berbicara.&#xA;&#xA;&#34;Maaf. Saya terlalu sibuk bekerja karena adik saya sebentar lagi akan masuk SMA. Saya memang kurang bekerja keras dalam belajar, dan saya kurang mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Sekali lagi saya mohon maaf,&#34; kemudian Jungsu membungkuk sopan. &#34;Terima kasih atas bimbingannya selama ini.&#34;&#xA;&#xA;Sebelum Jungsu berjalan keluar, Jiseok sudah pergi meninggalkan ruang guru itu.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Lantai 4.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Semakin tinggi lantainya, semakin terasa sesak rasanya. Jiseok merasakan matanya memanas, walau sudah sekian kali ia terciprat air hujan. Apa harus ia merasa setidak berdaya ini? Ia bukan Jungsu, namun ia merasa seakan-akan ikut terjebak dalam ruang kecil dengan jeruji air hujan yang terus mengalir tanpa henti. Apa tidak ada cara lain yang dapat diusahakan? Apa sebegitu senangnya Tuhan bercanda dengan seorang anak yang selalu mengusahakan segalanya untuk berjalan dengan seharusnya?&#xA;&#xA;Sesulit itu kah beranjak dewasa dengan tempo yang semestinya?&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Jiseok sampai pada bagian atap.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Dan Jungsu memang ada di sana.&#xA;&#xA;Tali-tali tempat jemuran itu sudah lengang, kecuali pakaian-pakaian Jungsu yang masih menggantung di sisi kirinya. Basah kuyup. Pun begitu, Jungsu tak beranjak selangkah pun untuk mengangkatnya.&#xA;&#xA;Ia hanya berdiri di sana, entah sudah berapa lama. Karena rambut dan seragam yang masih ia kenakan itu tampak sama basahnya.&#xA;&#xA;Jiseok yang panik refleks berteriak, mengejutkan sosok yang sedari tadi masih diam mematung. &#34;Hei, angkat dulu jemurannya!&#34;&#xA;&#xA;Jungsu menoleh. Jiseok yang melihat raut wajahnya seketika terdiam. Walau tatapannya kosong, ada samar rona merah di sekitar mata dan hidungnya.&#xA;&#xA;&#34;Untuk apa?&#34; tanyanya kemudian. &#34;Diangkat juga sudah terlanjur basah. Nggak ada yang bisa aku lakukan dengan baju-baju itu.&#34;&#xA;&#xA;Jungsu kembali melihat jemuran basah itu dalam diam. &#34;Nggak ada,&#34; ia perlahan duduk berlutut. &#34;Bahkan aku nggak becus mengurusi hal-hal kecil seperti ini ...&#34;&#xA;&#xA;Jiseok sudah tidak sanggup. Ia ikut duduk di sampingnya, memeluknya erat-erat. &#34;Bukan salahmu,&#34; Jiseok berkata, kini terisak. &#34;Bukan salahmu. Itu bukan salahmu, Jungsu-ya ...&#34;&#xA;&#xA;Seakan tersadar oleh isakan Jiseok, Jungsu akhirnya menoleh. &#34;Kenapa?&#34; Jungsu melepas rangkulannya, menangkup wajah Jiseok yang tangisannya bercampur dengan rintik hujan. &#34;Kenapa kamu nangis? Padahal nggak apa-apa, kok. Besok bisa aku cuci lagi bajunya,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi belum tentu besok cerah. Belum tentu airnya akan menyala. Belum tentu ada tempat tersisa buat menjemur pakaian-pakaianmu. Kenapa?&#34; Jiseok masih terisak. &#34;Kenapa hidup rasanya terlalu sulit buatmu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ji—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku tahu,&#34; potong Jiseok, &#34;Aku tahu kamu mengajukan pengunduran diri dari sekolah hari ini.&#34;&#xA;&#xA;Jungsu diam membeku.&#xA;&#xA;&#34;Terus kamu mau apa?&#34; Jiseok mulai meracau. &#34;Apa yang bakal kamu lakukan sesudahnya? Biaya sekolah adikmu bukan tanggungjawabmu. Apa kamu nggak bisa menjadi egois dan hidup seperti anak normal, datang ke sekolah dengan tepat waktu tanpa babak belur atau ngantuk berkepanjangan?&#34;&#xA;&#xA;Jungsu menurunkan tangannya, juga tatapan matanya. Keheningan kini diisi oleh suara hujan yang masih turun dengan deras. &#xA;&#xA;&#34;Aku minta maaf,&#34; di antara suara rintiknya, Jungsu berbisik. &#34;Tapi mereka sudah jadi bagian dari hidupku. Ada hidup adikku yang harus kuperjuangkan supaya ia tak bernasib sama sepertiku. Hidup ibuku yang harus kulindungi. Hidup ayahku dan titelnya sebagai kepala keluarga. Bagaimana jadinya jika mereka tidak ada? Aku bukan siapa-siapa tanpa mereka.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok tidak setuju. Di matanya, Jungsu tetaplah Jungsu. Jungsu yang kelakuannya seperti seekor kucing besar. Jungsu yang tidak menyukai kopi pahit. Jungsu yang selalu tertawa akan hal-hal kecil. Jungsu yang selalu memesan tteokbokki, tak peduli seberapa panas cuaca pada hari itu. Jungsu yang suka menunjukkan tempat-tempat tersembunyi yang indah, atau yang selalu menyemangatinya ketika Jiseok selalu mengeluh seputar sekolah atau pertengkaran dengan ibunya.&#xA;&#xA;Jungsu adalah Jungsu, dan itu adalah Jungsu yang Jiseok kenal. Tapi selama ini Jungsu selalu berpikir seakan-akan ia tidak memiliki identitas atas dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Kali ini Jungsu yang balas memeluk terlebih dahulu. Walau keduanya telah basah kuyup, gestur itu mengalirkan sedikit kehangatan pada Jiseok yang tak sadar sudah gemetar karena kedinginan.&#xA;&#xA;&#34;Maaf aku sudah mengecewakanmu. Maaf karena aku gagal menjadi apa yang kamu ekspektasikan. Karena ketika kamu bilang kalau aku selalu terlihat penuh akan kehidupan, mungkin sesungguhnya aku hanya hidup untuk orang lain.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:xh" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">xh</span></a>
<blockquote>(for jungseok)
part of a bigger universe that doesn&#39;t have a title yet.</p>

<p>note. school laws and stuff might be inaccurate, i apologize in advance.
</blockquote>
</p>

<hr/>

<p>Air-air yang turun deras dari langit tak menghalangi Jiseok untuk bergegas menuju lantai teratas bangunan ringkih itu.</p>

<p>Ia berlari menaiki tangga-tangga curam yang licin, berusaha berpegangan pada gagang besi yang juga telah terbasuh air. Ia tidak peduli apabila salah satu kakinya dapat tergelincir; tujuannya saat ini hanya sampai pada bagian atapnya. Karena ia tahu, yang ia cari ada di sana; walau ia tak yakin ia akan mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam kepalanya. Meskipun pertanyaan itu kini telah terganti oleh kilasan peristiwa hari ini yang terus berputar di kepalanya tanpa henti.</p>

<p>.</p>

<p><em>Lantai 2.</em></p>

<p>.</p>

<p><em>Surat Permohonan Pengunduran Diri Sebagai Siswa.</em></p>

<p>Jiseok melihat semuanya. Berkas-berkas serta lembaran duplikasi yang berserakan pada laci meja Jungsu, juga nama yang tercetak di dalamnya. Ia tak bertemu dengan Jungsu seharian ini, atau barangkali Jungsu yang memang sengaja menghindarinya; kemudian, tak sengaja ia temukan kertas-kertas itu bagai kotak pandora yang terbuka.</p>

<p><em>Pengunduran diri.</em></p>

<p><em>Surat pengunduran diri dari sekolah.</em></p>

<p>Setelah sekian lama ia bertahan, pada akhirnya Jungsu menanggalkan salah satu mimpi terbesarnya.</p>

<p>.</p>

<p><em>Lantai 3.</em></p>

<p>.</p>

<p><em>Ruang guru itu tampak sepi, kecuali dua sosok yang tampak serius bercakap. Jiseok membatu di balik pintu, tak jadi melangkah masuk untuk sekedar menyerahkan hasil soal latihan karena pembicaraan antar dua insan tersebut jauh berkali lipat lebih penting.</em></p>

<p><em>“Kamu benar-benar berhenti sekolah?”</em></p>

<p><em>Tak terdengar jawaban. Jiseok mengintip ke dalam, dan disambut oleh anggukan pelan dari sosok yang membelakanginya.</em></p>

<p><em>“Kamu tahu, ijazah sekolah sangat penting untuk mencari pekerjaan?” wali kelasnya itu menghela napas. “Kamu kira kamu bisa bekerja part-time selamanya?”</em></p>

<p><em>“Maaf,” Jungsu hanya dapat menjawab lirih.</em></p>

<p><em>“Saya bisa saja mengajukan beasiswa atau keringanan biaya, tapi hasil studimu juga ...” ia kembali menggeleng. “Untuk apa sekolah mempertahankan siswa yang sering bolos sekolah dengan nilai yang buruk?”</em></p>

<p><em>Keheningan itu membuat Jiseok pengar. Pikirannya semakin kalut oleh pembelaan-pembelaan yang ingin ia lontarkan. Bagaimana bisa Jungsu belajar dengan baik jika ia bekerja tak ada habisnya? Toh sebulan terakhir ini ia sudah berusaha keras untuk mengikuti semua yang Jiseok ajarkan, dan nilainya sedikit demi sedikit mulai meningkat. Apakah itu tak bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan?</em></p>

<p><em>Tapi sistem tetap sistem. Sistem yang mengatur ratusan manusia takkan peduli jika hanya ada satu-dua orang yang tercampakkan karena tak mampu menuruti aturannya.</em></p>

<p><em>Sebelum keheningan itu mulai memekakkan telinga hingga Jiseok cukup berani untuk menengahi mereka, Jungsu kembali berbicara.</em></p>

<p><em>“Maaf. Saya terlalu sibuk bekerja karena adik saya sebentar lagi akan masuk SMA. Saya memang kurang bekerja keras dalam belajar, dan saya kurang mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Sekali lagi saya mohon maaf,” kemudian Jungsu membungkuk sopan. “Terima kasih atas bimbingannya selama ini.”</em></p>

<p><em>Sebelum Jungsu berjalan keluar, Jiseok sudah pergi meninggalkan ruang guru itu.</em></p>

<p>.</p>

<p><em>Lantai 4.</em></p>

<p>.</p>

<p>Semakin tinggi lantainya, semakin terasa sesak rasanya. Jiseok merasakan matanya memanas, walau sudah sekian kali ia terciprat air hujan. Apa harus ia merasa setidak berdaya ini? Ia bukan Jungsu, namun ia merasa seakan-akan ikut terjebak dalam ruang kecil dengan jeruji air hujan yang terus mengalir tanpa henti. Apa tidak ada cara lain yang dapat diusahakan? Apa sebegitu senangnya Tuhan bercanda dengan seorang anak yang selalu mengusahakan segalanya untuk berjalan dengan seharusnya?</p>

<p>Sesulit itu kah beranjak dewasa dengan tempo yang semestinya?</p>

<p>.</p>

<p><em>Jiseok sampai pada bagian atap.</em></p>

<p>.</p>

<p>Dan Jungsu memang ada di sana.</p>

<p>Tali-tali tempat jemuran itu sudah lengang, kecuali pakaian-pakaian Jungsu yang masih menggantung di sisi kirinya. Basah kuyup. Pun begitu, Jungsu tak beranjak selangkah pun untuk mengangkatnya.</p>

<p>Ia hanya berdiri di sana, entah sudah berapa lama. Karena rambut dan seragam yang masih ia kenakan itu tampak sama basahnya.</p>

<p>Jiseok yang panik refleks berteriak, mengejutkan sosok yang sedari tadi masih diam mematung. “Hei, angkat dulu jemurannya!”</p>

<p>Jungsu menoleh. Jiseok yang melihat raut wajahnya seketika terdiam. Walau tatapannya kosong, ada samar rona merah di sekitar mata dan hidungnya.</p>

<p>“Untuk apa?” tanyanya kemudian. “Diangkat juga sudah terlanjur basah. Nggak ada yang bisa aku lakukan dengan baju-baju itu.”</p>

<p>Jungsu kembali melihat jemuran basah itu dalam diam. “Nggak ada,” ia perlahan duduk berlutut. “Bahkan aku nggak becus mengurusi hal-hal kecil seperti ini ...”</p>

<p>Jiseok sudah tidak sanggup. Ia ikut duduk di sampingnya, memeluknya erat-erat. “Bukan salahmu,” Jiseok berkata, kini terisak. “Bukan salahmu. Itu bukan salahmu, Jungsu-ya ...”</p>

<p>Seakan tersadar oleh isakan Jiseok, Jungsu akhirnya menoleh. “Kenapa?” Jungsu melepas rangkulannya, menangkup wajah Jiseok yang tangisannya bercampur dengan rintik hujan. “Kenapa kamu nangis? Padahal nggak apa-apa, kok. Besok bisa aku cuci lagi bajunya,”</p>

<p>“Tapi belum tentu besok cerah. Belum tentu airnya akan menyala. Belum tentu ada tempat tersisa buat menjemur pakaian-pakaianmu. Kenapa?” Jiseok masih terisak. “Kenapa hidup rasanya terlalu sulit buatmu?”</p>

<p>“Ji—”</p>

<p>“Aku tahu,” potong Jiseok, “Aku tahu kamu mengajukan pengunduran diri dari sekolah hari ini.”</p>

<p>Jungsu diam membeku.</p>

<p>“Terus kamu mau apa?” Jiseok mulai meracau. “Apa yang bakal kamu lakukan sesudahnya? Biaya sekolah adikmu bukan tanggungjawabmu. Apa kamu nggak bisa menjadi egois dan hidup seperti anak normal, datang ke sekolah dengan tepat waktu tanpa babak belur atau ngantuk berkepanjangan?”</p>

<p>Jungsu menurunkan tangannya, juga tatapan matanya. Keheningan kini diisi oleh suara hujan yang masih turun dengan deras.</p>

<p>“Aku minta maaf,” di antara suara rintiknya, Jungsu berbisik. “Tapi mereka sudah jadi bagian dari hidupku. Ada hidup adikku yang harus kuperjuangkan supaya ia tak bernasib sama sepertiku. Hidup ibuku yang harus kulindungi. Hidup ayahku dan titelnya sebagai kepala keluarga. Bagaimana jadinya jika mereka tidak ada? Aku bukan siapa-siapa tanpa mereka.”</p>

<p>Jiseok tidak setuju. Di matanya, Jungsu tetaplah Jungsu. Jungsu yang kelakuannya seperti seekor kucing besar. Jungsu yang tidak menyukai kopi pahit. Jungsu yang selalu tertawa akan hal-hal kecil. Jungsu yang selalu memesan tteokbokki, tak peduli seberapa panas cuaca pada hari itu. Jungsu yang suka menunjukkan tempat-tempat tersembunyi yang indah, atau yang selalu menyemangatinya ketika Jiseok selalu mengeluh seputar sekolah atau pertengkaran dengan ibunya.</p>

<p>Jungsu adalah Jungsu, dan itu adalah Jungsu yang Jiseok kenal. Tapi selama ini Jungsu selalu berpikir seakan-akan ia tidak memiliki identitas atas dirinya sendiri.</p>

<p>Kali ini Jungsu yang balas memeluk terlebih dahulu. Walau keduanya telah basah kuyup, gestur itu mengalirkan sedikit kehangatan pada Jiseok yang tak sadar sudah gemetar karena kedinginan.</p>

<p>“Maaf aku sudah mengecewakanmu. Maaf karena aku gagal menjadi apa yang kamu ekspektasikan. Karena ketika kamu bilang kalau aku selalu terlihat penuh akan kehidupan, mungkin sesungguhnya aku hanya hidup untuk orang lain.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://lunarlatte.writeas.com/teralis-air-hujan</guid>
      <pubDate>Sat, 09 Sep 2023 07:35:14 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>kucing-kucing di ladang</title>
      <link>https://lunarlatte.writeas.com/kucing-kucing-di-ladang?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[xh&#xA;blockquote &#xA;(for jungseok) &#xA;part of a bigger universe that doesn&#39;t have a title yet.&#xA;&#xA;cw // kissing, probably&#xA;also this one is pretty cringe so if someone read this, i&#39;ve warned you T__T&#xA;/blockquote&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;Mungkin ini hidup yang diidamkan orang-orang kota, pikir Jiseok seadanya.&#xA;&#xA;Meskipun sawahnya tak seluas milik desa sebelah, jarak antara satu petak dengan yang lain masih cukup jauh. Padi-padinya masih berwarna hijau, dialiri air segar yang menghidupinya. Di atasnya, plastik-plastik yang bergantung pada seutas tali mengeluarkan suara gemerisik apabila tertiup angin. Jungsu bilang, cara itu jauh lebih efektif untuk mengusir hama dan burung-burung yang suka merusak sawah, ketimbang hanya memasang orang-orangan sawah. Pada ujung petaknya, ada kolam kecil dengan sekelompok bebek yang sedang berenang dengan riang.&#xA;&#xA;&#34;Kamu bisa kena heat stroke kalau kelamaan berdiri di sini,&#34; sebuah suara menyadarkan lamunannya. Jiseok menoleh pada sumber suara, yang kini ikut memandang pada apa yang Jiseok lihat sedari tadi. &#34;Kamu suka bebek?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biasanya aku bawa pakan bebek,&#34; Jungsu mengerutkan dahi. &#34;Tapi, hari ini aku nggak lewat rumah tetangga yang ada karung pakannya,&#34;&#xA;&#xA;Mata Jiseok membesar. &#34;Kamu mencuri pakan juga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yah, apa maksudnya dengan &#39;juga&#39;? Aku nggak sesering itu mencuri,&#34; Jungsu merengut. &#34;Lagipula itu bukan mencuri, kalau aku kasih pakannya ke bebeknya sendiri, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Tapi Jiseok tidak mendengar sisanya. Angin dingin berembus lembut, membuatnya memejamkan mata. Angin di kota juga tidak seperti ini. Walau di sini cuacanya terik, udaranya tetap terasa segar.&#xA;&#xA;Jungsu memasangkan topi jerami yang sedari tadi ia kenakan padanya. Jiseok juga mulai merasakan sepasang tangan yang menggenggam lengannya. &#34;Ayo jalan lagi, kita mau pergi ke minimarket, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok tak menjawab. Ia masih hanyut dalam pikiran-pikirannya. Apakah dengan merasa seperti ini akan membuatnya hidup? Apakah dengan mencuri akan membuat jantungnya berdebar seperti manusia? Apakah terus berlari bersama Jungsu akan membuat hidupnya menjadi berwarna?&#xA;&#xA;Jiseok membuka mata. Menemukan Jungsu yang menatapnya cemas.&#xA;&#xA;&#34;Kak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu nggak apa-apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku mau ciuman.&#34;&#xA;&#xA;Angin kembali berembus. Kini suara gemerisik plastik-plastik mengisi keheningan di antara mereka, diikuti raut wajah Jungsu yang terkejut bercampur bingung.&#xA;&#xA;&#34;Ciuman?&#34; Jungsu tak tahu harus merespon apa. &#34;Sama siapa? Kamu ngincer seseorang di kelas?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya, maksudnya,&#34; Jiseok menelan ludah. Ia tidak percaya ia harus mengatakannya secara gamblang. &#34;Maksudnya, ciuman sama kakak, lah.&#34;&#xA;&#xA;Kini Jungsu menganga lebar.&#xA;&#xA;&#34;Kamu beneran kena heat stroke, ya?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok yang sudah kepalang malu akhirnya mencoba melewati Jungsu. &#34;Udahlah, lupain aja. Kayaknya aku memang kekurangan asupan cairan. Ayo ke minimarket,&#34;&#xA;&#xA;Tapi Jungsu menghentikannya sebelum ia hampir terjatuh dari pematang sawah tempatnya berpijak. &#34;Tunggu, tunggu. Tadi kamu ngomong serius?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kapan sih, omonganku dianggap serius sama kakak?&#34; Jiseok kini tampak terganggu. &#34;Terserah. Mungkin emang karena lagi panas aja. Udah—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku tanya begitu karena aku anggap omongan kamu serius,&#34; Jungsu kembali menghentikan geraknya. Ia masih menggenggam bahu Jiseok. &#34;Kamu mau? Tapi kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok menggigit bagian dalam pipinya dalam diam sebelum Jungsu kembali bertanya.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa aku?&#34;&#xA;&#xA;Kenapa? Apa karena Jungsu adalah satu-satunya anak kelas yang dekat dengannya? Atau karena ia hanya penasaran, dan Jungsu adalah manusia yang paling tepat untuk mencobanya? Atau hanya karena ia Jungsu—seseorang yang selalu membuatnya nyaman, hingga ia tidak perlu khawatir bahwa ciuman itu akan mengubah segalanya?&#xA;&#xA;Tapi yang keluar dari mulut Jiseok tentu saja hal yang lain.&#xA;&#xA;&#34;Karena kakak selalu terlihat hidup,&#34; ucapnya lamat-lamat, &#34;dan aku mau mencicipi rasa kehidupan itu.&#34;&#xA;&#xA;Jawaban absurd lainnya. Mungkin orang lain akan semakin bertanya-tanya, atau malah pergi meninggalkannya. Tapi Jungsu tidak. Ia hanya terdiam menatapnya, mencoba mengerti.&#xA;&#xA;Jiseok-ah, apa yang ada dalam pikiranmu saat ini?&#xA;&#xA;&#34;Oke,&#34; Jungsu menyanggupi, yang membuat Jiseok terkejut, walau sejak awal ia yang meminta duluan. &#34;Tapi aku nggak tanggungjawab kalau rasanya nggak seperti yang kamu ekspektasikan.&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada waktu untuk berubah pikiran. Bahkan tidak ada waktu untuk berdebar, karena Jungsu lantas mendekat dan sedikit mengangkat dagunya dengan sayang sebelum ia mulai menciumnya.&#xA;&#xA;Perasaan hangat menjalar ke seluruh tubuh, seakan-akan ia sedang menenggak minuman beralkohol. Manis. Adiktif. Memabukkan. Dan Jungsu masih mengecup bibirnya, melumatnya hingga ia hampir kehabisan napas. Ia merasakan tangan Jungsu yang menahan punggungnya supaya ia tak terjatuh. Jiseok turut memeluk pinggangnya erat.&#xA;&#xA;Mungkin cepat atau lambat ia akan terkena heat stroke betulan.&#xA;&#xA;Pada akhirnya mereka saling melepas pagutan. Topi jerami yang Jiseok kenakan sudah tersampir di punggungnya, mungkin sudah terbang tertiup angin apabila tidak ada tali yang mengait pada lehernya. &#xA;&#xA;Jungsu menatapnya lekat-lekat, lalu menangkup kedua pipinya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu yakin nggak kena heat stroke? Wajahmu merah,&#34;&#xA;&#xA;Jiseok yang masih terengah hanya bisa menganga. &#xA;&#xA;&#34;Dasar gila,&#34; sambil mengumpulkan napas, Jiseok mengumpat pelan. Ia merangkul Jungsu seadanya, memberatkan segenap titik tumpu tubuhnya di sana. &#34;Rasanya aku hampir mau mati,&#34;&#xA;&#xA;Kenyataannya, ia jauh dari rasa mati. Ia tidak pernah merasa sehidup ini sebelumnya. Ada perasaan bergejolak dalam dirinya yang membuat jantungnya berdebar. Perasaan yang sama seperti perasaan setelah naik roller coaster_ atau menonton pertunjukkan kembang api. &#xA;&#xA;Ia suka. &#xA;Lagi. &#xA;Ia mau lagi.&#xA;&#xA;&#34;Lagian kamu mintanya aneh-aneh ... kamu masih kuat jalan nggak?&#34; Yang satunya bertanya dengan khawatir, membuyarkan lamunan Jiseok. Tak mendapat respon, Jungsu membungkukkan badannya. &#34;Kalau nggak, sini aku gendong sampai minimarket,&#34;&#xA;&#xA;Yang masih mabuk kepayang ujungnya hanya menurut saja.&#xA;&#xA;Dengan begitu, mereka kembali berjalan dengan Jiseok yang menempel di punggung Jungsu seperti seekor anak koala. Melewati sawah-sawah hijau dengan pandangan berbinar.&#xA;&#xA;Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jungsu. &#34;Nanti kamu ajarin aku nyolong pakan juga ya,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yah!! Udah kubilang aku nggak mencuri!&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:xh" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">xh</span></a>
<blockquote>(for jungseok)
part of a bigger universe that doesn&#39;t have a title yet.</p>

<p><em>cw // kissing, probably</em>
<em>also this one is pretty cringe so if someone read this, i&#39;ve warned you</em> T___T
</blockquote>
</p>

<hr/>

<p>Mungkin ini hidup yang diidamkan orang-orang kota, pikir Jiseok seadanya.</p>

<p>Meskipun sawahnya tak seluas milik desa sebelah, jarak antara satu petak dengan yang lain masih cukup jauh. Padi-padinya masih berwarna hijau, dialiri air segar yang menghidupinya. Di atasnya, plastik-plastik yang bergantung pada seutas tali mengeluarkan suara gemerisik apabila tertiup angin. Jungsu bilang, cara itu jauh lebih efektif untuk mengusir hama dan burung-burung yang suka merusak sawah, ketimbang hanya memasang orang-orangan sawah. Pada ujung petaknya, ada kolam kecil dengan sekelompok bebek yang sedang berenang dengan riang.</p>

<p>“Kamu bisa kena <em>heat stroke</em> kalau kelamaan berdiri di sini,” sebuah suara menyadarkan lamunannya. Jiseok menoleh pada sumber suara, yang kini ikut memandang pada apa yang Jiseok lihat sedari tadi. “Kamu suka bebek?”</p>

<p>“Huh?”</p>

<p>“Biasanya aku bawa pakan bebek,” Jungsu mengerutkan dahi. “Tapi, hari ini aku nggak lewat rumah tetangga yang ada karung pakannya,”</p>

<p>Mata Jiseok membesar. “Kamu mencuri pakan juga?”</p>

<p>“Yah, apa maksudnya dengan &#39;juga&#39;? Aku nggak sesering itu mencuri,” Jungsu merengut. “Lagipula itu bukan mencuri, kalau aku kasih pakannya ke bebeknya sendiri, &#39;kan?”</p>

<p>Tapi Jiseok tidak mendengar sisanya. Angin dingin berembus lembut, membuatnya memejamkan mata. Angin di kota juga tidak seperti ini. Walau di sini cuacanya terik, udaranya tetap terasa segar.</p>

<p>Jungsu memasangkan topi jerami yang sedari tadi ia kenakan padanya. Jiseok juga mulai merasakan sepasang tangan yang menggenggam lengannya. “Ayo jalan lagi, kita mau pergi ke minimarket, &#39;kan?”</p>

<p>Jiseok tak menjawab. Ia masih hanyut dalam pikiran-pikirannya. Apakah dengan merasa seperti ini akan membuatnya hidup? Apakah dengan mencuri akan membuat jantungnya berdebar seperti manusia? Apakah terus berlari bersama Jungsu akan membuat hidupnya menjadi berwarna?</p>

<p>Jiseok membuka mata. Menemukan Jungsu yang menatapnya cemas.</p>

<p>“Kak.”</p>

<p>“Kamu nggak apa-apa?”</p>

<p>“Aku mau ciuman.”</p>

<p>Angin kembali berembus. Kini suara gemerisik plastik-plastik mengisi keheningan di antara mereka, diikuti raut wajah Jungsu yang terkejut bercampur bingung.</p>

<p>“Ciuman?” Jungsu tak tahu harus merespon apa. “Sama siapa? Kamu ngincer seseorang di kelas?”</p>

<p>“Ya, maksudnya,” Jiseok menelan ludah. Ia tidak percaya ia harus mengatakannya secara gamblang. “Maksudnya, ciuman sama kakak, lah.”</p>

<p>Kini Jungsu menganga lebar.</p>

<p>“Kamu beneran kena <em>heat stroke,</em> ya?”</p>

<p>Jiseok yang sudah kepalang malu akhirnya mencoba melewati Jungsu. “Udahlah, lupain aja. Kayaknya aku memang kekurangan asupan cairan. Ayo ke minimarket,”</p>

<p>Tapi Jungsu menghentikannya sebelum ia hampir terjatuh dari pematang sawah tempatnya berpijak. “Tunggu, tunggu. Tadi kamu ngomong serius?”</p>

<p>“Kapan sih, omonganku dianggap serius sama kakak?” Jiseok kini tampak terganggu. “Terserah. Mungkin emang karena lagi panas aja. Udah—”</p>

<p>“Aku tanya begitu karena aku anggap omongan kamu serius,” Jungsu kembali menghentikan geraknya. Ia masih menggenggam bahu Jiseok. “Kamu mau? Tapi kenapa?”</p>

<p>Jiseok menggigit bagian dalam pipinya dalam diam sebelum Jungsu kembali bertanya.</p>

<p>“Kenapa aku?”</p>

<p>Kenapa? Apa karena Jungsu adalah satu-satunya anak kelas yang dekat dengannya? Atau karena ia hanya penasaran, dan Jungsu adalah manusia yang paling tepat untuk mencobanya? Atau hanya karena ia Jungsu—seseorang yang selalu membuatnya nyaman, hingga ia tidak perlu khawatir bahwa ciuman itu akan mengubah segalanya?</p>

<p>Tapi yang keluar dari mulut Jiseok tentu saja hal yang lain.</p>

<p>“Karena kakak selalu terlihat hidup,” ucapnya lamat-lamat, “dan aku mau mencicipi rasa kehidupan itu.”</p>

<p>Jawaban absurd lainnya. Mungkin orang lain akan semakin bertanya-tanya, atau malah pergi meninggalkannya. Tapi Jungsu tidak. Ia hanya terdiam menatapnya, mencoba mengerti.</p>

<p>Jiseok-ah, apa yang ada dalam pikiranmu saat ini?</p>

<p>“Oke,” Jungsu menyanggupi, yang membuat Jiseok terkejut, walau sejak awal ia yang meminta duluan. “Tapi aku nggak tanggungjawab kalau rasanya nggak seperti yang kamu ekspektasikan.”</p>

<p>Tidak ada waktu untuk berubah pikiran. Bahkan tidak ada waktu untuk berdebar, karena Jungsu lantas mendekat dan sedikit mengangkat dagunya dengan sayang sebelum ia mulai menciumnya.</p>

<p>Perasaan hangat menjalar ke seluruh tubuh, seakan-akan ia sedang menenggak minuman beralkohol. Manis. Adiktif. Memabukkan. Dan Jungsu masih mengecup bibirnya, melumatnya hingga ia hampir kehabisan napas. Ia merasakan tangan Jungsu yang menahan punggungnya supaya ia tak terjatuh. Jiseok turut memeluk pinggangnya erat.</p>

<p>Mungkin cepat atau lambat ia akan terkena <em>heat stroke</em> betulan.</p>

<p>Pada akhirnya mereka saling melepas pagutan. Topi jerami yang Jiseok kenakan sudah tersampir di punggungnya, mungkin sudah terbang tertiup angin apabila tidak ada tali yang mengait pada lehernya.</p>

<p>Jungsu menatapnya lekat-lekat, lalu menangkup kedua pipinya.</p>

<p>“Kamu yakin nggak kena <em>heat stroke?</em> Wajahmu merah,”</p>

<p>Jiseok yang masih terengah hanya bisa menganga.</p>

<p>“Dasar gila,” sambil mengumpulkan napas, Jiseok mengumpat pelan. Ia merangkul Jungsu seadanya, memberatkan segenap titik tumpu tubuhnya di sana. “Rasanya aku hampir mau mati,”</p>

<p>Kenyataannya, ia jauh dari rasa mati. Ia tidak pernah merasa sehidup ini sebelumnya. Ada perasaan bergejolak dalam dirinya yang membuat jantungnya berdebar. Perasaan yang sama seperti perasaan setelah naik <em>roller coaster</em> atau menonton pertunjukkan kembang api.</p>

<p>Ia suka.
Lagi.
Ia mau lagi.</p>

<p>“Lagian kamu mintanya aneh-aneh ... kamu masih kuat jalan nggak?” Yang satunya bertanya dengan khawatir, membuyarkan lamunan Jiseok. Tak mendapat respon, Jungsu membungkukkan badannya. “Kalau nggak, sini aku gendong sampai minimarket,”</p>

<p>Yang masih mabuk kepayang ujungnya hanya menurut saja.</p>

<p>Dengan begitu, mereka kembali berjalan dengan Jiseok yang menempel di punggung Jungsu seperti seekor anak koala. Melewati sawah-sawah hijau dengan pandangan berbinar.</p>

<p>Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jungsu. “Nanti kamu ajarin aku nyolong pakan juga ya,”</p>

<p>“Yah!! Udah kubilang aku nggak mencuri!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://lunarlatte.writeas.com/kucing-kucing-di-ladang</guid>
      <pubDate>Fri, 11 Aug 2023 15:07:16 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>denyut kala layu</title>
      <link>https://lunarlatte.writeas.com/denyut-kala-layu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[xh&#xA;blockquote &#xA;(for jungseok) &#xA;part of a bigger universe that doesn&#39;t have a title yet.&#xA;&#xA;tw // suicidal thoughts, sensitive topics, implied/subtle description of child abuse.&#xA;/blockquote&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Kenapa ya, manusia itu nggak takut mati?&#34;&#xA;&#xA;Ucapan itu membuat Jiseok membuka mata, bertemu awan-awan yang melaju dengan malas. Diikuti sapuan angin yang membelai rambutnya terbang. Siang ini juga terlihat cerah; seakan-akan hari ini adalah hari lain yang damai dan tenang.&#xA;&#xA;Jiseok melirik pada sumber suara—yang ia kira sudah jatuh tertidur. Jungsu masih berbaring di sampingnya dengan mata terpejam, lengkap dengan sisa-sisa memar dan babak belur pada wajahnya; satu-satunya bukti bahwa realita yang mereka jalani adalah nyata adanya.&#xA;&#xA;&#34;Kata siapa?&#34; Jiseok akhirnya menjawab pelan. &#34;Semua orang pada dasarnya takut mati. Insting manusia yang paling dasar adalah bertahan hidup, jadi meskipun kamu mencoba untuk mengakhiri hidup, akan ada sepersekian detik dari dirimu yang tetap berusaha untuk menyelamatkan diri.&#34;&#xA;&#xA;Jungsu akhirnya ikut membuka mata, walau hanya separuh karena mata yang lainnya telah membengkak. Ia turut menatap langit biru dengan pandangan kosong.&#xA;&#xA;&#34;Tapi kenapa setiap mereka dilanda kesulitan, atau merasa terjebak, kata-kata mau mati itu lebih mudah keluar?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok masih menatapnya dalam diam. Sekilas, Jungsu terlihat seperti boneka rusak yang tergeletak di tengah jalan. Apabila dadanya tidak bergerak naik-turun karena bernapas, mungkin Jiseok akan mengira ia adalah salah satu darinya.&#xA;&#xA;&#34;Mau mati.&#34; Ucap Jungsu lirih, sekali. Membuyarkan lamunan Jiseok.&#xA;&#xA;&#34;Mati.&#34; Dua kali. Matanya tampak berkilau di bawah sinar matahari.&#xA;&#xA;Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, &#34;lebih baik mati. Padahal, kita nggak tahu kehidupan setelah mati itu seperti apa. Apa kita akan mendapat ketenangan abadi setelah berhenti hidup? Atau kita akan lahir kembali jadi sesuatu yang lain? Jadi sesuatu yang kita inginkan di kehidupan sebelumnya?&#34;&#xA;&#xA;Jungsu akhirnya melirik pada Jiseok yang masih berbaring di sampingnya, sibuk dengan pikirannya sendiri. Bagaimana caranya menjelaskan konsep ingin mati kepada orang yang berusaha keras untuk bertahan hidup? Walau hidup yang ia perjuangkan selama ini sangat menginginkannya untuk mati?&#xA;&#xA;&#34;Atau dibakar hidup-hidup karena telah menyalahi garis takdir yang diberikan Tuhan,&#34; sembur Jiseok seadanya, walau ia tahu saat itu bukan waktu yang tepat untuk bercanda, apalagi diiringi dengan topik sensitif. Tak mengharapkan respon berarti, Jiseok kembali melanjutkan, &#34;atau, mereka mau mengakhiri sedih dan sakit yang mereka rasa selama hidup.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi mati juga sakit,&#34; Jungsu mengernyit, tatapannya kembali mengarah pada langit-langit. &#xA;&#xA;&#34;Hidup ... akan ada titik di mana kamu akan mati rasa dan berhenti merasakan rasa-rasa sakit itu kalau sudah terbiasa.&#34;&#xA;&#xA;Tapi, bukan sakit seperti ini yang seharusnya membuatmu terbiasa, Jiseok membatin. Kak Jungsu tidak melakukan kesalahan apa pun. Tidak ada manusia yang pantas mendapat perlakuan seperti ini. Tidak seharusnya kamu mendapat perlakuan selayaknya samsak tinju yang digantung dalam gudang penuh debu.&#xA;&#xA;Jiseok sudah tak tahan. Ia mulai menggerakkan lengannya; jemarinya merangkak pada lantai kayu sebelum ia berhasil meraih kelingking Jungsu, memberi sentuhan dengan harapan bahwa ia akan segera sadar.&#xA;&#xA;&#34;Kak,&#34; panggilnya kemudian, tak melepas pandangan dari Jungsu sekali pun. &#34;Mau pergi ke rumah sakit?&#34;&#xA;&#xA;Jungsu kembali menoleh, kini menatapnya dengan bingung. &#xA;&#xA;&#34;Buat apa?&#34; tanyanya kemudian. Ia melepas kaitan kelingking itu, tampak sekuat tenaga mengumpulkan energi untuk mengangkat tangannya dan membelai rambut Jiseok, mencoba menenangkan. &#34;Aku nggak sakit, kok. Aku nggak akan mati karena ini,&#34;&#xA;&#xA;Jiseok menggeleng keras-keras. &#34;Kak, kamu betulan bisa mati karena ini. Kamu nggak mau bilang?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bilang apa? Ke siapa?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok menelan ludah. Ia pun tak dapat menjawabnya. Apa memang begitu seharusnya menjalani hidup sebagai anak manusia—merasa sendirian, tak berdaya, bahkan hanya untuk meminta pertolongan, tak ada yang mampu dipercaya?&#xA;&#xA;Sekali pun Jungsu adalah manusia yang paling manusia yang pernah Jiseok temui selama ini?&#xA;&#xA;Seperti dapat melihat kekalutan dalam raut Jiseok, Jungsu kini membelai pipinya. &#34;Udah, nggak apa-apa. Nggak kayak orang lain, aku masih belum mau mati,&#34; ia tersenyum tipis, lalu mencubit pipi itu dengan pelan. &#34;Aku akan tetap hidup meskipun orang-orang di sekitarku mau mati, atau mau aku mati. Biar aku yang berusaha menjadi lebih baik, supaya mereka nggak pernah berpikir seperti itu lagi.&#34;&#xA;&#xA;Jungsu menurunkan tangannya, lalu matanya kembali terpejam; setelah mengucapkan kata-kata yang membuat hati Jiseok kembali mencelos.&#xA;&#xA;&#34;Kuharap kamu juga berhenti berpikir untuk mengakhiri hidupmu, Jiseok-ah.&#34;&#xA;&#xA;Tidak. Seharusnya kamu berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri dulu, bukan orang lain ...]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:xh" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">xh</span></a>
<blockquote>(for jungseok)
part of a bigger universe that doesn&#39;t have a title yet.</p>

<p><strong>tw // suicidal thoughts, sensitive topics, implied/subtle description of child abuse.</strong></blockquote>
</p>

<hr/>

<p>“Kenapa ya, manusia itu nggak takut mati?”</p>

<p>Ucapan itu membuat Jiseok membuka mata, bertemu awan-awan yang melaju dengan malas. Diikuti sapuan angin yang membelai rambutnya terbang. Siang ini juga terlihat cerah; seakan-akan hari ini adalah hari lain yang damai dan tenang.</p>

<p>Jiseok melirik pada sumber suara—yang ia kira sudah jatuh tertidur. Jungsu masih berbaring di sampingnya dengan mata terpejam, lengkap dengan sisa-sisa memar dan babak belur pada wajahnya; satu-satunya bukti bahwa realita yang mereka jalani adalah nyata adanya.</p>

<p>“Kata siapa?” Jiseok akhirnya menjawab pelan. “Semua orang pada dasarnya takut mati. Insting manusia yang paling dasar adalah bertahan hidup, jadi meskipun kamu mencoba untuk mengakhiri hidup, akan ada sepersekian detik dari dirimu yang tetap berusaha untuk menyelamatkan diri.”</p>

<p>Jungsu akhirnya ikut membuka mata, walau hanya separuh karena mata yang lainnya telah membengkak. Ia turut menatap langit biru dengan pandangan kosong.</p>

<p>“Tapi kenapa setiap mereka dilanda kesulitan, atau merasa terjebak, kata-kata mau mati itu lebih mudah keluar?”</p>

<p>Jiseok masih menatapnya dalam diam. Sekilas, Jungsu terlihat seperti boneka rusak yang tergeletak di tengah jalan. Apabila dadanya tidak bergerak naik-turun karena bernapas, mungkin Jiseok akan mengira ia adalah salah satu darinya.</p>

<p><em>“Mau mati.”</em> Ucap Jungsu lirih, sekali. Membuyarkan lamunan Jiseok.</p>

<p><em>“Mati.”</em> Dua kali. Matanya tampak berkilau di bawah sinar matahari.</p>

<p>Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, <em>“lebih baik mati.</em> Padahal, kita nggak tahu kehidupan setelah mati itu seperti apa. Apa kita akan mendapat ketenangan abadi setelah berhenti hidup? Atau kita akan lahir kembali jadi sesuatu yang lain? Jadi sesuatu yang kita inginkan di kehidupan sebelumnya?”</p>

<p>Jungsu akhirnya melirik pada Jiseok yang masih berbaring di sampingnya, sibuk dengan pikirannya sendiri. Bagaimana caranya menjelaskan konsep <em>ingin mati</em> kepada orang yang berusaha keras untuk bertahan hidup? Walau hidup yang ia perjuangkan selama ini sangat menginginkannya untuk mati?</p>

<p>“Atau dibakar hidup-hidup karena telah menyalahi garis takdir yang diberikan Tuhan,” sembur Jiseok seadanya, walau ia tahu saat itu bukan waktu yang tepat untuk bercanda, apalagi diiringi dengan topik sensitif. Tak mengharapkan respon berarti, Jiseok kembali melanjutkan, “atau, mereka mau mengakhiri sedih dan sakit yang mereka rasa selama hidup.”</p>

<p>“Tapi mati juga sakit,” Jungsu mengernyit, tatapannya kembali mengarah pada langit-langit.</p>

<p>“Hidup ... akan ada titik di mana kamu akan mati rasa dan berhenti merasakan rasa-rasa sakit itu kalau sudah terbiasa.”</p>

<p><em>Tapi, bukan sakit seperti ini yang seharusnya membuatmu terbiasa,</em> Jiseok membatin. <em>Kak Jungsu tidak melakukan kesalahan apa pun. Tidak ada manusia yang pantas mendapat perlakuan seperti ini. Tidak seharusnya kamu mendapat perlakuan selayaknya samsak tinju yang digantung dalam gudang penuh debu.</em></p>

<p>Jiseok sudah tak tahan. Ia mulai menggerakkan lengannya; jemarinya merangkak pada lantai kayu sebelum ia berhasil meraih kelingking Jungsu, memberi sentuhan dengan harapan bahwa ia akan segera sadar.</p>

<p>“Kak,” panggilnya kemudian, tak melepas pandangan dari Jungsu sekali pun. “Mau pergi ke rumah sakit?”</p>

<p>Jungsu kembali menoleh, kini menatapnya dengan bingung.</p>

<p>“Buat apa?” tanyanya kemudian. Ia melepas kaitan kelingking itu, tampak sekuat tenaga mengumpulkan energi untuk mengangkat tangannya dan membelai rambut Jiseok, mencoba menenangkan. “Aku nggak sakit, kok. Aku nggak akan mati karena ini,”</p>

<p>Jiseok menggeleng keras-keras. “Kak, kamu betulan bisa mati karena ini. Kamu nggak mau bilang?”</p>

<p>“Bilang apa? Ke siapa?”</p>

<p>Jiseok menelan ludah. Ia pun tak dapat menjawabnya. Apa memang begitu seharusnya menjalani hidup sebagai anak manusia—merasa sendirian, tak berdaya, bahkan hanya untuk meminta pertolongan, tak ada yang mampu dipercaya?</p>

<p>Sekali pun Jungsu adalah manusia yang paling <em>manusia</em> yang pernah Jiseok temui selama ini?</p>

<p>Seperti dapat melihat kekalutan dalam raut Jiseok, Jungsu kini membelai pipinya. “Udah, nggak apa-apa. Nggak kayak orang lain, aku masih belum mau mati,” ia tersenyum tipis, lalu mencubit pipi itu dengan pelan. “Aku akan tetap hidup meskipun orang-orang di sekitarku mau mati, atau mau aku mati. Biar aku yang berusaha menjadi lebih baik, supaya mereka nggak pernah berpikir seperti itu lagi.”</p>

<p>Jungsu menurunkan tangannya, lalu matanya kembali terpejam; setelah mengucapkan kata-kata yang membuat hati Jiseok kembali mencelos.</p>

<p>“Kuharap kamu juga berhenti berpikir untuk mengakhiri hidupmu, Jiseok-ah.”</p>

<p><em>Tidak. Seharusnya kamu berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri dulu, bukan orang lain ...</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://lunarlatte.writeas.com/denyut-kala-layu</guid>
      <pubDate>Mon, 03 Jul 2023 07:09:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>tentang burung gereja</title>
      <link>https://lunarlatte.writeas.com/tentang-burung-gereja?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[xh&#xA;blockquote (for gayeon)&#xA;part of halcyon universe./blockquote&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;---&#xA;Sudah tiga kali Jiseok menemukan bangkai burung gereja di jalan.&#xA;&#xA;Yang petama ia temukan di halaman parkir depan apartemen. bentuknya masih utuh, hanya saja seekor burung tentunya tidak akan berbaring di tengah jalan begitu saja. Yang kedua ada di jalan setapak, yang untung hanya ia lihat selewat karena sedang terburu-buru. Kepalanya terlihat sudah setengah hancur dimakan waktu. Yang ketiga ada di tengah taman kampus; walau jasadnya bersembunyi di balik semak-semak tebal, Jiseok tak sengaja melihatnya.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Apa bakal ada pertanda buruk, ya?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok mengaduk ice latte di depannya dengan tidak berselera.&#xA;&#xA;Jooyeon mengernyit setelah ia selesai mendengar cerita Jiseok. &#34;Ngawur &#39;kan, omongannya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ih, serius. Udah berapa kali aku lihat burung mati hari ini,&#34; dahi Jiseok ikut berkerut, walau saat ini ia sedang tidak menatap Jooyeon.&#xA;&#xA;&#34;Mungkin cuma kebetulan. Nggak usah dipikirin,&#34; Jooyeon mencoba mengalihkan perhatian Jiseok yang sedari tadi menatap es-es meleleh dalam gelasnya. &#34;Kamu masih ada urusan? Kalau nggak, mau pulang?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok menghela napas, lalu akhirnya berdiri. &#34;Nggak ada, sih. Pulang yuk,&#34;&#xA;&#xA;Mungkin, pulang bersama Jooyeon akan menghindarinya dari hal-hal aneh.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Burung keempat ia temukan di depan minimarket dekat tempat tinggalnya.&#xA;&#xA;Waktu itu Jooyeon sedang berbelanja makanan ringan, dan Jiseok memilih untuk menunggu di luar. Saat ia menunggu di dekat pintu, saat itu pula ia menemukan seekor burung tergeletak tak jauh dari jarak sepatunya berpijak.&#xA;&#xA;Rupanya tak semengerikan burung kedua yang ia temui, namun warnanya telah menggelap karena basah kuyup. Matanya setengah membelalak, seakan ia mati karena kesakitan. Jiseok memandanginya selama beberapa saat sebelum seseorang menerbangkan sebuah tisu ke atas jasadnya.&#xA;&#xA;&#34;Jangan dilihatin lama-lama, nanti dia nggak bisa pergi dengan tenang.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok menoleh, menemukan Jooyeon yang menatapnya dengan tatapan sendu sebelum ia akhirnya mengangkat alis.&#xA;&#xA;Jiseok berkedip. &#34;Kamu udah beres?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Daritadi kamu kupanggil lho, tapi kamu nggak nengok-nengok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh ...&#34; Jiseok menelan ludah. &#34;Maaf.&#34;&#xA;&#xA;Hening. Jiseok menjadi tidak enak sendiri karena ia telah merusak suasana sejak ia bercerita tentang burung-burung itu pada Jooyeon. Namun saat Jiseok berencana untuk mengajaknya pergi, Jooyeon kembali berbicara.&#xA;&#xA;&#34;Mau dikubur?&#34;&#xA;&#xA;&#34; ... Huh?&#34;&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Setelah itu, mereka benar-benar menguburnya—dengan Jooyeon yang merampok setengah lusin tisu yang disediakan untuk minuman dingin di minimarket, ia membungkus jasad burung itu rapat-rapat dan membawanya ke taman bermain terdekat. Ia duduk di pinggir jalan setapak, yang disampingnya terhampar tanah gembur yang tertutupi semak-semak. Jooyeon menggali sebuah lubang dengan tangan kosong.&#xA;&#xA;Jiseok yang merasa semakin tidak enak mencoba untuk membantunya, tapi lengan Jooyeon telah menghalanginya duluan. &#34;Jangan, kotor,&#34; begitu ucapnya, yang membuat dahi Jiseok berkerut. &#34;Kamu cari bunga-bunga liar saja,&#34; tambahnya, dan Jiseok menurut saja.&#xA;&#xA;Saat ia kembali, Jooyeon sedang pergi mencuci tangan dan jasad burung itu sudah terkubur dalam gundukan tanah. Diam-diam Jiseok mengembuskan napas, meskipun sepasang mata burung itu kadang masih membayanginya. Ia menabur beberapa bunga berguguran yang telah ia pungut dari pohon-pohon di dekat taman.&#xA;&#xA;Jooyeon kembali dan ikut berjongkok di sampingnya.&#xA;&#xA;&#34;Udah?&#34; Jooyeon ikut menatap pada hamparan bunga. &#34;Kita berdoa dulu, biar dia dan teman-temannya bisa pergi dengan tenang.&#34;&#xA;&#xA;Maka Jooyeon memejamkan matanya dan mulai berdoa. Jiseok yang masih menatapnya dalam diam, pada akhirnya ikut merapal harap dalam hati.&#xA;&#xA;Selesai dan mereka berdiri. Tak sadar pandangan Jiseok masih melekat pada gundukan tanah itu, sampai Jooyeon kembali memecahkan suasana.&#xA;&#xA;&#34;Mau pulang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, ay—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Atau mau peluk?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34; Jiseok tertawa kecil. &#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Tapi yang lebih tinggi tidak menjawab. Ia hanya berjalan maju dan memeluknya. Membekukan tawa Jiseok yang tadi sempat lepas.&#xA;&#xA;&#34;Nggak apa-apa, pengen aja,&#34; gumamnya dari balik bahu Jiseok, &#34;aku juga punya anjing di rumah. Jadi, suka ikut sedih kalau lihat ada hewan mati.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh ...&#34; Jiseok ikut terdiam. Ia akhirnya membalas pelukannya dan menepuk-nepuk punggungnya ringan. &#34;Puk, puk.&#34;&#xA;&#xA;Tapi Jiseok pun tidak bisa berbohong bahwa pelukan Jooyeon membuat keresahannya perlahan meleleh. Dari balik bahunya, ia menatap langit-langit cerah yang sudah mulai menguning karena sore. Kontras dengan burung-burung mati yang ia lihat di tanah, burung-burung gereja itu masih hidup dan berterbangan di langit.&#xA;&#xA;Sesuatu yang terlupakan. Sebuah perasaan nyaman. Sebuah pemikiran positif bahwa semua akan baik-baik saja. Dengan Jooyeon, rasanya ia bisa kembali mengingatnya dengan mudah.&#xA;&#xA;Ia selalu merasa nyaman apabila bersama Jooyeon.&#xA;&#xA;Jiseok kembali melirik pada gundukan tanah itu, lalu memutuskan untuk menenggelamkan kepalanya lebih dalam. Barangkali geraknya terasa oleh Jooyeon, ia kemudian merasakan pelukannya mengerat. Setelah beberapa saat, akhirnya Jooyeon yang melepas pelukannya duluan.&#xA;&#xA;Jooyeon menghela napas, lalu tersenyum tipis. &#xA;&#xA;&#34;Pulang?&#34;&#xA;&#xA;Dalam hati Jiseok menjawab, ia sudah pulang ke rumah.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Aku tadi beli es krim buat kamu, lho. Tapi kayaknya sudah meleleh,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya udah, kita beli lagi. Sekalian minta maaf ke mbak kasir karena kamu udah ngabisin stok tisu mereka.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:xh" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">xh</span></a>
<blockquote> (for gayeon)
part of halcyon universe.</blockquote></p>



<hr/>

<p>Sudah tiga kali Jiseok menemukan bangkai burung gereja di jalan.</p>

<p>Yang petama ia temukan di halaman parkir depan apartemen. bentuknya masih utuh, hanya saja seekor burung tentunya tidak akan berbaring di tengah jalan begitu saja. Yang kedua ada di jalan setapak, yang untung hanya ia lihat selewat karena sedang terburu-buru. Kepalanya terlihat sudah setengah hancur dimakan waktu. Yang ketiga ada di tengah taman kampus; walau jasadnya bersembunyi di balik semak-semak tebal, Jiseok tak sengaja melihatnya.</p>

<p>.</p>

<p>“Apa bakal ada pertanda buruk, ya?”</p>

<p>Jiseok mengaduk ice latte di depannya dengan tidak berselera.</p>

<p>Jooyeon mengernyit setelah ia selesai mendengar cerita Jiseok. “Ngawur &#39;kan, omongannya.”</p>

<p>“Ih, serius. Udah berapa kali aku lihat burung mati hari ini,” dahi Jiseok ikut berkerut, walau saat ini ia sedang tidak menatap Jooyeon.</p>

<p>“Mungkin cuma kebetulan. Nggak usah dipikirin,” Jooyeon mencoba mengalihkan perhatian Jiseok yang sedari tadi menatap es-es meleleh dalam gelasnya. “Kamu masih ada urusan? Kalau nggak, mau pulang?”</p>

<p>Jiseok menghela napas, lalu akhirnya berdiri. “Nggak ada, sih. Pulang yuk,”</p>

<p>Mungkin, pulang bersama Jooyeon akan menghindarinya dari hal-hal aneh.</p>

<p>.</p>

<p>Burung keempat ia temukan di depan minimarket dekat tempat tinggalnya.</p>

<p>Waktu itu Jooyeon sedang berbelanja makanan ringan, dan Jiseok memilih untuk menunggu di luar. Saat ia menunggu di dekat pintu, saat itu pula ia menemukan seekor burung tergeletak tak jauh dari jarak sepatunya berpijak.</p>

<p>Rupanya tak semengerikan burung kedua yang ia temui, namun warnanya telah menggelap karena basah kuyup. Matanya setengah membelalak, seakan ia mati karena kesakitan. Jiseok memandanginya selama beberapa saat sebelum seseorang menerbangkan sebuah tisu ke atas jasadnya.</p>

<p>“Jangan dilihatin lama-lama, nanti dia nggak bisa pergi dengan tenang.”</p>

<p>Jiseok menoleh, menemukan Jooyeon yang menatapnya dengan tatapan sendu sebelum ia akhirnya mengangkat alis.</p>

<p>Jiseok berkedip. “Kamu udah beres?”</p>

<p>“Daritadi kamu kupanggil lho, tapi kamu nggak nengok-nengok.”</p>

<p>“Oh ...” Jiseok menelan ludah. “Maaf.”</p>

<p>Hening. Jiseok menjadi tidak enak sendiri karena ia telah merusak suasana sejak ia bercerita tentang burung-burung itu pada Jooyeon. Namun saat Jiseok berencana untuk mengajaknya pergi, Jooyeon kembali berbicara.</p>

<p>“Mau dikubur?”</p>

<p>” ... Huh?”</p>

<p>.</p>

<p>Setelah itu, mereka benar-benar menguburnya—dengan Jooyeon yang merampok setengah lusin tisu yang disediakan untuk minuman dingin di minimarket, ia membungkus jasad burung itu rapat-rapat dan membawanya ke taman bermain terdekat. Ia duduk di pinggir jalan setapak, yang disampingnya terhampar tanah gembur yang tertutupi semak-semak. Jooyeon menggali sebuah lubang dengan tangan kosong.</p>

<p>Jiseok yang merasa semakin tidak enak mencoba untuk membantunya, tapi lengan Jooyeon telah menghalanginya duluan. “Jangan, kotor,” begitu ucapnya, yang membuat dahi Jiseok berkerut. “Kamu cari bunga-bunga liar saja,” tambahnya, dan Jiseok menurut saja.</p>

<p>Saat ia kembali, Jooyeon sedang pergi mencuci tangan dan jasad burung itu sudah terkubur dalam gundukan tanah. Diam-diam Jiseok mengembuskan napas, meskipun sepasang mata burung itu kadang masih membayanginya. Ia menabur beberapa bunga berguguran yang telah ia pungut dari pohon-pohon di dekat taman.</p>

<p>Jooyeon kembali dan ikut berjongkok di sampingnya.</p>

<p>“Udah?” Jooyeon ikut menatap pada hamparan bunga. “Kita berdoa dulu, biar dia dan teman-temannya bisa pergi dengan tenang.”</p>

<p>Maka Jooyeon memejamkan matanya dan mulai berdoa. Jiseok yang masih menatapnya dalam diam, pada akhirnya ikut merapal harap dalam hati.</p>

<p>Selesai dan mereka berdiri. Tak sadar pandangan Jiseok masih melekat pada gundukan tanah itu, sampai Jooyeon kembali memecahkan suasana.</p>

<p>“Mau pulang?”</p>

<p>“Oh, ay—”</p>

<p>“Atau mau peluk?”</p>

<p>“Hah?” Jiseok tertawa kecil. “Kenapa?”</p>

<p>Tapi yang lebih tinggi tidak menjawab. Ia hanya berjalan maju dan memeluknya. Membekukan tawa Jiseok yang tadi sempat lepas.</p>

<p>“Nggak apa-apa, pengen aja,” gumamnya dari balik bahu Jiseok, “aku juga punya anjing di rumah. Jadi, suka ikut sedih kalau lihat ada hewan mati.”</p>

<p>“Oh ...” Jiseok ikut terdiam. Ia akhirnya membalas pelukannya dan menepuk-nepuk punggungnya ringan. “Puk, puk.”</p>

<p>Tapi Jiseok pun tidak bisa berbohong bahwa pelukan Jooyeon membuat keresahannya perlahan meleleh. Dari balik bahunya, ia menatap langit-langit cerah yang sudah mulai menguning karena sore. Kontras dengan burung-burung mati yang ia lihat di tanah, burung-burung gereja itu masih hidup dan berterbangan di langit.</p>

<p>Sesuatu yang terlupakan. Sebuah perasaan nyaman. Sebuah pemikiran positif bahwa semua akan baik-baik saja. Dengan Jooyeon, rasanya ia bisa kembali mengingatnya dengan mudah.</p>

<p>Ia selalu merasa nyaman apabila bersama Jooyeon.</p>

<p>Jiseok kembali melirik pada gundukan tanah itu, lalu memutuskan untuk menenggelamkan kepalanya lebih dalam. Barangkali geraknya terasa oleh Jooyeon, ia kemudian merasakan pelukannya mengerat. Setelah beberapa saat, akhirnya Jooyeon yang melepas pelukannya duluan.</p>

<p>Jooyeon menghela napas, lalu tersenyum tipis.</p>

<p>“Pulang?”</p>

<p>Dalam hati Jiseok menjawab, ia sudah pulang ke rumah.</p>

<p>.</p>

<p>“Aku tadi beli es krim buat kamu, lho. Tapi kayaknya sudah meleleh,”</p>

<p>“Ya udah, kita beli lagi. Sekalian minta maaf ke mbak kasir karena kamu udah ngabisin stok tisu mereka.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://lunarlatte.writeas.com/tentang-burung-gereja</guid>
      <pubDate>Mon, 20 Feb 2023 13:11:50 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>matahari terbenam</title>
      <link>https://lunarlatte.writeas.com/matahari-terbenam?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[#xh #songfiction&#xA;---&#xA;blockquote continuation of a href=&#34;https://write.as/lunarlatte/warna-yang-hilang-pada-matahari&#34;that colors au/a (or an alternate ending)&#xA;!--more--&#xA;&#xA;772 words, for gunseok; tags// ambiguous ending, mourning&#xA;&#xA;i don&#39;t feel comfortable posting this on any (kind of public) platform so i did it here for the sake of my enjoyment alias dibuang sayang. &#xA;&#xA;this is a songfiction based on a href=&#34;https://www.youtube.com/watch?v=2OPsHmrWQ7I&#34;your ocean - hoppipolla./a&#xA;&#xA;part II dari playlist: a href=&#34;https://open.spotify.com/playlist/63ITMOF666Hy8Xmtp0UokA?si=r0yNpRVDTA6cDyRWgwoA0w&amp;utmsource=copy-link&amp;nd=1&#34;[ 𔓘 ]/a&#xA;&#xA;please keep in mind that i don&#39;t ship them seriously in their real life. any persons involved here are written for fictional purposes only.&#xA;/blockquote&#xA;---&#xA;&#xA;Gunil sadar bahwa ia sedang bermimpi.&#xA;&#xA;Matanya terpejam rapat; pandangannya hitam walaupun ada semburat cahaya membayang dari balik kelopak matanya. Kontras dengan cuacanya yang hangat, sepasang kakinya bertabrakan dengan air dingin yang menelan mata kaki; sedang butir-butir pasir di bawahnya terasa menyusup di sela-sela jari. Angin laut berembus pelan, membuat helai rambutnya terasa lengket. &#xA;&#xA;Ia pasti sedang bermimpi. Karena apabila tebakannya benar, ia takkan berani menginjakkan kakinya di sudut hangat itu kala ia terbangun. Ia bahkan tak berani menatap pada lapangan belakang rumahnya, atau menggenggam gitar kesayangannya lama-lama, atau bahkan mencium aroma samgyetang dari kejauhan.&#xA;&#xA;Ia takut akan hal-hal familiar yang selalu menghantuinya pada rasa sakit.&#xA;&#xA;Panas pada matahari terasa kian menyengat di kulit. Suara gemuruh ombak bergulung di telinga, memperjelas kenyataan bahwa barangkali tebakannya memang benar. Entah berapa lama Gunil berdiri di sana hingga ia merasakan kehadiran sosok manusia selain dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Kak Gunil.&#34;&#xA;&#xA;Suaranya halus, seperti bisikan yang terbawa oleh angin. Gunil ingin memercayainya ― bahwa itu hanya halusinasi belaka; karena ia hafal betul tabiat dari pemilik suara tersebut. Tentang bagaimana ia tidak pernah berbicara selembut itu sebelumnya.&#xA;&#xA;Karena presensinya selalu penuh akan ledakan emosi, yang meletup-letup seperti kembang api di malam hari. Mendatangkan bahagia. Menerangi gelap. Cahaya, cahaya, cahaya. &#xA;&#xA;Mau mengelak seperti apa pun, Jiseok tetap menjadi bagian dari dirinya yang rumpang.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Namun suara itu mengembalikan raganya dari lamunan; yang tidak ia sadari sedang meleleh dalam air mata. Apa itu air mata kerinduan, atau rasa sayang, atau rasa bersalah, ia tidak yakin; karena bahkan di dunia nyata, ia tidak pernah menangis. Tidak ada sedih. Tidak ada lara. Meskipun rasanya kosong; yang membuat Gunil hanya bisa melamun berhari-hari, hingga roti-rotinya hangus; atau ketika ia lupa mengurusi hewan-hewannya sampai Jungsu yang harus turun tangan selama seminggu.&#xA;&#xA;Ada kosong. Tapi tidak ada sedih.&#xA;&#xA;Gunil terisak. Merasakan dadanya sesak. Sebuah jemari menyapukan permukaannya pada pipi yang basah; mencoba menghentikan meskipun percuma. Seakan sadar dengan hal itu, ia berakhir dengan menggenggam kedua tangan Gunil yang gemetar.&#xA;&#xA;Masih genggaman yang sama. Ujung jemarinya kasar, kulitnya menebal karena terlalu sering memainkan gitar. Telapaknya hangat.&#xA;&#xA;&#34;Kakak nggak mau lihat aku?&#34;&#xA;&#xA;Gunil menundukkan kepala, semakin menutup matanya rapat-rapat, lalu menggeleng keras-keras ― akhirnya memberikan sebuah respon yang berarti. Ia mengeratkan genggamannya, berharap gestur itu cukup untuk menghantarkan sebuah permintaan maaf yang tersirat, karena suaranya tercekat.&#xA;&#xA;&#34;Ya udah. Nggak apa-apa,&#34; ibu jarinya membelai jemari milik Gunil.&#xA;&#xA;Entah ia menangis untuk berapa lama. Tapi sosok di depannya itu masih dengan sabar menunggunya, tidak berkata apa-apa, menyerap emosi Gunil yang tiba-tiba datang meluap-luap melalui genggamannya yang tak kunjung lepas. &#xA;&#xA;&#34;Kayaknya aku gila ...&#34; Gunil berbisik, setelah dirinya cukup tenang dan percaya pada dirinya sendiri untuk berbicara.&#xA;&#xA;&#34;Nggak. Kakak nggak gila,&#34; suara itu menyahut. &#34;Itu namanya perasaan berduka.&#34;&#xA;&#xA;Angin yang lewat semakin terasa dingin; rasanya matahari mulai berjalan menuju ufuk barat. Mungkin kulit-kulit jari kakinya telah berkerut karena ia terlalu lama berendan dalam air, namun Gunil tak peduli. Seluruh tubuhnya terasa kebas.&#xA;&#xA;&#34;Kak Gunil. Boleh aku peluk?&#34;&#xA;&#xA;Gunil menelan ludah sebelum menjawab. &#34;Boleh ...&#34;&#xA;&#xA;Maka dalam kegelapan yang tak tentu arah, Gunil merasakan sosok itu merengkuh tubuhnya; hangat. Wanginya masih sama dengan terakhir kali Gunil ingat ― ketika ia baru selesai mandi menggunakan sabun dari penginapannya. Bahunya masih lebar seperti kala ia membelakangi Gunil, memetik gitar sembari menyenandungkan lagu untuk anak-anak. &#xA;&#xA;Ia terasa hidup.&#xA;&#xA;Meskipun ia mengerti ini bukan Jiseok. Sosok ini hanya manifestasi dari bayangannya akan seluruh penyesalan yang ia pendam.&#xA;&#xA;&#34;Maaf ...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan. Aku yang minta maaf,&#34; sosok itu balik mengusap-usap punggungnya. &#34;Kak Gunil ...&#34;&#xA;&#xA;Pada dimensi lain di mana raganya masih dapat hidup bergandengan, Gunil akan memeluknya erat-erat hingga ia lupa akan dunia. Agar ia tidak pernah sekali pun merasa sendirian. Agar ia dapat bersembunyi dalam dekapannya lama-lama, hingga salju-salju pada musim dingin meleleh dan menumbuhkan bunga; hingga ia siap untuk kembali menatap dunia.&#xA;&#xA;Namun dalam mimpinya, justru ia yang mendapat rasa nyaman.&#xA;&#xA;&#34;Maaf. Maafkan aku,&#34; Gunil berbisik, kembali terisak. &#34;Jiseok-ah. Maafkan aku.&#34;&#xA;&#xA;&#34;There&#39;s nothing to be sorry for ...&#34;_ balasnya ikut berbisik, namun jawaban itu membuat isakan Gunil semakin kencang. &#34;Kak ...&#34;&#xA;&#xA;&#34;... Kak Gunil, sekarang langitnya sudah mulai gelap,&#34;  ia kemudian bercerita. Mencoba menenangkannya. &#34;Kakak tahu warnanya? Kalau nggak, biar aku kasih tahu apa aja. Biar aku ceritakan panjang-lebar supaya kakak bisa lihat dari mata aku,&#xA;&#xA;&#34;Soalnya, aku nggak sendirian, &#39;kan? Ada kakak. Jadi aku mau lihat sama-sama. Tapi, kalau kakak nggak mau lihat, nggak apa-apa. Aku masih di sini dan akan selalu ada di sini. Kakak nggak sendirian,&#34; ia menepuk-nepuk punggungnya pelan. &#34;Kakak nggak sendirian. Aku bakal di sini sampai kakak baik-baik aja. Nanti kita jalan-jalan di pantai kayak waktu itu,&#xA;&#xA;&#34;Nanti kalau kakak udah mau buka mata, kita lihat matahari terbenam sama-sama, ya?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:xh" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">xh</span></a> <a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:songfiction" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">songfiction</span></a></p>

<hr/>

<p><blockquote> continuation of <a href="https://write.as/lunarlatte/warna-yang-hilang-pada-matahari" rel="nofollow">that colors au</a> (or an alternate ending)
</p>

<p>772 words, for gunseok; tags// ambiguous ending, mourning</p>

<p>i don&#39;t feel comfortable posting this on any (kind of public) platform so i did it here for the sake of my enjoyment alias dibuang sayang.</p>

<p>this is a songfiction based on <a href="https://www.youtube.com/watch?v=2OPsHmrWQ7I" rel="nofollow">your ocean – hoppipolla.</a></p>

<p>part II dari playlist: <a href="https://open.spotify.com/playlist/63ITMOF666Hy8Xmtp0UokA?si=r0yNpRVDTA6cDyRWgwoA0w&amp;utm_source=copy-link&amp;nd=1" rel="nofollow">[ 𔓘 ]</a></p>

<p>please keep in mind that i don&#39;t ship them seriously in their real life. any persons involved here are written for fictional purposes only.
</blockquote></p>

<hr/>

<p>Gunil sadar bahwa ia sedang bermimpi.</p>

<p>Matanya terpejam rapat; pandangannya hitam walaupun ada semburat cahaya membayang dari balik kelopak matanya. Kontras dengan cuacanya yang hangat, sepasang kakinya bertabrakan dengan air dingin yang menelan mata kaki; sedang butir-butir pasir di bawahnya terasa menyusup di sela-sela jari. Angin laut berembus pelan, membuat helai rambutnya terasa lengket. </p>

<p>Ia pasti sedang bermimpi. Karena apabila tebakannya benar, ia takkan berani menginjakkan kakinya di sudut hangat itu kala ia terbangun. Ia bahkan tak berani menatap pada lapangan belakang rumahnya, atau menggenggam gitar kesayangannya lama-lama, atau bahkan mencium aroma samgyetang dari kejauhan.</p>

<p>Ia takut akan hal-hal familiar yang selalu menghantuinya pada rasa sakit.</p>

<p>Panas pada matahari terasa kian menyengat di kulit. Suara gemuruh ombak bergulung di telinga, memperjelas kenyataan bahwa barangkali tebakannya memang benar. Entah berapa lama Gunil berdiri di sana hingga ia merasakan kehadiran sosok manusia selain dirinya.</p>

<p>“Kak Gunil.”</p>

<p>Suaranya halus, seperti bisikan yang terbawa oleh angin. Gunil ingin memercayainya ― bahwa itu hanya halusinasi belaka; karena ia hafal betul tabiat dari pemilik suara tersebut. Tentang bagaimana ia tidak pernah berbicara selembut itu sebelumnya.</p>

<p>Karena presensinya selalu penuh akan ledakan emosi, yang meletup-letup seperti kembang api di malam hari. Mendatangkan bahagia. Menerangi gelap. Cahaya, cahaya, cahaya. </p>

<p>Mau mengelak seperti apa pun, Jiseok tetap menjadi bagian dari dirinya yang rumpang.</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>Namun suara itu mengembalikan raganya dari lamunan; yang tidak ia sadari sedang meleleh dalam air mata. Apa itu air mata kerinduan, atau rasa sayang, atau rasa bersalah, ia tidak yakin; karena bahkan di dunia nyata, ia tidak pernah menangis. Tidak ada sedih. Tidak ada lara. Meskipun rasanya kosong; yang membuat Gunil hanya bisa melamun berhari-hari, hingga roti-rotinya hangus; atau ketika ia lupa mengurusi hewan-hewannya sampai Jungsu yang harus turun tangan selama seminggu.</p>

<p>Ada kosong. Tapi tidak ada sedih.</p>

<p>Gunil terisak. Merasakan dadanya sesak. Sebuah jemari menyapukan permukaannya pada pipi yang basah; mencoba menghentikan meskipun percuma. Seakan sadar dengan hal itu, ia berakhir dengan menggenggam kedua tangan Gunil yang gemetar.</p>

<p>Masih genggaman yang sama. Ujung jemarinya kasar, kulitnya menebal karena terlalu sering memainkan gitar. Telapaknya hangat.</p>

<p>“Kakak nggak mau lihat aku?”</p>

<p>Gunil menundukkan kepala, semakin menutup matanya rapat-rapat, lalu menggeleng keras-keras ― akhirnya memberikan sebuah respon yang berarti. Ia mengeratkan genggamannya, berharap gestur itu cukup untuk menghantarkan sebuah permintaan maaf yang tersirat, karena suaranya tercekat.</p>

<p>“Ya udah. Nggak apa-apa,” ibu jarinya membelai jemari milik Gunil.</p>

<p>Entah ia menangis untuk berapa lama. Tapi sosok di depannya itu masih dengan sabar menunggunya, tidak berkata apa-apa, menyerap emosi Gunil yang tiba-tiba datang meluap-luap melalui genggamannya yang tak kunjung lepas. </p>

<p>“Kayaknya aku gila ...” Gunil berbisik, setelah dirinya cukup tenang dan percaya pada dirinya sendiri untuk berbicara.</p>

<p>“Nggak. Kakak nggak gila,” suara itu menyahut. “Itu namanya perasaan berduka.”</p>

<p>Angin yang lewat semakin terasa dingin; rasanya matahari mulai berjalan menuju ufuk barat. Mungkin kulit-kulit jari kakinya telah berkerut karena ia terlalu lama berendan dalam air, namun Gunil tak peduli. Seluruh tubuhnya terasa kebas.</p>

<p>“Kak Gunil. Boleh aku peluk?”</p>

<p>Gunil menelan ludah sebelum menjawab. “Boleh ...”</p>

<p>Maka dalam kegelapan yang tak tentu arah, Gunil merasakan sosok itu merengkuh tubuhnya; hangat. Wanginya masih sama dengan terakhir kali Gunil ingat ― ketika ia baru selesai mandi menggunakan sabun dari penginapannya. Bahunya masih lebar seperti kala ia membelakangi Gunil, memetik gitar sembari menyenandungkan lagu untuk anak-anak. </p>

<p>Ia terasa hidup.</p>

<p>Meskipun ia mengerti ini bukan Jiseok. Sosok ini hanya manifestasi dari bayangannya akan seluruh penyesalan yang ia pendam.</p>

<p>“Maaf ...”</p>

<p>“Jangan. Aku yang minta maaf,” sosok itu balik mengusap-usap punggungnya. “Kak Gunil ...”</p>

<p>Pada dimensi lain di mana raganya masih dapat hidup bergandengan, Gunil akan memeluknya erat-erat hingga ia lupa akan dunia. Agar ia tidak pernah sekali pun merasa sendirian. Agar ia dapat bersembunyi dalam dekapannya lama-lama, hingga salju-salju pada musim dingin meleleh dan menumbuhkan bunga; hingga ia siap untuk kembali menatap dunia.</p>

<p>Namun dalam mimpinya, justru ia yang mendapat rasa nyaman.</p>

<p>“Maaf. Maafkan aku,” Gunil berbisik, kembali terisak. “Jiseok-ah. Maafkan aku.”</p>

<p><em>“There&#39;s nothing to be sorry for ...”</em> balasnya ikut berbisik, namun jawaban itu membuat isakan Gunil semakin kencang. “Kak ...”</p>

<p>”... Kak Gunil, sekarang langitnya sudah mulai gelap,“  ia kemudian bercerita. Mencoba menenangkannya. “Kakak tahu warnanya? Kalau nggak, biar aku kasih tahu apa aja. Biar aku ceritakan panjang-lebar supaya kakak bisa lihat dari mata aku,</p>

<p>“Soalnya, aku nggak sendirian, &#39;kan? Ada kakak. Jadi aku mau lihat sama-sama. Tapi, kalau kakak nggak mau lihat, nggak apa-apa. Aku masih di sini dan akan selalu ada di sini. Kakak nggak sendirian,” ia menepuk-nepuk punggungnya pelan. “Kakak nggak sendirian. Aku bakal di sini sampai kakak baik-baik aja. Nanti kita jalan-jalan di pantai kayak waktu itu,</p>

<p>“Nanti kalau kakak udah mau buka mata, kita lihat matahari terbenam sama-sama, ya?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://lunarlatte.writeas.com/matahari-terbenam</guid>
      <pubDate>Wed, 20 Jul 2022 05:08:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>warna (yang hilang) pada matahari</title>
      <link>https://lunarlatte.writeas.com/warna-yang-hilang-pada-matahari?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[#xh #heroesficfest #songfiction&#xA;---&#xA;blockquote written for @HEROESFICFEST&#39;s first event.&#xA;&#xA;for gunseok (gunil x jiseok), slight gunsu.&#xA;&#xA;tags: angst, slice of life, tw // major character death, tragedy, implied &amp; mentioned suicide.&#xA;&#xA;this is a songfiction based on a href=&#34;https://www.youtube.com/watch?v=9s28dJXxssA&#34;colors - day6./a&#xA;/blockquote&#xA;---&#xA;!--more--&#xA;[ 1., Merah ]&#xA;Gunil pernah berpikir bahwa ia mungkin terlalu nyaman hidup dalam dunia yang dibingkai warna hitam dan putih. Rutinitas hidupnya semonoton kertas-kertas koran yang biasa ia terima setiap pagi; bangun tidur, bersiap-siap dan sarapan, lalu memulai hari dengan memanggang roti dan mengurusi sapi. Jika beruntung, akan ada wisatawan buta arah yang tiba-tiba datang dan memesan kamar pada penginapan sederhana yang ia rintis bersama Jungsu.&#xA;&#xA;Maka dari itu, ia baru tahu bahwa sepertinya matahari telah berubah warna menjadi selembut lilac seperti kebun bunga milik tetangga.&#xA;&#xA;&#34;Kak Gunil.&#34;&#xA;&#xA;Sosok berambut ungu pudar itu menyambut Gunil dengan senyum lebarnya dari balik kaca penginapan, matanya berkilau karena cahaya matahari pagi. Gunil yang sedang mengelap kaca terkejut bukan main ― ia pikir, tempat tinggalnya kembali didatangi pemabuk aneh yang tak tahu jalan pulang. Tapi ketika pria itu memanggil namanya, alis Gunil berkerut. &#xA;&#xA;Siapa? pikirnya, dan sebelum pikirannya menjalar ke mana-mana, pria itu memaklumi kebingungan jiwa Gunil yang masih tampak setengah mengantuk.&#xA;&#xA;&#34;Kak Gunil! ini Jiseok. Kita pernah main band bareng, kamu nggak ingat~?&#34;&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Gunil kembali mengecek sebaris nama yang tak asing dari layar komputernya sebelum mengambil kunci kamar. Pria yang ia temui pagi tadi masih berkeliling memandangi perabot antik, foto-foto pemandangan dan sofa-sofa bersarung nyentrik yang diberikan oleh Jooyeon dua tahun lalu.&#xA;&#xA;Kwak Jiseok, begitu nama yang terdaftar dalam database penginapan mungilnya hari ini. Ia ingat sekarang. Ia mengenal Jiseok melalui Jooyeon saat SMA, dan sejak awal, dia memang sama anehnya dengan teman karibnya itu. Mungkin karena itu mereka berteman baik, Gunil membatin saat itu, dan selain keanehannya yang nyata, ia tetaplah adik kelas yang ramah dengan permainan gitar yang apik, sehingga Gunil tidak masalah dengan hal itu. Masalahnya, sekarang ia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat Jooyeon tidak ada.&#xA;&#xA;Jiseok tiba-tiba datang mengunjungi penginapan-sekaligus-kediamannya itu pada pagi-pagi buta. Ia tak membawa tas apa pun, dan saat ditanya, ia bilang tasnya tertinggal di bus. Jiseok cepat-cepat menambahi bahwa jangan khawatir, karena dompetnya masih ada bersamanya. Gunil menghela napas dan hendak berkata bahwa bukan itu maksudnya, tapi karena ia terlalu lelah dengan sosok yang mengejutkannya pagi ini, pada akhirnya ia tidak berkata apa-apa.&#xA;&#xA;Gunil menaruh kunci kamar di atas lipatan handuk dan baju bersih yang ia tumpuk. &#34;Ini, pakai bajuku saja dulu kalau begitu,&#34; Gunil menyodorkan barang-barangnya pada Jiseok. &#34;Seminggu itu bukan waktu yang sebentar. Kenapa kau tidak pulang saja?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok yang sedari tadi melamun di depan salah satu lukisan menjadi terkejut sendiri. Responnya yang tiba-tiba bergidik membuat Gunil ikut  mengangkat alis.&#xA;&#xA;&#34;Ah ... oh, iya.&#34; Jiseok kemudian menerima pemberian Gunil, menatap lipatan kain itu dengan tatapan bingung. &#34;Ini, nggak apa-apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya memang kau mau memakai pakaian yang sama untuk seminggu penuh?&#34; Gunil kembali menghela napas, entah untuk yang keberapa kali. &#34;Pakai saja. Tidak perlu membayar penginapan juga, anggap saja kau main ke rumah teman lama. Lagian kau ini aneh sekali, padahal rumahmu di kota sebelah, kau bisa saja langsung pulang.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok melempar sebuah senyuman jahil. &#34;Hehehe, kan aku ke sini mau ketemu kak Gunil,&#34; ia kemudian mendekap baju itu dalam pelukannya. &#34;Kebetulan banget, sekarang jadi bisa coba pakai baju ayang.&#34;&#xA;&#xA;Tentu saja dalamnya masih Jiseok yang sama, Gunil membatin. &#34;Jangan aneh-aneh. Kamarmu ada di atas, di kanan lorong,&#34; Gunil kembali bersiap-siap mengenakan celemeknya. &#34;Kalau sudah beres-beres, kau bisa turun untuk sarapan. Di sini hanya ada roti, tapi kalau kau mau yang lain, mungkin bisa aku buatkan nasi kepal dan sup rumput laut.&#34;&#xA;&#xA;Sebuah senyum cerah kembali terbit pada wajah Jiseok. &#34;Siap, Kapten!&#34;&#xA;---&#xA;[ 2., Jingga ]&#xA;Karena terbiasa hidup dalam abu-abu, kehadiran Jiseok bak setitik warna lembayung yang merubah satu kolam susu menjadi tampak seperti pantulan langit senja.&#xA;&#xA;Setelah lulus sekolah, Gunil pindah ke luar kota dan mendirikan penginapan sekaligus bakery pada desa tempatnya tinggal. Itu cita-cita yang telah ia impikan selepas lulus; tinggal di daerah yang minim huru-hara berita, hidup dengan tenang hingga usia tua. Pun ia yang pernah mendalami dunia musik, tidak pernah bermimpi untuk menjadikannya sebagai salah satu jalan hidupnya.&#xA;&#xA;Bagai kutub polar yang berlawanan, kehidupan Jiseok tak lepas dari hingar-bingar popularitas. Hal yang menjadi Gunil ketahui, tentang dunia luar yang kini jarang ia jamah; bahwa Jiseok melanjutkan karirnya sebagai seorang musisi, hidup seperti menaiki roller-coaster yang bisa bertabrakan kapan saja. Barangkali itu dapat menjelaskan penampilan nyentriknya hingga Gunil tidak mengenalinya pada pandangan pertama―rambut berwarna pucat dan wajah yang teramat rupawan, meskipun sejak dulu Jiseok memang sudah terkenal karena rupanya yang manis. Barangkali itu pula yang menjelaskan sifatnya―sesekali meledak-ledak, penuh ambisi, tertawa riang seakan energinya tidak pernah habis. Ia bahkan mampu membuat Jungsu terpingkal-pingkal, yang mana biasanya pria itu sangat serius saat jam penginapan sedang beroperasi.&#xA;&#xA;Jiseok membuat tempat penginapannya menjadi sedikit lebih hangat.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Ayo nanti kita reuni,&#34; ucap Jungsu pada obrolan jam makan siang. &#34;Aku sering bolak-balik ke kota, nanti aku bisa mengabari Jooyeon kalau jadi.&#34;&#xA;&#xA;Jungsu mengoleskan selai stroberi pada rotinya, dan perbuatan itu nampaknya menjadi magnet bagi Jiseok untuk terus mengamatinya. Tak kunjung mendengar jawaban, Jungsu menoleh dan menemukan tatapan Jiseok yang masih lengket pada corengan merah yang tertata di atas roti.&#xA;&#xA;Jungsu refleks menyodorkan rotinya. &#34;Mau?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh ... ah, nggak, makasih. Aku juga punya di piring,&#34; Jiseok mengerutkan hidungnya. &#34;Oh, Jooyeon? Kak Jungsu sering ketemu dia?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, aku sering mengantarkan pastry ke cafe tempat dia biasa manggung,&#34; Jungsu kembali meletakkan roti di piringnya. &#34;Kalau beruntung, bisa ketemu Seungmin dan Hyeongjun juga. Mereka kerja di toko buku, kamu tahu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Toko buku? Serius?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, Jiseok, kamu tinggal di kota tapi ketidaktahuannya 11-12 dengan kak Gunil,&#34; Jungsu menoleh pada Gunil yang masih tertegun mendengar celotehannya. &#34;Kak Gunil, kalau tidak sibuk mengurusi toko roti, paling-paling pusing memikirkan produksi susu sapinya.&#34;&#xA;&#xA;Memang benar. Terlepas dari cerita sapi-sapi itu―hidup Gunil memang datar. Bahkan kehadiran Jiseok nampaknya terlalu berwarna untuk Gunil yang terbiasa terpapar cahaya remang monokrom.&#xA;&#xA;Di luar dugaan, Jiseok hanya merespon penjelasan tersebut dengan seulas senyuman tipis. &#xA;&#xA;&#34;Syukurlah, hidup di sini memang membuat tenang, ya.&#34;&#xA;---&#xA;[ 3., Kuning ]&#xA;&#34;Kak Gunil, kamu udah nikah, ya?&#34;&#xA;&#xA;Gunil lantas menyemburkan es kopi yang seharusnya ia habiskan dalam satu teguk. Ia terbatuk-batuk hingga Jiseok yang awalnya bingung kini ikut panik sambil menepuk pelan punggungnya.&#xA;&#xA;&#34;Kak, memang harusnya kakak pensiun aja,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pertanyaanmu itu yang buat aku keselek, bodoh,&#34; &#xA;&#xA;Jiseok terkikik geli.&#xA;&#xA;Ia akhirnya berhenti setelah meneguk kembali cairan dingin itu hingga matanya berair. &#34;Kenapa tiba-tiba tanya begitu?&#34; tanyanya serak.&#xA;&#xA;&#34;Gapapa, mau menyiapkan hati,&#34; jawabnya setengah bercanda, &#34;Tapi, kalau kakak mencari yang kedua, aku siap berdiri di barisan terdepan.&#34;&#xA;&#xA;Gunil sudah terlalu kebal dengan gombalannya yang kesekian. Satu lagi yang tidak ia mengerti, bahwa Jiseok memang sejak dulu sering kali melempar candaan tentang kisah romansa. &#34;Jangan-jangan kau datang ke sini sebenarnya mau melamar?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok berakting terkejut. &#34;Kakak tahu?! Kita memang soulmate sepertinya!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lamaran yang aku terima di sini cuma lamaran pekerjaan, Jiseok-ah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wah,&#34; Jiseok menepuk dadanya dengan dramatis. &#34;Kamu dengar kak, ada suara retak. Dari dalam hatiku.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sebentar, aku serius. Memangnya ada yang bilang begitu?&#34; potongnya, sambil mengambil sekeranjang buah lemon di samping Jiseok untuk dicuci.&#xA;&#xA;Jiseok ikut mendekatkan satu keranjang kosong yang bersih di sampingnya. &#34;Nggak. Cuma nebak-nebak aja,&#34; ia menerima buah yang sudah bersih dari Gunil, lalu meletakannya dalam keranjang. &#34;Tapi, iya, kan? Makanya kakak pindah dan buka usaha penginapan sama kak Jungsu.&#34;&#xA;&#xA;Alis Gunil berkerut. &#34;Kalau maksudmu adalah pertanyaan apakah aku menikah dengan Jungsu, jawabannya adalah tidak,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Loh, bukannya dulu kalian pacaran?&#34;&#xA;&#xA;Jadi dia tahu, kerutan Gunil semakin dalam, kemudian memikirkan mengapa ia tetap melemparkan humor gombal padanya. &#34;Itu masa lalu. Kita putus baik-baik. Memangnya harus menikah dulu untuk membuka bisnis dengan orang lain?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak, sih ...&#34; Jiseok tampak menimang-nimang ucapannya sebelum melanjutkan. &#34;Cuma kepikiran. Kalau semisal kak Jungsu benar-benar meninggalkan kakak, apa kakak bakal sedih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dalam konteks apa?&#34; Gunil menghentikan kegiatannya sejenak. &#34;Kalau itu berlaku untuk kebahagiaannya, aku rela-rela saja,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi kakak bakal sedih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya ... sedih pasti ada. Aku sudah terlalu lama bersamanya,&#34; Gunil kembali meniriskan air-air dari kulit kuning berkilau itu sebelum memberikannya pada Jiseok. &#34;Sebagai pasangan dan teman, atau sekedar rekan bisnis. Aku yakin dia bisa berdiri sendiri, tapi mungkin sudah jadi kebiasaan di antara kita untuk saling menolong kalau kesulitan,&#34;&#xA;&#xA;Tak lama ia sadar barangkali jawabannya terlampau ambigu. Sebelum ia merangkai kata untuk menjawab pertanyaan lain yang mungkin dilontarkan Jiseok, ia hanya disambut oleh senyum tipis―senyuman yang sama seperti tempo hari saat mereka membicarakan tentang Gunil dan sapi-sapinya.&#xA;&#xA;&#34;Bagus dong, kalau ada yang selalu saling menjaga.&#34;&#xA;&#xA;Hening sejenak, dan suasana sendu itu membuat Gunil sedikit tidak nyaman. &#34;Sebagai teman, Jiseok. Kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. Jangan cemburu,&#34; Ia pada akhirnya menambahkan.&#xA;&#xA;Jawaban Gunil membuat tatapan Jiseok melebar sebelum ia berderai dalam tawa ― kembali menjadi sosok Jiseok dengan penuh ledakan warna seperti yang Gunil kenal.&#xA;&#xA;&#34;Ih, bukan! Aku paham, kok. Aku juga berbicara dalam konteks luas,&#34; ia mengusap air mata imajinernya. &#34;Dunia bisa jadi terlalu kejam untuk dilalui sendirian. Karena kalian orang-orang yang aku sayang, aku berharap semoga kalian bahagia selalu.&#34;&#xA;---&#xA;[ 4., Hijau ]&#xA;Tangan Gunil sibuk mencuci mangkuk-mangkuk bekas adonan roti, namun pandangannya tak kunjung lepas dari sosok yang sedang bermain bola di luar jendela.&#xA;&#xA;Pada lapangan rumput yang luas, Jiseok tampak mencolok di antara kepala anak-anak yang rambutnya sewarna bara jelaga. Senyumnya merekah setiap salah satu tim mencetak angka, tawanya yang diikuti sorakan kecil menggema di sepanjang penjuru area. Lapangan yang biasanya sepi kini ramai diisi oleh kelakar kekanakan.&#xA;&#xA;Desa ini sebagian besar diisi oleh manusia lanjut usia, atau orang dewasa yang terlalu malas berkutat dengan hiruk pikuk kota. Sekali lagi Jiseok menjadi sebuah anomali dengan presensinya yang hangat. Anomali yang membuat Gunil berpikir, apakah kehidupannya akan penuh dengan antusiasme seperti itu apabila ia memutuskan untuk mengambil jalur musik. &#xA;&#xA;Seiring dengan penyimpangan itu, setangkai keganjilan lain tumbuh dalam hati Gunil; bahwa semakin lebar senyuman yang ditampilkan Jiseok, semakin ia ingin melindunginya. Ada sesuatu yang membuatnya tidak dapat melihat Jiseok seperti ia melihat Jungsu. Jiseok selalu menatap matanya seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Sesuatu yang tidak ia ketahui.&#xA;&#xA;Semakin besar pula kekhawatirannya yang tak beralasan.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Ada satu kejanggalan yang membuat Gunil memperhatikan pria mungil itu lebih sering dari seharusnya, tentang kebiasaan Jiseok yang bahkan ia sendiri tidak sadari. Selama ia menetap di sini, sering kali Gunil mendapatinya melamun dengan tatapan kosong seakan terputus dari dunia di sekitarnya. Seperti di hari pertama saat ia memandangi lukisan langit merah itu lekat-lekat, atau saat matanya tertuju pada olesan selai roti Jungsu kala itu. Awalnya ia kira Jiseok hanya sedang lelah, atau sedang begitu tertarik dengan apa pun yang ada di hadapannya.&#xA;&#xA;Petang ini terjadi lagi.&#xA;&#xA;Ia menatap kosong pada etalase yang memajang pastry, menghalangi beberapa pengunjung yang hendak membeli. Toko hari itu sedikit lebih ramai, karena cuacanya sedang hujan dan yang mampir sekaligus berteduh. Gunil yang sore itu tidak sedang jaga shift lantas menariknya sebelum ia tertabrak oleh orang lain yang mengantri.&#xA;&#xA;&#34;Ada apa? Jangan melamun di situ. Kau menghalangi jalan,&#34; tegur Gunil saat mereka sampai pada pojok ruangan yang cukup sepi.&#xA;&#xA;&#34;Oh ... maaf,&#34; Jiseok masih sedikit linglung.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa? Kau bosan makan roti?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh? Nggak, kok! Aku lagi mikir mau roti apa tadi,&#34; Jiseok mencoba mengelak.&#xA;&#xA;Mungkin itu adalah bohong besar. Gunil dan anak-anak band tahu betul bahwa ia dan Jooyeon adalah orang yang paling rewel soal makanan. Jiseok bahkan bisa saja hanya makan ayam goreng selama seminggu berturut-turut karena tidak ada makanan lain yang mampu membuatnya berselera.&#xA;&#xA;Lamunan itu memberi Gunil sebuah ide. &#34;Oh, tetangga sebelah kemarin baru memotong ayam. Mau aku buatkan ayam goreng?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak usah! Serius, aku gapapa,&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nggak apa-apa, jangan sungkan. Nggak ada yang makan juga. Mau apa? Yangyeom?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah ... itu ...&#34; Jiseok mengalihkan pandangannya. &#34;Aku ... lagi nggak ingin makan itu.&#34;&#xA;&#xA;Gunil tertegun. Pada akhirnya ia hanya mengangguk, setidaknya Jiseok mengatakan apa yang ia inginkan.&#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu, kita ke dapur saja untuk lihat bahan-bahan.&#34; Gunil menggandeng tangan Jiseok dan sebelum ia kembali mengelak, Gunil telah menyeretnya ke dapur yang ada di penginapan. Ia mendudukkan Jiseok di meja makan dekat jendela, lalu berpaling pada lemari bahan.&#xA;&#xA;&#34;Karena hari sedang hujan, kau mau samgyetang?&#34; Gunil mengeluarkan satu pak bahan herbal.&#xA;&#xA;&#34;Oh ... terserah saja.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok tampaknya sudah terlalu lelah untuk menolak.&#xA;&#xA;Menanggapi jawaban itu sebagai sebuah persetujuan, Gunil mulai menyiapkan bahan. Tidak seperti biasanya, presensi Jiseok seperti hilang ditelan suara hujan. Gunil sedikit mencuri lirik dari ujung matanya, menemukan Jiseok telah kembali hanyut dalam pikirannya dengan memandangi hujan yang membasahi lapangan dari balik jendela.&#xA;&#xA;Waktu berlalu dan Gunil menunggu masakan matang. Berpikir Jiseok tidak akan berbicara, ia menyibukkan diri dengan membereskan alat-alat masak dan mencuci piring-piring. Ia berbalik dan menemukan tatapan Jiseok kini sedang fokus padanya.&#xA;&#xA;&#34;Kak Gunil beneran bisa masak sekarang?&#34;&#xA;&#xA;Gunil merengut. &#34;Kau kira yang biasa memanggang roti di depan siapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hehe, itu kan beda,&#34; Jiseok menyunggingkan senyum jenaka.&#xA;&#xA;&#34;Sama, dong. Sama-sama sulit,&#34; Ia mendengus, namun dalam hati, Gunil merasa sedikit lega karena atmosfirnya sudah mulai mencair. Samar aroma ginseng sudah mulai menguar. Gunil membuka tutup panci dan mengambil sesendok kaldu. &#xA;&#xA;Ia menyodorkan sendok penuh kepulan asap itu pada Jiseok. &#34;Coba dulu,&#34;&#xA;&#xA;Jiseok meniup-niup asap sebelum ia menyeruput dari ujung sendok.&#xA;&#xA;&#34;Ada yang kurang?&#34; tanya Gunil.&#xA;&#xA;&#34;Mmm ... kurang sedikit garam, tapi wah! Rasanya gurih!&#34; Jiseok merespon dengan antusias, matanya melebar seperti anak kecil yang diberi sekantung permen. &#34;Kak Gunil, rasanya enak! Wah, memang kak Gunil bisa melakukan apa pun,&#34; &#xA;&#xA;Gunil berbalik untuk menambahkan garam, sekaligus menyembunyikan telinganya yang memerah. Ia menyiapkan mangkuk dan garnish dalam diam. Tak lama ia mematikan kompor dan segera menyajikan samgyetang di mangkuk.&#xA;&#xA;&#34;Woah. Tampilannya bagus,&#34; Tak hentinya memuji, Jiseok menatap kepulan samgyetang dari dekat ketika Gunil menaruh mangkuknya di meja. &#34;Kak Gunil, mau makan bareng?&#34;&#xA;&#xA;Gunil ikut duduk di depan Jiseok, kemudian menaruh sikunya di atas meja untuk menopang dagu. &#34;Tidak usah. Aku sudah kenyang duluan melihat masakannya,&#34;&#xA;&#xA;Jiseok menatap ngeri. &#34;Kok mencurigakan? Jangan-jangan kak Gunil masukin racun ke dalamnya ...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mana ada,&#34; Gunil melantunkan tawa kecil. &#34;Kau kan lihat tadi aku masukan apa saja?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok terlalu sibuk mencicipi samgyetang untuk merespon kata-katanya. Sendok demi sendok ia nikmati dengan khidmat, tak memedulikan Gunil yang sedari tadi memperhatikannya dalam diam. Pemandangan itu menghasilkan seulas senyum tipis pada wajah Gunil.&#xA;&#xA;Sepertinya memang sesederhana itu rasanya bahagia.&#xA;---&#xA;[ 5., Biru ]&#xA;&#34;Kak Jiseok, ayo nyanyi lagi!&#34;&#xA;&#xA;Gunil baru saja pulang dari toko bahan kue ketika ia mendengar suara samar petikan gitar dari halaman penginapan. Di bawah langit biru, anak-anak tetangga duduk dengan patuh di atas rerumputan sementara Jiseok menjadi titik pusat magnetnya. Mereka tak kunjung sadar bahwa yang punya kediaman telah tiba.&#xA;&#xA;&#34;Aduh, kakak capek nih,&#34; Jiseok melebih-lebihkan ekspresinya. &#34;Kalian aja yang nyanyi, nanti kakak yang mainin musiknya, gimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yah, kok gitu! Katanya kakak penyanyi ...&#34; seorang anak merajuk, diikuti kicauan lainnya. Jiseok tampak kesulitan. Mau tak mau, Gunil ikut tersenyum melihatnya.&#xA;&#xA;&#34;Ya ... udah ... kalian mau nyanyi lagu apa lagi?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nyanyiin lagunya kak Jiseok, boleh?&#34; Gunil tiba-tiba menyahut dari jalan setapak.&#xA;&#xA;Seluruh manusia menoleh pada sumber suara. Karena orang yang ditunggu telah hadir, anak-anak lekas melupakan misinya dan ikut berdiri.&#xA;&#xA;&#34;Kak Gunil udah sampai! Kakak bawa kue?&#34; Suara anak-anak berubah menjadi manis saat bertemu Gunil. &#xA;&#xA;&#34;Kue titipan Ibu Kim ada di Jungsu, ya. Kalian langsung ke bakery saja. Maaf ya sudah menunggu,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke! Kak Jiseok dadah!&#34; &#xA;&#xA;Setelah lambaian tangan anak-anak dibalas oleh senyum paksa Jiseok, derap langkahnya mengiringi kepergian mereka. Gunil masih tertawa kecil melihat garis senyum Jiseok yang berubah menjadi kerucut sebal saat mereka pergi.&#xA;&#xA;Gunil berjalan menghampiri pria yang masih menatap keprgian anak-anak itu. &#34;Musisi Jiseok, ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh, kak ... maaf sembarangan pakai gitarnya ... aku dikerjain,&#34; Jiseok meringis, hendak mengembalikan gitar kepada sang pemilik―yang langsung ditolak olehnya.&#xA;&#xA;&#34;Nggak apa-apa. Memang gitar ada untuk dimainkan,&#34; Gunil ikut duduk pada rerumputan. &#34;Request anak-anak kan, sudah. Sekarang ayo mainkan yang aku request tadi,&#34;&#xA;&#xA;Jiseok tampak tidak nyaman. &#34;Harus?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku sudah duduk manis, nih.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok memeluk gitarnya, pandangannya menerawang. Gunil masih menunggu dengan sabar.&#xA;&#xA;&#34;Hmm, aku mainkan yang lain, gimana? Kalau mau dengar laguku langsung ke aplikasi musik saja, supaya aku dapat royalti,&#34; putus Jiseok, yang disambut oleh tawa Gunil.&#xA;&#xA;Tanpa menunggu jawaban selanjutnya, Jiseok memainkan beberapa nada. &#34;Kak Gunil tahu lagunya?&#34;&#xA;&#xA;Gunil menggeleng. &#34;Coba lanjut main dulu.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok kembali memetik senar.&#xA;&#xA;&#34;I&#39;ve~ been quitely living,&#xA;In a deep tunnel that swallowed up the light.&#34;&#xA;&#xA;Gunil mengerutkan dahi. &#34;Nggak tahu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ih, ayo usaha dulu.&#34;&#xA;&#xA;On the dark road ahead, I can&#39;t see a single step ahead.&#xA;I can&#39;t see anything, I can&#39;t feel anything.&#xA;&#xA;Wajah Gunil tidak menunjukkan pencerahan. Jiseok menghela napas.&#xA;&#xA;&#34;Colors,&#34; ucapnya setelah menghentikan permainan. &#34;Lagunya Day6. Memang tidak seterkenal single debut-nya, tapi lagunya pengen banget aku nyanyiin untuk Kak Gunil,&#34;&#xA;&#xA;Gunil mengangkat sebelah alis. &#34;Liriknya terdengar depresif. Apa aku terlihat sesedih itu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ih, enggak begitu!&#34; Jiseok meringis. &#34;Dengerin semuanya makanya. Lagunya bagus! Soalnya di mataku, kak Gunil kayak warna matahari terbenam,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Karena warnanya meredup?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok nganggepnya negatif terus, sih,&#34; Jiseok merengut. Tawa Gunil ikut berdering. &#xA;&#xA;&#34;Lagi kau ini kenapa dari dulu suka sekali menggombal. Kalau aku betulan jadi suka, kau mau apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kakak mikir aku lagi ngegombal?!&#34; Jiseok terlalu terkejut hingga ia terlambat memproses kata-kata selanjutnya. &#34;Sebentar. Hah?? Gimana?&#34;&#xA;&#xA;Gunil tak menghiraukan pertanyaannya. Ia malah memalingkan muka, berharap pipinya yang memanas tidak segera tertangkap basah. &#34;Lagipula, dibanding warna matahari terbenam, mungkin aku lebih cocok jadi warna putih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm, masuk juga,&#34; Jiseok langsung mengamini. &#34;Emangnya kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Soalnya kosong. Warnanya membosankan,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok gitu! Jangan diskriminasi warna putih kayak gitu!&#34;&#xA;&#xA;Gunil tertawa. Entah sudah berapa kali Gunil menertawakan anak laki-laki berambut gulali ini. Ia bahkan tidak pernah tertawa selepas ini bersama Jungsu. Barangkali karena pada dasarnya mereka tidak pernah saling cinta.&#xA;&#xA;Lantas pikiran itu terlontar kembali dari mulutnya. &#34;Kau ini lucu, Jiseok-ah. Kalau lama-lama aku jadi sayang, bagaimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Heh?! Kak Gunil tuh ya, nggak cocok ngegombal. Kasih aba-aba dulu kenapa!&#34; Jiseok meringis. &#xA;&#xA;&#34;Memangnya lagi mundurin mobil harus kasih aba-aba ...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi kak, aku serius,&#34; Jiseok menatap Gunil lekat-lekat. &#34;Jangan sayang sama aku,&#34; &#xA;&#xA;&#34;Apa―&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan. Jangan aja,&#34; Jiseok mengangkat bahu. &#34;Aku aja yang sayang kakak, tapi kakak jangan sayang balik. Aku nggak layak. Terus nanti, kakak jadi sial, lho,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apaan sih, kok jelek kata-katanya,&#34; Gunil mengernyit. &#34;Nggak ada yaag nggak layak untuk disayang, Jiseok. Memangnya kamu barang rongsokan, apa ...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya udah kalau dibilangin nggak percaya juga,&#34; Jiseok mendengus. &#34;Ta―&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan. Jiseok juga jangan percaya,&#34; potong Gunil sebelum ia mengalihkan pembicaraan. &#34;Memang siapa yang ngomong begitu? Nanti biar aku suruh kucing hitam main ke rumahnya.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok terpana sebelum ia melepas tawa. &#34;Memangnya kak Gunil percaya hal begituan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak. Biar mereka takut saja,&#34; Gunil ikut menyeringai. &#34;Nah, seperti itu. Kalau Jiseok tertawa, jadi lebih manis.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak, stop ngegombal. Itu tugas aku!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Makanya, berhenti berbicara yang jelek-jelek. Kalau ada yang berani bilang begitu padamu, kau harus sembunyi di belakangku. Biar aku yang marahi,&#34; Gunil memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan. Ia akhirnya berdiri, menawarkan uluran tangan pada Jiseok yang masih duduk di rerumputan. &#34;Ayo, kita makan siang.&#34;&#xA;---&#xA;[ 6., Nila ]&#xA;Seharusnya hari ini adalah hari biasa yang tidak akan Gunil rekam baik-baik dalam kepala.&#xA;&#xA;Ia masih menghitungi produksi susu sapi, mengecek bahan roti, menyirami kebun bunga lily. Terkadang ia berpapasan dengan Jiseok; raganya ia temukan dari balik jendela, sedang membantu tetangga sebelah mengangkut karung kentang dan ikut bakar-bakaran untuk makan siang bersamanya. Baru saja seminggu berkenalan, ia telah menjadi anak kesayangan para warga.&#xA;&#xA;Besok Jiseok akan pulang.&#xA;&#xA;Entah pulang, atau kembali ke kota besarnya yang penuh huru hara, Gunil tidak tahu. Ia tidak punya keberanian untuk bertanya semenjak percakapan kemarin―mungkin saja memang ada yang benar-benar terjadi pada karirnya. Mungkin memang seberat itu tuntutan dunia hiburan.&#xA;&#xA;Sehebat itu pula ia dapat menyembunyikannya dengan baik.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Sore itu, Gunil baru kembali dari mengantar susu ketika ia menemukan Jiseok berdiri di bibir pantai. Langit hari itu sudah segelap refleksi laut yang ada pada naungannya. Ombak-ombak bergulung dengan agresif, gemuruhnya dapat terdengar bahkan sebelum Gunil datang menghampirinya.&#xA;&#xA;&#34;Jiseok,&#34; Gunil memanggil, berharap suaranya dapat mengalahkan suara amarah ombak. Tidak ada respon. Gunil meminggirkan sepedanya untuk kemudian berjalan mendekatinya.&#xA;&#xA;&#34;Jiseok.&#34;&#xA;&#xA;Kali ini Jiseok menoleh; matanya sayu dengan tatapan kosong seperti yang ia temui tempo hari. Seiring dengan pandangannya yang bertemu netra milik Gunil, kesadarannya seakan muncul kembali ke &#xA;permukaan. Ia lekas melempar sebuah senyum familiar. &#xA;&#xA;&#34;Kak Gunil,&#34; Jiseok menyapa riang.&#xA;&#xA;&#34;Lagi apa?&#34; Gunil refleks mengulurkan tangannya. &#34;Kok belum pulang. Di sini air pasangnya sedang tinggi, kau bisa terbawa ombak,&#34;&#xA;&#xA;Jiseok terlihat sedikit bingung, tapi ia tetap menyambut tangan Gunil. &#34;Aku baru tahu di sini ada pantai,&#34;&#xA;&#xA;Mereka berjalan meninggalkan pantai; pasir-pasirnya yang lembek karena siraman air laut membuat kaki-kaki mereka hampir tertelan.&#xA;&#xA;&#34;Ada. Sayangnya kau terlalu sibuk bermain dengan anak-anak,&#34; tutur Gunil, disambut oleh kekehan Jiseok yang berjalan di belakangnya. &#34;Nanti lagi kalau kau kemari, kita bisa jalan-jalan melihat matahari terbenam. Kau besok jadi pulang? Atau kembali ke kota?&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada jawaban. Gunil berhenti lalu membalikkan badan, bertemu dengan sosok Jiseok yang kini sedang menunduk dengan tatapan kosong.&#xA;&#xA;Suara ombak kembali mengisi keheningan di antara mereka.&#xA;&#xA;&#34;Jiseok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh. Oh?&#34; Jiseok yang sedikit tersentak mengangkat kepalanya, menatap manik mata Gunil dengan tidak fokus. &#34;Maaf kak, kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Gunil menerawang, meneliti setiap detail dan garis wajah yang barangkali dapat menjadi petunjuk terkait seluk-beluk rahasia Jiseok. Tentang rambut gulalinya yang tertiup angin pantai, atau iris cokelat matanya yang berkilau di bawah cahaya lampu, atau garis tawanya yang tak pernah benar-benar menghilang. &#xA;&#xA;Tapi tidak ada. Mungkin ia tidak begitu ahli. Atau mungkin Jiseok yang terlalu ahli menyembunyikannya.&#xA;&#xA;Ia hanya punya satu pilihan. &#34;Kau baik-baik saja?&#34;&#xA;&#xA;Juga Jiseok yang memiliki pilihannya.&#xA;&#xA;Jiseok membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu. Namun perkataannya seakan hilang ditelan udara. Ia terdiam untuk sesaat, sebelum akhirnya ia kembali menutup mulutnya dan kembali menunduk. Terdengar helaan napas sebelum ia kembali mengangkat kepala.&#xA;&#xA;&#34;Gapapa, kak. Cuma capek aja mungkin, maaf ya,&#34; &#xA;&#xA;Meski sangat samar, Gunil menyadari getaran dalam kalimatnya. Lantas ia menatap manik mata itu lekat-lekat, apakah alasan lelah yang ia maksud tertulis pada bayangan matanya.&#xA;&#xA;Gunil menyerah.&#xA;&#xA;Pada akhirnya ia hanya berani memberi afeksi; dengan refleks ia menyisiri poni Jiseok yang sudah memanjang, agar ujung helainya tak menusuk mata. &#34;Ya udah,&#34; ia kembali menggenggam tangannya, seakan Jiseok dapat menghilang terbawa angin. &#34;Ya udah. Kita pulang sekarang, dingin,&#34; ia kembali berjalan, diikuti Jiseok yang masih diam terpana.&#xA;&#xA;&#34;Kak Gunil, aku boleh genggam hatimu juga, nggak?&#34;&#xA;&#xA;Boleh, seharusnya Gunil jawab begitu. Pegang saja erat-erat, asal kau tidak pergi.&#xA;&#xA;Harusnya Gunil memang tidak pernah menyerah.&#xA;---&#xA;[     ]&#xA;Jungsu yang biasanya mengantar roti ke toko-toko di kota, kini sedang panik karena harus mengantar anjingnya yang sakit semalam. &#xA;Maka pada hari itu, Gunil yang bertugas untuk mengantar roti ke kota. Kota yang ia kunjungi tak cukup bising; namun cukup informatif untuk mendapat berita-berita baru. Terutama pada toko tempat ia menaruh roti, tak jarang mereka menyetel televisi untuk menciptakan suasana ramai. Apalagi pemiliknya sering menggandrungi segala informasi dari berita politik hingga musik. &#xA;&#xA;Hari itu, Gunil menaruh roti-roti pada etalase berlampu kuning, sembari setengah mendengarkan sang pemilik yang mengajak diskusi. Jawabannya tak jauh dari &#34;Oooh&#34; atau &#34;Hmm,&#34; memberitahu bahwa ia masih mendengarkan dengan khidmat. Roti terakhir ia masukkan, kemudian ia tutup pintunya dengan rapat. Tak sengaja ia bertemu pandang pada sosok manusia yang tampil di layar televisi.&#xA;&#xA;Hatinya seketika mencelos.&#xA;&#xA;Sosok yang yang muncul pada layar televisi nampaknya terlampau familiar di mata Gunil ― seharusnya, memang begitu. Karena ia adalah musisi. Pekerjaannya mengharuskan ia untuk muncul di layar kaca setiap hari. Tetapi kepala berita yang menaunginya membuat janggal.&#xA;&#xA;Ia dikabarkan telah menghilang selama enam hari.&#xA;&#xA;Agensi menemukan apartemennya dalam keadaan kosong, yang mana setelah diselidiki semua barang-barangnya telah dijual oleh sang pemilik. Semua kontak padanya telah diputus; keluarganya juga tidak tahu-menahu dengan kepergiannya. Layaknya buronan, para polisi tengah berusaha mencari jejak-jejak terakhir sebelum ia dikabarkan menghilang.&#xA;&#xA;&#34;Nak Gunil, ada apa? Tumben menonton berita?&#34;&#xA;&#xA;Ibu penjaga toko datang menghampirinya, barangkali sedikit khawatir karena ia tak kunjung beranjak dari layar.&#xA;&#xA;&#34;Gaon ...&#34; Gunil menunjuk pada layar, namun tak tahu harus berkata apa.&#xA;&#xA;&#34;Oh, Gaon? kamu mengikuti beritanya juga?&#34; ia bertanya dengan mengangkat alis, tertarik mengetahui hal baru tentang Gunil.&#xA;&#xA;&#34;Eh .... tidak ... memang dia kenapa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Dia akhir-akhir ini sering masuk berita, tapi karena kontroversi,&#34; tuturnya menjelaskan. &#34;Kasihan, nak Gunil. Mungkin usianya tidak jauh beda denganmu, tapi ia selalu terlibat berita miring. Padahal setelah diselidiki semuanya tidak benar, tapi tidak ada yang mau mendengarkan. Bahkan meskipun ia sudah meminta maaf. Sampai kabar terakhirnya, ia memutuskan untuk break dari dunia hiburan karena kondisi kesehatannya. Tapi, kalau beritanya jadi begini ...&#34; Ibu pemilik menggeleng pelan, ikut menatap layar kaca. Memperhatikan sosok manis berambut ungu yang masih jadi sorotan berita utama. &#xA;&#xA;&#34;Padahal karya-karyanya sangat bagus. Semoga dia tidak apa-apa ...&#34;&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Gunil melajukan mobilnya seperti sedang kesetanan. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Jungsu, namun tak ada hasil. Barangkali ia masih di dokter hewan, atau ponselnya tak ia bawa, atau seribu hal lain yang mungkin terjadi.&#xA;&#xA;Tapi yang ia tahu, Jungsu baik-baik saja. Jiseok tidak.&#xA;&#xA;Gunil telah sampai pada penginapan, tak sempat pula ia menutup pintu mobil. Ia bergegas pada ruangannya, mengambil kunci cadangan pada gantungan di balik pintu, lalu berlari menuju lantai dua. Dalam sekejap, kamar bernomor enam sudah muncul di depan mata.&#xA;&#xA;Gunil mengetuk pintu dengan sedikit panik. &#34;Jiseok,&#34; Gunil memanggil, &#34;Kau sudah bangun?&#34;&#xA;&#xA;Hening. Bahkan sekali pun tak ada suara kehidupan dari dalam. Gunil kembali mengetuk. &#34;Jiseok,&#34; Gunil memanggil lebih keras. &#34;Jiseok, aku mau bicara. Penting,&#34; &#xA;&#xA;Masih tak ada jawaban.&#xA;&#xA;Tak sabar, Gunil menyiapkan kunci-kunci cadangannya. &#34;Jiseok, aku masuk,&#34; ia kemudian menancapkan kunci yang tepat pada lubangnya. Lalu ia menyadari ada satu lagi kejadian tak terduga yang membuat jantungnya serasa jatuh ke rongga perut.&#xA;&#xA;Pintunya tidak dikunci.&#xA;&#xA;Tangannya membatu pada gagang kunci, berhenti mencoba untuk memutarinya. Dengan gemetar, Gunil mulai mengangkat tangannya untuk meremat gagang pintu dan menurunkannya. Pintunya terbuka.&#xA;&#xA;Kehadiran Jiseok selama seminggu terakhir seakan-akan terasa seperti mimpi panjang.&#xA;&#xA;Kamar yang dimasukinya terlihat bersih, tirai-tirainya dibuka agar cahaya pagi dapat masuk melalui jendela. Tempat tidurnya rapi seakan tidak pernah ditiduri. Gunil benar-benar berpikir mungkin ia sedang bermimpi jika tidak ada tumpukan baju yang ia pinjami di atas tempat tidur. Tidak, ia tidak sedang bermimpi. Ia ingat betul baru kemarin sekali ia membantu Jiseok menjemur baju-baju itu; karena apabila tidak dipakaikan jepit jemuran, bajunya akan terbang terbawa angin.&#xA;&#xA;Jiseok masih tertawa lepas kala itu. &#xA;&#xA;Di atas lipatan baju yang rapi, ada serenceng kunci kamar dan dompet Jiseok yang masih lengkap dengan sejumlah uang dan kartu identitas miliknya. Semakin lama ia pandangi, semakin terasa kakinya untuk berpijak mulai kebas.&#xA;&#xA;Gunil kembali mengedarkan pandangan pada seluruh ruangan. Ada sebuah tulisan panjang tertera pada kertas memo yang biasa Gunil siapkan pada setiap kamar penginapan. Dengan terhuyung Gunil berjalan menuju meja dekat jendela. Ada harapan kecil bahwa pesan yang ditinggalkan Jiseok barangkali sebuah petunjuk surat pamit untuk pulang ke kota, atau izin bermain ke kolam tetangga, atau bahkan gombalan receh untuk meminta tambahan telur dadar.&#xA;&#xA;Tapi tidak ada. Yang ada hanyalah kertas buram pada pandangan Gunil yang kini mengabur.&#xA;&#xA;Dari jauh, suara raungan sirine mobil polisi samar-samar mulai terdengar.&#xA;---&#xA;[  ■■■■  ]&#xA;&#34;Dalam pikiranku, konsep warna sesungguhnya hanyalah sebuah ilusi.&#xA;&#xA;Kelas fisika dasar mengajarkan kita bahwa warna yang kita lihat adalah hasil dari pantulan gelombang cahaya yang masuk ke mata. Karena itu, ketika tidak ada cahaya, gelap yang menelan segala benda berwarna apa pun pada akhirnya akan dilambangkan dengan warna hitam.&#xA;&#xA;Begitu pula dengan kehidupan.&#xA;&#xA;Percayalah, ketika ada seribu orang yang mencoba meyakinkanku bahwa hidupmu semonoton warna monokrom, sampai kapan pun aku tidak akan menghiraukannya. Karena monokrom tidak monoton. Monokrom adalah warna tunggal. Tapi kau adalah putih.&#xA;&#xA;Ketika kau mengatakan bahwa hidupmu adalah manifestasi dari warna putih, aku langsung mengamininya tanpa alasan berarti. Harusnya kukatakan ini, alasannya―agar kau tak memandang kehidupan impianmu terlampau rendah. Agar kau tahu bahwa warna putih adalah warna yang paling kaya sejagat raya; kau letakkan sebongkah prisma di antaranya, dan putih akan memecah menjadi berbagai warna yang tiada habisnya. Begitu pula dengan kehidupanmu, kak Gunil, yang selalu hangat dan dikelilingi orang-orang baik di sekitarmu.&#xA;&#xA;Dari jutaan orang yang selalu kumintai maafnya, permohonanku yang paling tulus ingin aku tujukan kepadamu.&#xA;&#xA;Tepat di hari ketika aku datang, aku sudah memutuskan untuk menghilang dari kehidupan. Lalu pada hari itu pula, aku bertemu kau―dengan wajah kusutmu yang terlihat baru bangun tidur, kau sudah mengelapi jendela kamar dengan sabar. Di hari itu pula, sepertinya aku telah meniti karir baru menjadi seorang pembohong ulung.&#xA;&#xA;Begitu pula aku merasa terlena menjadi seorang pembohong―karena itu, semua orang tiba-tiba menyayangiku. Begitu terlena rasanya sampai aku lupa, bahwa aku hanyalah manusia nista, yang tak pantas hidup bersanding dengan cahaya-cahaya. Dengan keegoisanku yang membara, aku menikmati hidup seakan-akan aku adalah bagian dari mereka, seakan aku adalah bagian dari kau.&#xA;&#xA;Tapi dari sekian orang yang kudustai, tak pernah sedikit pun aku menyesal membohongimu. Bak laron yang haus akan cahaya, aku senang berputar mengitari duniamu. Berharap menemukan hidup. Berharap menemukan warna. Di mana seharusnya aku telah berhenti sejak lama.&#xA;&#xA;Walau setitik saja rasanya aku berharap dapat hidup normal sepertimu, seperti memanggang roti atau menikmati segelas kopi dan mengurusi sapi-sapi, pada akhirnya aku sadar aku tak pantas membayangkan kehidupan itu. Aku tak pantas membayangkan hidup denganmu. Serakah rasanya ketika aku masih mengharapkan sebuah ujung yang bahagia dari kehidupan yang telah sekarat.&#xA;&#xA;Aku meminta maaf untuk itu. Kak Gunil, aku minta maaf untuk semua perasaan bahagia yang bahkan aku tak pantas menerimanya selama garis hidup kita saling bersinggungan. Untuk bagian kecil yang masih berharap dapat hidup bersamamu. Untuk janji-janji yang ingkar. Untuk kebohongan-kebohongan murah dengan berpura-pura menjadi cahaya.&#xA;&#xA;Andai kata ada hari di mana Tuhan Yang Maha Baik mau memberikanku kesempatan kedua dan kita dapat bertemu kembali, izinkan aku memohon kepadamu untuk mengajariku tentang warna-warna pada langit terbenam; agar aku tak lagi tersesat untuk menemukan jalan pulang.&#34;&#xA;---&#xA;(edited for: a href=&#34;https://write.as/lunarlatte/matahari-terbenam&#34;part II / alternate after ending.)/a]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:xh" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">xh</span></a> <a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:heroesficfest" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">heroesficfest</span></a> <a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:songfiction" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">songfiction</span></a></p>

<hr/>

<p><blockquote> written for @HEROESFICFEST&#39;s first event.</p>

<p>for gunseok (gunil x jiseok), slight gunsu.</p>

<p>tags: angst, slice of life, <strong>tw // major character death, tragedy, implied &amp; mentioned suicide.</strong></p>

<p>this is a songfiction based on <a href="https://www.youtube.com/watch?v=9s28dJXxssA" rel="nofollow">colors – day6.</a></blockquote></p>

<hr/>



<h3 id="1-merah">[ 1., Merah ]</h3>

<p>Gunil pernah berpikir bahwa ia mungkin terlalu nyaman hidup dalam dunia yang dibingkai warna hitam dan putih. Rutinitas hidupnya semonoton kertas-kertas koran yang biasa ia terima setiap pagi; bangun tidur, bersiap-siap dan sarapan, lalu memulai hari dengan memanggang roti dan mengurusi sapi. Jika beruntung, akan ada wisatawan buta arah yang tiba-tiba datang dan memesan kamar pada penginapan sederhana yang ia rintis bersama Jungsu.</p>

<p>Maka dari itu, ia baru tahu bahwa sepertinya matahari telah berubah warna menjadi selembut <em>lilac</em> seperti kebun bunga milik tetangga.</p>

<p>“Kak Gunil.”</p>

<p>Sosok berambut ungu pudar itu menyambut Gunil dengan senyum lebarnya dari balik kaca penginapan, matanya berkilau karena cahaya matahari pagi. Gunil yang sedang mengelap kaca terkejut bukan main ― ia pikir, tempat tinggalnya kembali didatangi pemabuk aneh yang tak tahu jalan pulang. Tapi ketika pria itu memanggil namanya, alis Gunil berkerut.</p>

<p><em>Siapa?</em> pikirnya, dan sebelum pikirannya menjalar ke mana-mana, pria itu memaklumi kebingungan jiwa Gunil yang masih tampak setengah mengantuk.</p>

<p>“Kak Gunil! ini Jiseok. Kita pernah main band bareng, kamu nggak ingat~?”</p>

<p>.</p>

<p>Gunil kembali mengecek sebaris nama yang tak asing dari layar komputernya sebelum mengambil kunci kamar. Pria yang ia temui pagi tadi masih berkeliling memandangi perabot antik, foto-foto pemandangan dan sofa-sofa bersarung nyentrik yang diberikan oleh Jooyeon dua tahun lalu.</p>

<p>Kwak Jiseok, begitu nama yang terdaftar dalam <em>database</em> penginapan mungilnya hari ini. Ia ingat sekarang. Ia mengenal Jiseok melalui Jooyeon saat SMA, dan sejak awal, dia memang sama anehnya dengan teman karibnya itu. <em>Mungkin karena itu mereka berteman baik,</em> Gunil membatin saat itu, dan selain keanehannya yang nyata, ia tetaplah adik kelas yang ramah dengan permainan gitar yang apik, sehingga Gunil tidak masalah dengan hal itu. Masalahnya, sekarang ia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat Jooyeon tidak ada.</p>

<p>Jiseok tiba-tiba datang mengunjungi penginapan-sekaligus-kediamannya itu pada pagi-pagi buta. Ia tak membawa tas apa pun, dan saat ditanya, ia bilang tasnya tertinggal di bus. Jiseok cepat-cepat menambahi bahwa jangan khawatir, karena dompetnya masih ada bersamanya. Gunil menghela napas dan hendak berkata bahwa bukan itu maksudnya, tapi karena ia terlalu lelah dengan sosok yang mengejutkannya pagi ini, pada akhirnya ia tidak berkata apa-apa.</p>

<p>Gunil menaruh kunci kamar di atas lipatan handuk dan baju bersih yang ia tumpuk. “Ini, pakai bajuku saja dulu kalau begitu,” Gunil menyodorkan barang-barangnya pada Jiseok. “Seminggu itu bukan waktu yang sebentar. Kenapa kau tidak pulang saja?”</p>

<p>Jiseok yang sedari tadi melamun di depan salah satu lukisan menjadi terkejut sendiri. Responnya yang tiba-tiba bergidik membuat Gunil ikut  mengangkat alis.</p>

<p>“Ah ... oh, iya.” Jiseok kemudian menerima pemberian Gunil, menatap lipatan kain itu dengan tatapan bingung. “Ini, nggak apa-apa?”</p>

<p>“Ya memang kau mau memakai pakaian yang sama untuk seminggu penuh?” Gunil kembali menghela napas, entah untuk yang keberapa kali. “Pakai saja. Tidak perlu membayar penginapan juga, anggap saja kau main ke rumah teman lama. Lagian kau ini aneh sekali, padahal rumahmu di kota sebelah, kau bisa saja langsung pulang.”</p>

<p>Jiseok melempar sebuah senyuman jahil. “Hehehe, kan aku ke sini mau ketemu kak Gunil,” ia kemudian mendekap baju itu dalam pelukannya. “Kebetulan banget, sekarang jadi bisa coba pakai baju ayang.”</p>

<p><em>Tentu saja dalamnya masih Jiseok yang sama,</em> Gunil membatin. “Jangan aneh-aneh. Kamarmu ada di atas, di kanan lorong,” Gunil kembali bersiap-siap mengenakan celemeknya. “Kalau sudah beres-beres, kau bisa turun untuk sarapan. Di sini hanya ada roti, tapi kalau kau mau yang lain, mungkin bisa aku buatkan nasi kepal dan sup rumput laut.”</p>

<p>Sebuah senyum cerah kembali terbit pada wajah Jiseok. “Siap, Kapten!”</p>

<hr/>

<h3 id="2-jingga">[ 2., Jingga ]</h3>

<p>Karena terbiasa hidup dalam abu-abu, kehadiran Jiseok bak setitik warna lembayung yang merubah satu kolam susu menjadi tampak seperti pantulan langit senja.</p>

<p>Setelah lulus sekolah, Gunil pindah ke luar kota dan mendirikan penginapan sekaligus <em>bakery</em> pada desa tempatnya tinggal. Itu cita-cita yang telah ia impikan selepas lulus; tinggal di daerah yang minim huru-hara berita, hidup dengan tenang hingga usia tua. Pun ia yang pernah mendalami dunia musik, tidak pernah bermimpi untuk menjadikannya sebagai salah satu jalan hidupnya.</p>

<p>Bagai kutub polar yang berlawanan, kehidupan Jiseok tak lepas dari hingar-bingar popularitas. Hal yang menjadi Gunil ketahui, tentang dunia luar yang kini jarang ia jamah; bahwa Jiseok melanjutkan karirnya sebagai seorang musisi, hidup seperti menaiki <em>roller-coaster</em> yang bisa bertabrakan kapan saja. Barangkali itu dapat menjelaskan penampilan nyentriknya hingga Gunil tidak mengenalinya pada pandangan pertama―rambut berwarna pucat dan wajah yang teramat rupawan, meskipun sejak dulu Jiseok memang sudah terkenal karena rupanya yang manis. Barangkali itu pula yang menjelaskan sifatnya―sesekali meledak-ledak, penuh ambisi, tertawa riang seakan energinya tidak pernah habis. Ia bahkan mampu membuat Jungsu terpingkal-pingkal, yang mana biasanya pria itu sangat serius saat jam penginapan sedang beroperasi.</p>

<p>Jiseok membuat tempat penginapannya menjadi sedikit lebih hangat.</p>

<p>.</p>

<p>“Ayo nanti kita reuni,” ucap Jungsu pada obrolan jam makan siang. “Aku sering bolak-balik ke kota, nanti aku bisa mengabari Jooyeon kalau jadi.”</p>

<p>Jungsu mengoleskan selai stroberi pada rotinya, dan perbuatan itu nampaknya menjadi magnet bagi Jiseok untuk terus mengamatinya. Tak kunjung mendengar jawaban, Jungsu menoleh dan menemukan tatapan Jiseok yang masih lengket pada corengan merah yang tertata di atas roti.</p>

<p>Jungsu refleks menyodorkan rotinya. “Mau?”</p>

<p>“Eh ... ah, nggak, makasih. Aku juga punya di piring,” Jiseok mengerutkan hidungnya. “Oh, Jooyeon? Kak Jungsu sering ketemu dia?”</p>

<p>“Iya, aku sering mengantarkan <em>pastry</em> ke <em>cafe</em> tempat dia biasa manggung,” Jungsu kembali meletakkan roti di piringnya. “Kalau beruntung, bisa ketemu Seungmin dan Hyeongjun juga. Mereka kerja di toko buku, kamu tahu?”</p>

<p>“Toko buku? Serius?”</p>

<p>“Ah, Jiseok, kamu tinggal di kota tapi ketidaktahuannya 11-12 dengan kak Gunil,” Jungsu menoleh pada Gunil yang masih tertegun mendengar celotehannya. “Kak Gunil, kalau tidak sibuk mengurusi toko roti, paling-paling pusing memikirkan produksi susu sapinya.”</p>

<p>Memang benar. Terlepas dari cerita sapi-sapi itu―hidup Gunil memang datar. Bahkan kehadiran Jiseok nampaknya terlalu berwarna untuk Gunil yang terbiasa terpapar cahaya remang monokrom.</p>

<p>Di luar dugaan, Jiseok hanya merespon penjelasan tersebut dengan seulas senyuman tipis.</p>

<p>“Syukurlah, hidup di sini memang membuat tenang, ya.”</p>

<hr/>

<h3 id="3-kuning">[ 3., Kuning ]</h3>

<p>“Kak Gunil, kamu udah nikah, ya?”</p>

<p>Gunil lantas menyemburkan es kopi yang seharusnya ia habiskan dalam satu teguk. Ia terbatuk-batuk hingga Jiseok yang awalnya bingung kini ikut panik sambil menepuk pelan punggungnya.</p>

<p>“Kak, memang harusnya kakak pensiun aja,”</p>

<p>“Pertanyaanmu itu yang buat aku keselek, bodoh,”</p>

<p>Jiseok terkikik geli.</p>

<p>Ia akhirnya berhenti setelah meneguk kembali cairan dingin itu hingga matanya berair. “Kenapa tiba-tiba tanya begitu?” tanyanya serak.</p>

<p>“Gapapa, mau menyiapkan hati,” jawabnya setengah bercanda, “Tapi, kalau kakak mencari yang kedua, aku siap berdiri di barisan terdepan.”</p>

<p>Gunil sudah terlalu kebal dengan gombalannya yang kesekian. Satu lagi yang tidak ia mengerti, bahwa Jiseok memang sejak dulu sering kali melempar candaan tentang kisah romansa. “Jangan-jangan kau datang ke sini sebenarnya mau melamar?”</p>

<p>Jiseok berakting terkejut. “Kakak tahu?! Kita memang <em>soulmate</em> sepertinya!”</p>

<p>“Lamaran yang aku terima di sini cuma lamaran pekerjaan, Jiseok-ah.”</p>

<p>“Wah,” Jiseok menepuk dadanya dengan dramatis. “Kamu dengar kak, ada suara retak. Dari dalam hatiku.”</p>

<p>“Sebentar, aku serius. Memangnya ada yang bilang begitu?” potongnya, sambil mengambil sekeranjang buah lemon di samping Jiseok untuk dicuci.</p>

<p>Jiseok ikut mendekatkan satu keranjang kosong yang bersih di sampingnya. “Nggak. Cuma nebak-nebak aja,” ia menerima buah yang sudah bersih dari Gunil, lalu meletakannya dalam keranjang. “Tapi, iya, kan? Makanya kakak pindah dan buka usaha penginapan sama kak Jungsu.”</p>

<p>Alis Gunil berkerut. “Kalau maksudmu adalah pertanyaan apakah aku menikah dengan Jungsu, jawabannya adalah tidak,”</p>

<p>“Loh, bukannya dulu kalian pacaran?”</p>

<p><em>Jadi dia tahu,</em> kerutan Gunil semakin dalam, kemudian memikirkan mengapa ia tetap melemparkan humor gombal padanya. “Itu masa lalu. Kita putus baik-baik. Memangnya harus menikah dulu untuk membuka bisnis dengan orang lain?”</p>

<p>“Nggak, sih ...” Jiseok tampak menimang-nimang ucapannya sebelum melanjutkan. “Cuma kepikiran. Kalau semisal kak Jungsu benar-benar meninggalkan kakak, apa kakak bakal sedih?”</p>

<p>“Dalam konteks apa?” Gunil menghentikan kegiatannya sejenak. “Kalau itu berlaku untuk kebahagiaannya, aku rela-rela saja,”</p>

<p>“Tapi kakak bakal sedih?”</p>

<p>“Ya ... sedih pasti ada. Aku sudah terlalu lama bersamanya,” Gunil kembali meniriskan air-air dari kulit kuning berkilau itu sebelum memberikannya pada Jiseok. “Sebagai pasangan dan teman, atau sekedar rekan bisnis. Aku yakin dia bisa berdiri sendiri, tapi mungkin sudah jadi kebiasaan di antara kita untuk saling menolong kalau kesulitan,”</p>

<p>Tak lama ia sadar barangkali jawabannya terlampau ambigu. Sebelum ia merangkai kata untuk menjawab pertanyaan lain yang mungkin dilontarkan Jiseok, ia hanya disambut oleh senyum tipis―senyuman yang sama seperti tempo hari saat mereka membicarakan tentang Gunil dan sapi-sapinya.</p>

<p>“Bagus dong, kalau ada yang selalu saling menjaga.”</p>

<p>Hening sejenak, dan suasana sendu itu membuat Gunil sedikit tidak nyaman. “Sebagai teman, Jiseok. Kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. Jangan cemburu,” Ia pada akhirnya menambahkan.</p>

<p>Jawaban Gunil membuat tatapan Jiseok melebar sebelum ia berderai dalam tawa ― kembali menjadi sosok Jiseok dengan penuh ledakan warna seperti yang Gunil kenal.</p>

<p>“Ih, bukan! Aku paham, kok. Aku juga berbicara dalam konteks luas,” ia mengusap air mata imajinernya. “Dunia bisa jadi terlalu kejam untuk dilalui sendirian. Karena kalian orang-orang yang aku sayang, aku berharap semoga kalian bahagia selalu.”</p>

<hr/>

<h3 id="4-hijau">[ 4., Hijau ]</h3>

<p>Tangan Gunil sibuk mencuci mangkuk-mangkuk bekas adonan roti, namun pandangannya tak kunjung lepas dari sosok yang sedang bermain bola di luar jendela.</p>

<p>Pada lapangan rumput yang luas, Jiseok tampak mencolok di antara kepala anak-anak yang rambutnya sewarna bara jelaga. Senyumnya merekah setiap salah satu tim mencetak angka, tawanya yang diikuti sorakan kecil menggema di sepanjang penjuru area. Lapangan yang biasanya sepi kini ramai diisi oleh kelakar kekanakan.</p>

<p>Desa ini sebagian besar diisi oleh manusia lanjut usia, atau orang dewasa yang terlalu malas berkutat dengan hiruk pikuk kota. Sekali lagi Jiseok menjadi sebuah anomali dengan presensinya yang hangat. Anomali yang membuat Gunil berpikir, apakah kehidupannya akan penuh dengan antusiasme seperti itu apabila ia memutuskan untuk mengambil jalur musik.</p>

<p>Seiring dengan penyimpangan itu, setangkai keganjilan lain tumbuh dalam hati Gunil; bahwa semakin lebar senyuman yang ditampilkan Jiseok, semakin ia ingin melindunginya. Ada sesuatu yang membuatnya tidak dapat melihat Jiseok seperti ia melihat Jungsu. Jiseok selalu menatap matanya seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Sesuatu yang tidak ia ketahui.</p>

<p>Semakin besar pula kekhawatirannya yang tak beralasan.</p>

<p>.</p>

<p>Ada satu kejanggalan yang membuat Gunil memperhatikan pria mungil itu lebih sering dari seharusnya, tentang kebiasaan Jiseok yang bahkan ia sendiri tidak sadari. Selama ia menetap di sini, sering kali Gunil mendapatinya melamun dengan tatapan kosong seakan terputus dari dunia di sekitarnya. Seperti di hari pertama saat ia memandangi lukisan langit merah itu lekat-lekat, atau saat matanya tertuju pada olesan selai roti Jungsu kala itu. Awalnya ia kira Jiseok hanya sedang lelah, atau sedang begitu tertarik dengan apa pun yang ada di hadapannya.</p>

<p>Petang ini terjadi lagi.</p>

<p>Ia menatap kosong pada etalase yang memajang <em>pastry,</em> menghalangi beberapa pengunjung yang hendak membeli. Toko hari itu sedikit lebih ramai, karena cuacanya sedang hujan dan yang mampir sekaligus berteduh. Gunil yang sore itu tidak sedang jaga <em>shift</em> lantas menariknya sebelum ia tertabrak oleh orang lain yang mengantri.</p>

<p>“Ada apa? Jangan melamun di situ. Kau menghalangi jalan,” tegur Gunil saat mereka sampai pada pojok ruangan yang cukup sepi.</p>

<p>“Oh ... maaf,” Jiseok masih sedikit linglung.</p>

<p>“Kenapa? Kau bosan makan roti?”</p>

<p>“Eh? Nggak, kok! Aku lagi mikir mau roti apa tadi,” Jiseok mencoba mengelak.</p>

<p>Mungkin itu adalah bohong besar. Gunil dan anak-anak band tahu betul bahwa ia dan Jooyeon adalah orang yang paling rewel soal makanan. Jiseok bahkan bisa saja hanya makan ayam goreng selama seminggu berturut-turut karena tidak ada makanan lain yang mampu membuatnya berselera.</p>

<p>Lamunan itu memberi Gunil sebuah ide. “Oh, tetangga sebelah kemarin baru memotong ayam. Mau aku buatkan ayam goreng?”</p>

<p>“Nggak usah! Serius, aku gapapa,”</p>

<p>“Nggak apa-apa, jangan sungkan. Nggak ada yang makan juga. Mau apa? <em>Yangyeom?”</em></p>

<p>“Ah ... itu ...” Jiseok mengalihkan pandangannya. “Aku ... lagi nggak ingin makan itu.”</p>

<p>Gunil tertegun. Pada akhirnya ia hanya mengangguk, setidaknya Jiseok mengatakan apa yang ia inginkan.</p>

<p>“Kalau begitu, kita ke dapur saja untuk lihat bahan-bahan.” Gunil menggandeng tangan Jiseok dan sebelum ia kembali mengelak, Gunil telah menyeretnya ke dapur yang ada di penginapan. Ia mendudukkan Jiseok di meja makan dekat jendela, lalu berpaling pada lemari bahan.</p>

<p>“Karena hari sedang hujan, kau mau <em>samgyetang?”</em> Gunil mengeluarkan satu pak bahan herbal.</p>

<p>“Oh ... terserah saja.”</p>

<p>Jiseok tampaknya sudah terlalu lelah untuk menolak.</p>

<p>Menanggapi jawaban itu sebagai sebuah persetujuan, Gunil mulai menyiapkan bahan. Tidak seperti biasanya, presensi Jiseok seperti hilang ditelan suara hujan. Gunil sedikit mencuri lirik dari ujung matanya, menemukan Jiseok telah kembali hanyut dalam pikirannya dengan memandangi hujan yang membasahi lapangan dari balik jendela.</p>

<p>Waktu berlalu dan Gunil menunggu masakan matang. Berpikir Jiseok tidak akan berbicara, ia menyibukkan diri dengan membereskan alat-alat masak dan mencuci piring-piring. Ia berbalik dan menemukan tatapan Jiseok kini sedang fokus padanya.</p>

<p>“Kak Gunil beneran bisa masak sekarang?”</p>

<p>Gunil merengut. “Kau kira yang biasa memanggang roti di depan siapa?”</p>

<p>“Hehe, itu kan beda,” Jiseok menyunggingkan senyum jenaka.</p>

<p>“Sama, dong. Sama-sama sulit,” Ia mendengus, namun dalam hati, Gunil merasa sedikit lega karena atmosfirnya sudah mulai mencair. Samar aroma ginseng sudah mulai menguar. Gunil membuka tutup panci dan mengambil sesendok kaldu.</p>

<p>Ia menyodorkan sendok penuh kepulan asap itu pada Jiseok. “Coba dulu,”</p>

<p>Jiseok meniup-niup asap sebelum ia menyeruput dari ujung sendok.</p>

<p>“Ada yang kurang?” tanya Gunil.</p>

<p>“Mmm ... kurang sedikit garam, tapi wah! Rasanya gurih!” Jiseok merespon dengan antusias, matanya melebar seperti anak kecil yang diberi sekantung permen. “Kak Gunil, rasanya enak! Wah, memang kak Gunil bisa melakukan apa pun,”</p>

<p>Gunil berbalik untuk menambahkan garam, sekaligus menyembunyikan telinganya yang memerah. Ia menyiapkan mangkuk dan <em>garnish</em> dalam diam. Tak lama ia mematikan kompor dan segera menyajikan <em>samgyetang</em> di mangkuk.</p>

<p>“Woah. Tampilannya bagus,” Tak hentinya memuji, Jiseok menatap kepulan <em>samgyetang</em> dari dekat ketika Gunil menaruh mangkuknya di meja. “Kak Gunil, mau makan bareng?”</p>

<p>Gunil ikut duduk di depan Jiseok, kemudian menaruh sikunya di atas meja untuk menopang dagu. “Tidak usah. Aku sudah kenyang duluan melihat masakannya,”</p>

<p>Jiseok menatap ngeri. “Kok mencurigakan? Jangan-jangan kak Gunil masukin racun ke dalamnya ...”</p>

<p>“Mana ada,” Gunil melantunkan tawa kecil. “Kau kan lihat tadi aku masukan apa saja?”</p>

<p>Jiseok terlalu sibuk mencicipi <em>samgyetang</em> untuk merespon kata-katanya. Sendok demi sendok ia nikmati dengan khidmat, tak memedulikan Gunil yang sedari tadi memperhatikannya dalam diam. Pemandangan itu menghasilkan seulas senyum tipis pada wajah Gunil.</p>

<p>Sepertinya memang sesederhana itu rasanya bahagia.</p>

<hr/>

<h3 id="5-biru">[ 5., Biru ]</h3>

<p>“Kak Jiseok, ayo nyanyi lagi!”</p>

<p>Gunil baru saja pulang dari toko bahan kue ketika ia mendengar suara samar petikan gitar dari halaman penginapan. Di bawah langit biru, anak-anak tetangga duduk dengan patuh di atas rerumputan sementara Jiseok menjadi titik pusat magnetnya. Mereka tak kunjung sadar bahwa yang punya kediaman telah tiba.</p>

<p>“Aduh, kakak capek nih,” Jiseok melebih-lebihkan ekspresinya. “Kalian aja yang nyanyi, nanti kakak yang mainin musiknya, gimana?”</p>

<p>“Yah, kok gitu! Katanya kakak penyanyi ...” seorang anak merajuk, diikuti kicauan lainnya. Jiseok tampak kesulitan. Mau tak mau, Gunil ikut tersenyum melihatnya.</p>

<p>“Ya ... udah ... kalian mau nyanyi lagu apa lagi?”</p>

<p>“Nyanyiin lagunya kak Jiseok, boleh?” Gunil tiba-tiba menyahut dari jalan setapak.</p>

<p>Seluruh manusia menoleh pada sumber suara. Karena orang yang ditunggu telah hadir, anak-anak lekas melupakan misinya dan ikut berdiri.</p>

<p>“Kak Gunil udah sampai! Kakak bawa kue?” Suara anak-anak berubah menjadi manis saat bertemu Gunil.</p>

<p>“Kue titipan Ibu Kim ada di Jungsu, ya. Kalian langsung ke <em>bakery</em> saja. Maaf ya sudah menunggu,”</p>

<p>“Oke! Kak Jiseok dadah!”</p>

<p>Setelah lambaian tangan anak-anak dibalas oleh senyum paksa Jiseok, derap langkahnya mengiringi kepergian mereka. Gunil masih tertawa kecil melihat garis senyum Jiseok yang berubah menjadi kerucut sebal saat mereka pergi.</p>

<p>Gunil berjalan menghampiri pria yang masih menatap keprgian anak-anak itu. “Musisi Jiseok, ya?”</p>

<p>“Eh, kak ... maaf sembarangan pakai gitarnya ... aku dikerjain,” Jiseok meringis, hendak mengembalikan gitar kepada sang pemilik―yang langsung ditolak olehnya.</p>

<p>“Nggak apa-apa. Memang gitar ada untuk dimainkan,” Gunil ikut duduk pada rerumputan. <em>“Request</em> anak-anak kan, sudah. Sekarang ayo mainkan yang aku <em>request</em> tadi,”</p>

<p>Jiseok tampak tidak nyaman. “Harus?”</p>

<p>“Aku sudah duduk manis, nih.”</p>

<p>Jiseok memeluk gitarnya, pandangannya menerawang. Gunil masih menunggu dengan sabar.</p>

<p>“Hmm, aku mainkan yang lain, gimana? Kalau mau dengar laguku langsung ke aplikasi musik saja, supaya aku dapat royalti,” putus Jiseok, yang disambut oleh tawa Gunil.</p>

<p>Tanpa menunggu jawaban selanjutnya, Jiseok memainkan beberapa nada. “Kak Gunil tahu lagunya?”</p>

<p>Gunil menggeleng. “Coba lanjut main dulu.”</p>

<p>Jiseok kembali memetik senar.</p>

<p><em>“I&#39;ve~ been quitely living,</em>
<em>In a deep tunnel that swallowed up the light.”</em></p>

<p>Gunil mengerutkan dahi. “Nggak tahu.”</p>

<p>“Ih, ayo usaha dulu.”</p>

<p><em>On the dark road ahead, I can&#39;t see a single step ahead.</em>
<em>I can&#39;t see anything, I can&#39;t feel anything.</em></p>

<p>Wajah Gunil tidak menunjukkan pencerahan. Jiseok menghela napas.</p>

<p>“Colors,” ucapnya setelah menghentikan permainan. “Lagunya Day6. Memang tidak seterkenal single debut-nya, tapi lagunya pengen banget aku nyanyiin untuk Kak Gunil,”</p>

<p>Gunil mengangkat sebelah alis. “Liriknya terdengar depresif. Apa aku terlihat sesedih itu?”</p>

<p>“Ih, enggak begitu!” Jiseok meringis. “Dengerin semuanya makanya. Lagunya bagus! Soalnya di mataku, kak Gunil kayak warna matahari terbenam,”</p>

<p>“Karena warnanya meredup?”</p>

<p>“Kok nganggepnya negatif terus, sih,” Jiseok merengut. Tawa Gunil ikut berdering.</p>

<p>“Lagi kau ini kenapa dari dulu suka sekali menggombal. Kalau aku betulan jadi suka, kau mau apa?”</p>

<p>“Kakak mikir aku lagi ngegombal?!” Jiseok terlalu terkejut hingga ia terlambat memproses kata-kata selanjutnya. “Sebentar. Hah?? Gimana?”</p>

<p>Gunil tak menghiraukan pertanyaannya. Ia malah memalingkan muka, berharap pipinya yang memanas tidak segera tertangkap basah. “Lagipula, dibanding warna matahari terbenam, mungkin aku lebih cocok jadi warna putih.”</p>

<p>“Hmm, masuk juga,” Jiseok langsung mengamini. “Emangnya kenapa?”</p>

<p>“Soalnya kosong. Warnanya membosankan,”</p>

<p>“Kok gitu! Jangan diskriminasi warna putih kayak gitu!”</p>

<p>Gunil tertawa. Entah sudah berapa kali Gunil menertawakan anak laki-laki berambut gulali ini. Ia bahkan tidak pernah tertawa selepas ini bersama Jungsu. Barangkali karena pada dasarnya mereka tidak pernah saling cinta.</p>

<p>Lantas pikiran itu terlontar kembali dari mulutnya. “Kau ini lucu, Jiseok-ah. Kalau lama-lama aku jadi sayang, bagaimana?”</p>

<p>“Heh?! Kak Gunil tuh ya, nggak cocok ngegombal. Kasih aba-aba dulu kenapa!” Jiseok meringis.</p>

<p>“Memangnya lagi mundurin mobil harus kasih aba-aba ...”</p>

<p>“Tapi kak, aku serius,” Jiseok menatap Gunil lekat-lekat. “Jangan sayang sama aku,”</p>

<p>“Apa―”</p>

<p>“Jangan. Jangan aja,” Jiseok mengangkat bahu. “Aku aja yang sayang kakak, tapi kakak jangan sayang balik. Aku nggak layak. Terus nanti, kakak jadi sial, lho,”</p>

<p>“Apaan sih, kok jelek kata-katanya,” Gunil mengernyit. “Nggak ada yaag nggak layak untuk disayang, Jiseok. Memangnya kamu barang rongsokan, apa ...”</p>

<p>“Ya udah kalau dibilangin nggak percaya juga,” Jiseok mendengus. “Ta―”</p>

<p>“Jangan. Jiseok juga jangan percaya,” potong Gunil sebelum ia mengalihkan pembicaraan. “Memang siapa yang ngomong begitu? Nanti biar aku suruh kucing hitam main ke rumahnya.”</p>

<p>Jiseok terpana sebelum ia melepas tawa. “Memangnya kak Gunil percaya hal begituan?”</p>

<p>“Nggak. Biar mereka takut saja,” Gunil ikut menyeringai. “Nah, seperti itu. Kalau Jiseok tertawa, jadi lebih manis.”</p>

<p>“Kak, stop ngegombal. Itu tugas aku!”</p>

<p>“Makanya, berhenti berbicara yang jelek-jelek. Kalau ada yang berani bilang begitu padamu, kau harus sembunyi di belakangku. Biar aku yang marahi,” Gunil memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan. Ia akhirnya berdiri, menawarkan uluran tangan pada Jiseok yang masih duduk di rerumputan. “Ayo, kita makan siang.”</p>

<hr/>

<h3 id="6-nila">[ 6., Nila ]</h3>

<p>Seharusnya hari ini adalah hari biasa yang tidak akan Gunil rekam baik-baik dalam kepala.</p>

<p>Ia masih menghitungi produksi susu sapi, mengecek bahan roti, menyirami kebun bunga lily. Terkadang ia berpapasan dengan Jiseok; raganya ia temukan dari balik jendela, sedang membantu tetangga sebelah mengangkut karung kentang dan ikut bakar-bakaran untuk makan siang bersamanya. Baru saja seminggu berkenalan, ia telah menjadi anak kesayangan para warga.</p>

<p>Besok Jiseok akan pulang.</p>

<p>Entah pulang, atau kembali ke kota besarnya yang penuh huru hara, Gunil tidak tahu. Ia tidak punya keberanian untuk bertanya semenjak percakapan kemarin―mungkin saja memang ada yang benar-benar terjadi pada karirnya. Mungkin memang seberat itu tuntutan dunia hiburan.</p>

<p>Sehebat itu pula ia dapat menyembunyikannya dengan baik.</p>

<p>.</p>

<p>Sore itu, Gunil baru kembali dari mengantar susu ketika ia menemukan Jiseok berdiri di bibir pantai. Langit hari itu sudah segelap refleksi laut yang ada pada naungannya. Ombak-ombak bergulung dengan agresif, gemuruhnya dapat terdengar bahkan sebelum Gunil datang menghampirinya.</p>

<p>“Jiseok,” Gunil memanggil, berharap suaranya dapat mengalahkan suara amarah ombak. Tidak ada respon. Gunil meminggirkan sepedanya untuk kemudian berjalan mendekatinya.</p>

<p>“Jiseok.”</p>

<p>Kali ini Jiseok menoleh; matanya sayu dengan tatapan kosong seperti yang ia temui tempo hari. Seiring dengan pandangannya yang bertemu netra milik Gunil, kesadarannya seakan muncul kembali ke
permukaan. Ia lekas melempar sebuah senyum familiar.</p>

<p>“Kak Gunil,” Jiseok menyapa riang.</p>

<p>“Lagi apa?” Gunil refleks mengulurkan tangannya. “Kok belum pulang. Di sini air pasangnya sedang tinggi, kau bisa terbawa ombak,”</p>

<p>Jiseok terlihat sedikit bingung, tapi ia tetap menyambut tangan Gunil. “Aku baru tahu di sini ada pantai,”</p>

<p>Mereka berjalan meninggalkan pantai; pasir-pasirnya yang lembek karena siraman air laut membuat kaki-kaki mereka hampir tertelan.</p>

<p>“Ada. Sayangnya kau terlalu sibuk bermain dengan anak-anak,” tutur Gunil, disambut oleh kekehan Jiseok yang berjalan di belakangnya. “Nanti lagi kalau kau kemari, kita bisa jalan-jalan melihat matahari terbenam. Kau besok jadi pulang? Atau kembali ke kota?”</p>

<p>Tidak ada jawaban. Gunil berhenti lalu membalikkan badan, bertemu dengan sosok Jiseok yang kini sedang menunduk dengan tatapan kosong.</p>

<p>Suara ombak kembali mengisi keheningan di antara mereka.</p>

<p>“Jiseok.”</p>

<p>“Eh. Oh?” Jiseok yang sedikit tersentak mengangkat kepalanya, menatap manik mata Gunil dengan tidak fokus. “Maaf kak, kenapa?”</p>

<p>Gunil menerawang, meneliti setiap detail dan garis wajah yang barangkali dapat menjadi petunjuk terkait seluk-beluk rahasia Jiseok. Tentang rambut gulalinya yang tertiup angin pantai, atau iris cokelat matanya yang berkilau di bawah cahaya lampu, atau garis tawanya yang tak pernah benar-benar menghilang.</p>

<p>Tapi tidak ada. Mungkin ia tidak begitu ahli. Atau mungkin Jiseok yang terlalu ahli menyembunyikannya.</p>

<p>Ia hanya punya satu pilihan. “Kau baik-baik saja?”</p>

<p>Juga Jiseok yang memiliki pilihannya.</p>

<p>Jiseok membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu. Namun perkataannya seakan hilang ditelan udara. Ia terdiam untuk sesaat, sebelum akhirnya ia kembali menutup mulutnya dan kembali menunduk. Terdengar helaan napas sebelum ia kembali mengangkat kepala.</p>

<p>“Gapapa, kak. Cuma capek aja mungkin, maaf ya,”</p>

<p>Meski sangat samar, Gunil menyadari getaran dalam kalimatnya. Lantas ia menatap manik mata itu lekat-lekat, apakah alasan lelah yang ia maksud tertulis pada bayangan matanya.</p>

<p>Gunil menyerah.</p>

<p>Pada akhirnya ia hanya berani memberi afeksi; dengan refleks ia menyisiri poni Jiseok yang sudah memanjang, agar ujung helainya tak menusuk mata. “Ya udah,” ia kembali menggenggam tangannya, seakan Jiseok dapat menghilang terbawa angin. “Ya udah. Kita pulang sekarang, dingin,” ia kembali berjalan, diikuti Jiseok yang masih diam terpana.</p>

<p>“Kak Gunil, aku boleh genggam hatimu juga, nggak?”</p>

<p><em>Boleh,</em> seharusnya Gunil jawab begitu. <em>Pegang saja erat-erat, asal kau tidak pergi.</em></p>

<p>Harusnya Gunil memang tidak pernah menyerah.</p>

<hr/>

<h3>[     ]</h3>

<p>Jungsu yang biasanya mengantar roti ke toko-toko di kota, kini sedang panik karena harus mengantar anjingnya yang sakit semalam.
Maka pada hari itu, Gunil yang bertugas untuk mengantar roti ke kota. Kota yang ia kunjungi tak cukup bising; namun cukup informatif untuk mendapat berita-berita baru. Terutama pada toko tempat ia menaruh roti, tak jarang mereka menyetel televisi untuk menciptakan suasana ramai. Apalagi pemiliknya sering menggandrungi segala informasi dari berita politik hingga musik.</p>

<p>Hari itu, Gunil menaruh roti-roti pada etalase berlampu kuning, sembari setengah mendengarkan sang pemilik yang mengajak diskusi. Jawabannya tak jauh dari “Oooh” atau “Hmm,” memberitahu bahwa ia masih mendengarkan dengan khidmat. Roti terakhir ia masukkan, kemudian ia tutup pintunya dengan rapat. Tak sengaja ia bertemu pandang pada sosok manusia yang tampil di layar televisi.</p>

<p>Hatinya seketika mencelos.</p>

<p>Sosok yang yang muncul pada layar televisi nampaknya terlampau familiar di mata Gunil ― seharusnya, memang begitu. Karena ia adalah musisi. Pekerjaannya mengharuskan ia untuk muncul di layar kaca setiap hari. Tetapi kepala berita yang menaunginya membuat janggal.</p>

<p>Ia dikabarkan telah menghilang selama enam hari.</p>

<p>Agensi menemukan apartemennya dalam keadaan kosong, yang mana setelah diselidiki semua barang-barangnya telah dijual oleh sang pemilik. Semua kontak padanya telah diputus; keluarganya juga tidak tahu-menahu dengan kepergiannya. Layaknya buronan, para polisi tengah berusaha mencari jejak-jejak terakhir sebelum ia dikabarkan menghilang.</p>

<p>“Nak Gunil, ada apa? Tumben menonton berita?”</p>

<p>Ibu penjaga toko datang menghampirinya, barangkali sedikit khawatir karena ia tak kunjung beranjak dari layar.</p>

<p>“Gaon ...” Gunil menunjuk pada layar, namun tak tahu harus berkata apa.</p>

<p>“Oh, Gaon? kamu mengikuti beritanya juga?” ia bertanya dengan mengangkat alis, tertarik mengetahui hal baru tentang Gunil.</p>

<p>“Eh .... tidak ... memang dia kenapa?”</p>

<p>“Dia akhir-akhir ini sering masuk berita, tapi karena kontroversi,” tuturnya menjelaskan. “Kasihan, nak Gunil. Mungkin usianya tidak jauh beda denganmu, tapi ia selalu terlibat berita miring. Padahal setelah diselidiki semuanya tidak benar, tapi tidak ada yang mau mendengarkan. Bahkan meskipun ia sudah meminta maaf. Sampai kabar terakhirnya, ia memutuskan untuk <em>break</em> dari dunia hiburan karena kondisi kesehatannya. Tapi, kalau beritanya jadi begini ...” Ibu pemilik menggeleng pelan, ikut menatap layar kaca. Memperhatikan sosok manis berambut ungu yang masih jadi sorotan berita utama.</p>

<p>“Padahal karya-karyanya sangat bagus. Semoga dia tidak apa-apa ...”</p>

<p>.</p>

<p>Gunil melajukan mobilnya seperti sedang kesetanan. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Jungsu, namun tak ada hasil. Barangkali ia masih di dokter hewan, atau ponselnya tak ia bawa, atau seribu hal lain yang mungkin terjadi.</p>

<p>Tapi yang ia tahu, Jungsu baik-baik saja. Jiseok tidak.</p>

<p>Gunil telah sampai pada penginapan, tak sempat pula ia menutup pintu mobil. Ia bergegas pada ruangannya, mengambil kunci cadangan pada gantungan di balik pintu, lalu berlari menuju lantai dua. Dalam sekejap, kamar bernomor enam sudah muncul di depan mata.</p>

<p>Gunil mengetuk pintu dengan sedikit panik. “Jiseok,” Gunil memanggil, “Kau sudah bangun?”</p>

<p>Hening. Bahkan sekali pun tak ada suara kehidupan dari dalam. Gunil kembali mengetuk. “Jiseok,” Gunil memanggil lebih keras. “Jiseok, aku mau bicara. Penting,”</p>

<p>Masih tak ada jawaban.</p>

<p>Tak sabar, Gunil menyiapkan kunci-kunci cadangannya. “Jiseok, aku masuk,” ia kemudian menancapkan kunci yang tepat pada lubangnya. Lalu ia menyadari ada satu lagi kejadian tak terduga yang membuat jantungnya serasa jatuh ke rongga perut.</p>

<p>Pintunya tidak dikunci.</p>

<p>Tangannya membatu pada gagang kunci, berhenti mencoba untuk memutarinya. Dengan gemetar, Gunil mulai mengangkat tangannya untuk meremat gagang pintu dan menurunkannya. Pintunya terbuka.</p>

<p>Kehadiran Jiseok selama seminggu terakhir seakan-akan terasa seperti mimpi panjang.</p>

<p>Kamar yang dimasukinya terlihat bersih, tirai-tirainya dibuka agar cahaya pagi dapat masuk melalui jendela. Tempat tidurnya rapi seakan tidak pernah ditiduri. Gunil benar-benar berpikir mungkin ia sedang bermimpi jika tidak ada tumpukan baju yang ia pinjami di atas tempat tidur. Tidak, ia tidak sedang bermimpi. Ia ingat betul baru kemarin sekali ia membantu Jiseok menjemur baju-baju itu; karena apabila tidak dipakaikan jepit jemuran, bajunya akan terbang terbawa angin.</p>

<p>Jiseok masih tertawa lepas kala itu.</p>

<p>Di atas lipatan baju yang rapi, ada serenceng kunci kamar dan dompet Jiseok yang masih lengkap dengan sejumlah uang dan kartu identitas miliknya. Semakin lama ia pandangi, semakin terasa kakinya untuk berpijak mulai kebas.</p>

<p>Gunil kembali mengedarkan pandangan pada seluruh ruangan. Ada sebuah tulisan panjang tertera pada kertas memo yang biasa Gunil siapkan pada setiap kamar penginapan. Dengan terhuyung Gunil berjalan menuju meja dekat jendela. Ada harapan kecil bahwa pesan yang ditinggalkan Jiseok barangkali sebuah petunjuk surat pamit untuk pulang ke kota, atau izin bermain ke kolam tetangga, atau bahkan gombalan receh untuk meminta tambahan telur dadar.</p>

<p>Tapi tidak ada. Yang ada hanyalah kertas buram pada pandangan Gunil yang kini mengabur.</p>

<p>Dari jauh, suara raungan sirine mobil polisi samar-samar mulai terdengar.</p>

<hr/>

<h3>[  ■■■■  ]</h3>

<p><em>“Dalam pikiranku, konsep warna sesungguhnya hanyalah sebuah ilusi.</em></p>

<p><em>Kelas fisika dasar mengajarkan kita bahwa warna yang kita lihat adalah hasil dari pantulan gelombang cahaya yang masuk ke mata. Karena itu, ketika tidak ada cahaya, gelap yang menelan segala benda berwarna apa pun pada akhirnya akan dilambangkan dengan warna hitam.</em></p>

<p><em>Begitu pula dengan kehidupan.</em></p>

<p><em>Percayalah, ketika ada seribu orang yang mencoba meyakinkanku bahwa hidupmu semonoton warna monokrom, sampai kapan pun aku tidak akan menghiraukannya. Karena monokrom tidak monoton. Monokrom adalah warna tunggal. Tapi kau adalah putih.</em></p>

<p><em>Ketika kau mengatakan bahwa hidupmu adalah manifestasi dari warna putih, aku langsung mengamininya tanpa alasan berarti. Harusnya kukatakan ini, alasannya―agar kau tak memandang kehidupan impianmu terlampau rendah. Agar kau tahu bahwa warna putih adalah warna yang paling kaya sejagat raya; kau letakkan sebongkah prisma di antaranya, dan putih akan memecah menjadi berbagai warna yang tiada habisnya. Begitu pula dengan kehidupanmu, kak Gunil, yang selalu hangat dan dikelilingi orang-orang baik di sekitarmu.</em></p>

<p><em>Dari jutaan orang yang selalu kumintai maafnya, permohonanku yang paling tulus ingin aku tujukan kepadamu.</em></p>

<p><em>Tepat di hari ketika aku datang, aku sudah memutuskan untuk menghilang dari kehidupan. Lalu pada hari itu pula, aku bertemu kau―dengan wajah kusutmu yang terlihat baru bangun tidur, kau sudah mengelapi jendela kamar dengan sabar. Di hari itu pula, sepertinya aku telah meniti karir baru menjadi seorang pembohong ulung.</em></p>

<p><em>Begitu pula aku merasa terlena menjadi seorang pembohong―karena itu, semua orang tiba-tiba menyayangiku. Begitu terlena rasanya sampai aku lupa, bahwa aku hanyalah manusia nista, yang tak pantas hidup bersanding dengan cahaya-cahaya. Dengan keegoisanku yang membara, aku menikmati hidup seakan-akan aku adalah bagian dari mereka, seakan aku adalah bagian dari kau.</em></p>

<p><em>Tapi dari sekian orang yang kudustai, tak pernah sedikit pun aku menyesal membohongimu. Bak laron yang haus akan cahaya, aku senang berputar mengitari duniamu. Berharap menemukan hidup. Berharap menemukan warna. Di mana seharusnya aku telah berhenti sejak lama.</em></p>

<p><em>Walau setitik saja rasanya aku berharap dapat hidup normal sepertimu, seperti memanggang roti atau menikmati segelas kopi dan mengurusi sapi-sapi, pada akhirnya aku sadar aku tak pantas membayangkan kehidupan itu. Aku tak pantas membayangkan hidup denganmu. Serakah rasanya ketika aku masih mengharapkan sebuah ujung yang bahagia dari kehidupan yang telah sekarat.</em></p>

<p><em>Aku meminta maaf untuk itu. Kak Gunil, aku minta maaf untuk semua perasaan bahagia yang bahkan aku tak pantas menerimanya selama garis hidup kita saling bersinggungan. Untuk bagian kecil yang masih berharap dapat hidup bersamamu. Untuk janji-janji yang ingkar. Untuk kebohongan-kebohongan murah dengan berpura-pura menjadi cahaya.</em></p>

<p><em>Andai kata ada hari di mana Tuhan Yang Maha Baik mau memberikanku kesempatan kedua dan kita dapat bertemu kembali, izinkan aku memohon kepadamu untuk mengajariku tentang warna-warna pada langit terbenam; agar aku tak lagi tersesat untuk menemukan jalan pulang.”</em></p>

<hr/>

<p><em>(edited for: <a href="https://write.as/lunarlatte/matahari-terbenam" rel="nofollow">part II / alternate after ending.)</a></em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://lunarlatte.writeas.com/warna-yang-hilang-pada-matahari</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Mar 2022 04:35:54 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>