<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>⋆</title>
    <link>https://lunarlatte.writeas.com/</link>
    <description>a pale blue dot.</description>
    <pubDate>Thu, 27 Aug 2026 04:51:29 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>kamera</title>
      <link>https://lunarlatte.writeas.com/kamera?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[xh&#xA;blockquote &#xA;(for jungseok) &#xA;part of a bigger universe that doesn&#39;t have a title yet (and maybe will never see the end of the light).&#xA;/blockquote&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Kamera?&#34;&#xA;&#xA;Klik.&#xA;&#xA;Suara shutter kamera samar terdengar. Jiseok berkedip terkejut; walau tak ada kilatan cahaya apa pun yang keluar darinya.&#xA;&#xA;Pria itu menurunkan kameranya. Menampilkan wajah yang sembap sehabis bangun tidur. Ia lantas tertawa kecil, mengerutkan kedua ujung matanya yang ikut menyipit.&#xA;&#xA;&#34;Iya. Bagus, nggak? Aku dapat dari tukang loak di samping rumah,&#34; jawabnya serak.&#xA;&#xA;Namun yang ditanya hanya diam terpana, menatap wajah mengantuk yang masih bertanya-tanya. Kalau seperti ini, Jungsu tak terlihat seperti anak menyeramkan yang suka bolos sekolah dan membuat ulah. Jungsu hanyalah Jungsu. Anak laki-laki yang bekerja siang-malam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, lalu sesekali mencuri tidur untuk menyegarkan badan.&#xA;&#xA;&#34;Hei,&#34; Jungsu melambaikan tangan, membuat Jiseok tersadar. &#34;Kok ngelamun? Pikiranmu pasti ke mana-mana lagi. Kali ini jalan-jalan ke mana?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok akhirnya mengalihkan pandangan, terlalu malu untuk mengaku. Alih-alih menjawab, ia bergeser agar posisi duduknya berada di samping pria itu.&#xA;&#xA;&#34;Toko yang kamu cerita baru buka itu? Aku mau lihat hasilnya,&#34; Jiseok memajukan wajah pada layar kamera. Jungsu menekan sebuah tombol, menampilkan wajah Jiseok yang menatap kosong pada layarnya.&#xA;&#xA;&#34;Dih, kok aku kayak orang dongo, hapus, ah!&#34; Jiseok mencoba merebut kamera itu, tapi Jungsu sudah menjauhi barang itu darinya sambil tertawa.&#xA;&#xA;&#34;Kok gitu! Lucu tau,&#34; Jungsu tersenyum jahil, masih meninggikan kameranya ke udara. &#34;Yah! Nanti jatuh kameranya!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hapus dulu makanya!&#34; Jiseok setengah merengek, setengahnya lagi mencoba menggelitiki Jungsu agar ia menyerah. Tawa mereka bergemuruh, mengisi ruang kecil pada taman belakang siang-siang.&#xA;&#xA;Bagitu, dan seterusnya mereka menghabiskan musim panas yang tidak lama lagi akan hilang.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:xh" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">xh</span></a>
<blockquote>(for jungseok)
part of a bigger universe that doesn&#39;t have a title yet (and maybe will never see the end of the light).
</blockquote>
</p>

<hr/>

<p>“Kamera?”</p>

<p><em>Klik.</em></p>

<p>Suara <em>shutter</em> kamera samar terdengar. Jiseok berkedip terkejut; walau tak ada kilatan cahaya apa pun yang keluar darinya.</p>

<p>Pria itu menurunkan kameranya. Menampilkan wajah yang sembap sehabis bangun tidur. Ia lantas tertawa kecil, mengerutkan kedua ujung matanya yang ikut menyipit.</p>

<p>“Iya. Bagus, nggak? Aku dapat dari tukang loak di samping rumah,” jawabnya serak.</p>

<p>Namun yang ditanya hanya diam terpana, menatap wajah mengantuk yang masih bertanya-tanya. Kalau seperti ini, Jungsu tak terlihat seperti anak menyeramkan yang suka bolos sekolah dan membuat ulah. Jungsu hanyalah <em>Jungsu.</em> Anak laki-laki yang bekerja siang-malam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, lalu sesekali mencuri tidur untuk menyegarkan badan.</p>

<p>“Hei,” Jungsu melambaikan tangan, membuat Jiseok tersadar. “Kok ngelamun? Pikiranmu pasti ke mana-mana lagi. Kali ini jalan-jalan ke mana?”</p>

<p>Jiseok akhirnya mengalihkan pandangan, terlalu malu untuk mengaku. Alih-alih menjawab, ia bergeser agar posisi duduknya berada di samping pria itu.</p>

<p>“Toko yang kamu cerita baru buka itu? Aku mau lihat hasilnya,” Jiseok memajukan wajah pada layar kamera. Jungsu menekan sebuah tombol, menampilkan wajah Jiseok yang menatap kosong pada layarnya.</p>

<p>“Dih, kok aku kayak orang dongo, hapus, ah!” Jiseok mencoba merebut kamera itu, tapi Jungsu sudah menjauhi barang itu darinya sambil tertawa.</p>

<p>“Kok gitu! Lucu tau,” Jungsu tersenyum jahil, masih meninggikan kameranya ke udara. “Yah! Nanti jatuh kameranya!”</p>

<p>“Hapus dulu makanya!” Jiseok setengah merengek, setengahnya lagi mencoba menggelitiki Jungsu agar ia menyerah. Tawa mereka bergemuruh, mengisi ruang kecil pada taman belakang siang-siang.</p>

<p>Bagitu, dan seterusnya mereka menghabiskan musim panas yang tidak lama lagi akan hilang.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://lunarlatte.writeas.com/kamera</guid>
      <pubDate>Sun, 05 May 2024 10:35:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>menara suar(a)</title>
      <link>https://lunarlatte.writeas.com/menara-suar-a?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[xh&#xA;blockquote (for gayeon)&#xA;part of halcyon universe.&#xA;/blockquote&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Pernah kepikiran nggak, kalau suara-suara deru kendaraan yang lewat itu mirip sama suaranya debur ombak?&#34;&#xA;&#xA;Sepi. Hanya ada segaris laut biru pudar di atas pasir-pasir putih yang kosong. Musim dingin memang bukan waktu yang tepat untuk pergi mengunjungi pantai, tapi tidak ada yang tidak mungkin dari isi kepala Jiseok.&#xA;&#xA;Jooyeon menoleh pada gema biru yang mengudara di sampingnya. Jiseok yang hampir tenggelam dalam balutan jaket tebalnya masih melihat pemandangan pantai luas di sekitarnya, tak ada sama sekali raut bosan di wajahnya.&#xA;&#xA;&#34;Suara kendaraan? Memang di laut ada bunyi klakson juga?&#34;&#xA;&#xA;Jawabannya disambut oleh tinjuan pelan Jiseok pada lengannya. &#xA;&#xA;&#34;Bukan yang begitu maksudnya,&#34; Jiseok mendengus. &#34;Maksudnya kayak ... apa, ya? White noise? Desibelnya rendah dan timbul tenggelam. Sama-sama bersuara &#39;wuuuushh&#39; lalu hilang.&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon mengernyit. Ia tidak begitu mengamati suara benda mati karena beberapa tidak punya warna berarti, apalagi paham berapa sekian desibelnya. Tapi dengan memejamkan mata, dalam pantai kosong dan sesepi itu, mungkin ia sedikit banyak dapat memahami maksudnya.&#xA;&#xA;Keduanya memancarkan binar kelabu dingin yang teduh.&#xA;&#xA;&#34;Sepi, ya?&#34; Jooyeon menimpali dengan pikirannya yang lain. &#34;Kita harusnya ke sini pas liburan musim panas, Jiseok-ah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak apa-apa. Aku nggak terlalu suka keramaian,&#34; Jiseok menghela napas, membentuk kepulan asap dingin yang keluar dari mulutnya. &#xA;&#xA;Jooyeon tahu itu.&#xA;&#xA;Jiseok menyandar pada pilar tangga kayu yang ia duduki, membuat suara berderit yang membuyarkan lamunan Jooyeon.&#xA;&#xA;&#34;Dulu,&#34; Jiseok tampak berpikir sebelum melanjutkan, &#34;dulu aku pernah tinggal di apartemen yang lokasinya tepat di depan jalan besar. Setiap hari polusi suara nggak bisa dihindari; dari klakson-klakson kendaraan macet, gerung motor-motor yang suka ngebut, sampai suara tabrakan beruntun ...&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon seketika menoleh padanya. Jiseok sendiri tampak hilang selama beberapa saat, karena ia tak lekas melanjutkan perkataannya; sampai Jooyeon menggenggam tangannya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu nggak apa-apa?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok menoleh. Bertemu dengan raut wajah Jooyeon yang khawatir. Alam bawah sadarnya membuat Jooyeon masih menggenggam tangan itu erat; jempolnya kerap menyapu jemari Jiseok yang terasa dingin.&#xA;&#xA;Jiseok memiringkan kepalanya bingung. Jawaban itu sekaligus menjawab pertanyaan Jooyeon secara tak langsung; ia baik-baik saja. Jooyeon mengembuskan napas yang tak sadar sedari tadi ia tahan.&#xA;&#xA;&#34;Tapi kalau malam hari, jalanannya sepi,&#34; Jiseok kembali melanjutkan, walau kini tutur katanya sedikit lebih lambat. &#34;Hanya ada beberapa truk besar yang lewat. Selain itu, sisanya suara-suara yang aku bilang tadi — deru kendaraan yang lewat lalu hilang. Lucunya, itu membuat aku tidur nyenyak, ya?&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon menunggu Jiseok untuk melanjutkan.&#xA;&#xA;&#34;Aku selalu membayangkan mungkin seperti itu rasanya tinggal di perumahan dekat pantai. Kau akan terus mendengar suara debur ombak yang tak pernah ada habisnya. Meskipun pada beberapa hari tertentu, suara itu diisi oleh kepingan botol pecah dan teriakan orang bertengkar ...&#34;&#xA;&#xA;Jiseok kembali terdiam. Jooyeon merasakan genggaman tangannya mengerat.&#xA;&#xA;&#34;Jiseok-ah,&#34; lamat-lamat Jooyeon memotongnya, sebelum Jiseok tersesat semakin jauh. &#34;Aku pikir, suaranya sangat berbeda dengan debur ombak.&#34;&#xA;&#xA;Keheningan itu kembali terisi oleh sayup-sayup suara ombak yang saling bertabrakan. Mungkin karena anginnya semakin kencang, gulungan ombak yang tercipta terdengar semakin besar. &#xA;&#xA;&#34;Oh ...&#34; Jiseok tampak mendengarkan suara ombak itu dengan seksama, kemudian ia mengerutkan dahi. &#34;Kenapa kita ngomongin tentang hal ini, ya?&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon membalas genggamannya, membuat Jiseok melirik pada kaitan tangan mereka.&#xA;&#xA;&#34;Mungkin karena Jiseok suka pantai?&#34; Jooyeon mencoba memberi jawaban. &#34;Lalu, kamu membayangkan suara-suaranya terasa seperti suasana di pantai.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sebenarnya aku tidak pernah terlalu peduli soal itu,&#34; Jiseok membalas. &#34;Tapi, ini ... ada beberapa saat ketika telingaku terlalu sensitif terhadap suara. Kadang, suara-suara itu merekam memori mengerikan. Kupikir, daripada harus tenggelam dalam kegelapan, lebih baik aku asumsikan rasanya sama seperti melihat matahari di musim dingin. Warna kuning pucat yang teredam kabut dingin. Heh, sayangnya pasir-pasir itu terlalu basah untuk dipijak, ya? Jadi kita nggak bisa lihat dari dekat,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Warna?&#34; Jooyeon kembali mengernyit. Meskipun ia paham sedikit-banyak pembicaraan Jiseok adalah omongan abstrak yang tidak seberapa ia mengerti, ia tetap terkejut ketika mendengar Jiseok mengasumsikan suara sebagai warna.&#xA;&#xA;&#34;Ngomongin tentang warna, aku juga punya rahasia kecil,&#34; timpalnya. Sesungguhnya, Jooyeon melakukannya untuk mengalihkan pembicaraan ini; agar Jiseok berhenti mengingat hal-hal tidak baik—bahkan ketika mereka sudah jauh pergi meninggalkan hal itu. Tapi ia belum pernah bercerita tentang kondisinya itu pada siapa pun selain keluarganya, bahkan pada Jiseok.&#xA;&#xA;&#34;Ini ... aku bisa lihat warna-warna dari gelombang suara.&#34;&#xA;&#xA;Kini Jiseok menatapnya lekat-lekat. Tatapan kosong itu berubah menjadi ketertarikan penuh padanya.&#xA;&#xA;&#34;Warna? Suara?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eum, kayak ... warna suara ombak terlihat kelabu biru di pandanganku. Meskipun suara benda mati itu gelombangnya terlihat sangat samar ... warnanya mirip dengan suara saat kita naik kendaraan di tengah jalan tol yang lengang. Mungkin karena itu menurutmu mirip, meskipun deru kendaraan warnanya kelabu mengarah ke tembaga ... atau, kamu tahu suara gitar? Warnanya kuning kecokelatan transparan, seperti gelombang milik kak Jungsu meskipun warna suara manusia biasanya jauh lebih tebal dan bervariasi. Oh, manusia. Suara manusia selalu terlihat menarik, meskipun sesekali buatku menjadi pusing.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok berkedip, tampak tidak percaya. &#34;Kamu sungguhan bisa lihat warna suara?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak percaya pun nggak apa-apa&#34; Jooyeon mengangkat bahu. &#34;Tapi, begitu. Kadang bisa aku kontrol, kadang tidak. Kalau sudah susah dikontrol, mau melakukan apa pun rasanya seperti buta,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Synesthesia?&#34; Jiseok manggut-manggut.&#xA;&#xA;&#34;Syn ...? Yah, mungkin itu,&#34; Jooyeon kembali mengernyit pada kosa kata Jiseok yang rumit.&#xA;&#xA;&#34;Serius? Wah,&#34; Jiseok tampak terkagum-kagum. &#34;Berarti kalau aku sedang berbicara seperti ini, ada warnanya, dong?&#34;&#xA;&#xA;Gelombang biru itu tampak menari dengan riang. Mereka kini memunculkan warna lainnya—yaitu tosca, yang selalu Jooyeon nantikan kehadirannya.&#xA;&#xA;Warna tosca itu selalu muncul ketika Jiseok sedang tertawa.&#xA;&#xA;&#34;Biru gelap, dengan corak ... eum ... kamu tahu? Cahaya langit malam yang ada di Norwegia. Kalau kamu tertawa, corak hijaunya mengalir persis seperti di video-videonya.&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon tidak ingat namanya, tapi ia ingat—penampakan langit yang ia tonton bersama Jiseok dalam sebuah film dokumenter dulu sekali. Saat pertama Jooyeon melihat langit itu, ia langsung mematenkan bahwa itu benar-benar warna Jiseok. Karena ia kadang kesulitan mendeskripsikan sebuah warna suara, dan tak terkira bahwa visualisasi langit itu akhirnya terpakai—untuk menjelaskannya kepada sang pemilik.&#xA;&#xA;&#34;Norwegia?&#34; Jiseok mrngerutkan dahi. &#34;Norway ... northern— northern lights? Aurora borealis?&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon meringis.  Bukan putri. Tolong berhenti pakai kosa kata rumit,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukan, bukan aurora itu,&#34; Jiseok merogoh sesuatu dalam sakunya, menegluarkan ponsel pintar miliknya dan mencari sesuatu.&#xA;&#xA;Ia menunjukkan sebuah video langit. &#34;Ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh! Iya, yang ini. Tapi, hijaumu lebih ke warna kebiruan. Seperti apa ya? tosca?&#34; Jooyeon menonton video 30 detik itu hingga selesai.&#xA;&#xA;Ia melirik pada Jiseok, yang memandang langit-langit dengan kagum.&#xA;&#xA;&#34;Wah,&#34; ucapnya untuk yang kesekian kali. &#34;Kamu yakin nggak lagi ngegombal? Kayaknya deskripsimu terlalu cantik untuk dipercaya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ey ... aku udah bilang, kalau nggak percaya juga nggak apa-apa,&#34; Jooyeon merengut mendengar ucapannya.&#xA;&#xA;&#34;Aurora borealis di pantai? Wow,&#34; Jiseok tertawa kecil. &#34;Pasti cantik.&#34;&#xA;&#xA;Kamu memang cantik, dalam hati Jooyeon berucap. Begitu rasanya setiap aku melihatmu— rasanya, aku hampir gila.&#xA;&#xA;&#34;Kalau Jooyeonie warnanya apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eng?&#34; Jooyeon tak memperkirakan pertanyaan itu. &#34;Aku? aku nggak bisa lihat warna suaraku sendiri,&#34;&#xA;&#xA;Jiseok tampak terkejut. &#34;Eh? Serius?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eum,&#34; Jooyeon tertegun. &#34;Menurutmu warnanya apa?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok mengernyit. &#34;Aku nggak mengerti bagaimana synesthesia bekerja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak perlu spesifik. Coba dipikir seperti saat kamu menganggap suara mobil lewat itu seperti debur ombak.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok tak menjawab. Tak mengharapkan jawaban, Jooyeon ikut memandang pada lautan luas, yang langit-langitnya mulai tertutupi kabut tipis.&#xA;&#xA;&#34;Oh, mercusuar.&#34;&#xA;&#xA;Jooyeon menoleh, lalu mengikuti arah pandang dan jari telunjuk Jiseok pada sebuah titik cahaya di pinggir laut. Di balik kabut dingin yang menyelimutinya, samar terlihat bangunan tinggi yang menjulang pada ujung teluk pantai.&#xA;&#xA;&#34;Untuk membantu navigasi kapal, mercusuar akan menyala dalam gelapnya malam, atau saat cuaca sedang buruk.&#34; Jiseok menjelaskan. &#34;Karena itu, mercusuar didesain sedemikian rupa agar cahayanya cukup terang untuk dapat menembus semua itu. &#xA;&#xA;&#34;Aku pikir, itu yang akan aku lihat kalau bisa lihat visualisasi suara Jooyeon.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok kini berpaling dari menara itu, dan menatap Jooyeon lekat-lekat. &#34;Memang tidak ada warna spesifik, tapi kupikir seperti itu. Ketika tersesat dalam gelap, atau ketika sedang menutup mata, ada satu titik cahaya yang memandu pulang. Atau memberi sinyal agar terhindar dari marabahaya. Entah itu obrolan kecil tentang komik yang kamu baca, atau cerita keseharian anjingmu di rumah, atau sekedar senandung dari lagu yang kamu suka saat itu.&#xA;&#xA;&#34;Suara Jooyeon itu seperti suara-suara yang mengantar pulang ke rumah.&#34;&#xA;&#xA;Hening. Jooyeon hanya terdiam, masih mencoba untuk mencerna kata-katanya. Sedang lampu mercusuar di belakang masih berkedip pelan, memancarkan sinyal pada laut kosong.&#xA;&#xA;Pernahkah Jiseok berpikir bahwa justru gelombang birunya yang selalu membuatnya tenang?&#xA;&#xA;&#34;Siapa yang mengajari kamu ngomong gombalan seperti itu?&#34; Akhirnya Jooyeon menanggapi.&#xA;&#xA;&#34;Aku belajar dari ahlinya,&#34; balas Jiseok, lalu ia menepuk lututnya pelan. &#34;Yah. Nggak seperti kamu, aku nggak bercanda,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku nggak bilang begitu, lho?&#34; Jooyeon tertawa kecil, berusaha menyembunyikan kesedihannya. &#34;Ah, aku jadi malu ...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu yang aku rasakan tiap kamu ngomong yang aneh-aneh,&#34; ucapnya kemudian.&#xA;&#xA;&#34;Ini? Seperti apa itu sebutannya—ada kupu-kupu dalam perut?&#34; Jooyeon memasang wajah terkejut yang dilebih-lebihkan. &#34;Apa ini? Sekarang kamu udah sayang sama aku?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sayang kok,&#34; Jiseok menjawab serius. &#34;Apa yang bikin kamu berpikir kalau selama ini aku nggak sayang?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:xh" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">xh</span></a>
<blockquote> (for gayeon)
part of halcyon universe.
</blockquote>
</p>

<hr/>

<p>“Pernah kepikiran nggak, kalau suara-suara deru kendaraan yang lewat itu mirip sama suaranya debur ombak?”</p>

<p>Sepi. Hanya ada segaris laut biru pudar di atas pasir-pasir putih yang kosong. Musim dingin memang bukan waktu yang tepat untuk pergi mengunjungi pantai, tapi tidak ada yang tidak mungkin dari isi kepala Jiseok.</p>

<p>Jooyeon menoleh pada gema biru yang mengudara di sampingnya. Jiseok yang hampir tenggelam dalam balutan jaket tebalnya masih melihat pemandangan pantai luas di sekitarnya, tak ada sama sekali raut bosan di wajahnya.</p>

<p>“Suara kendaraan? Memang di laut ada bunyi klakson juga?”</p>

<p>Jawabannya disambut oleh tinjuan pelan Jiseok pada lengannya.</p>

<p>“Bukan yang begitu maksudnya,” Jiseok mendengus. “Maksudnya kayak ... apa, ya? <em>White noise?</em> Desibelnya rendah dan timbul tenggelam. Sama-sama bersuara <em>&#39;wuuuushh&#39;</em> lalu hilang.”</p>

<p>Jooyeon mengernyit. Ia tidak begitu mengamati suara benda mati karena beberapa tidak punya warna berarti, apalagi paham berapa sekian desibelnya. Tapi dengan memejamkan mata, dalam pantai kosong dan sesepi itu, mungkin ia sedikit banyak dapat memahami maksudnya.</p>

<p>Keduanya memancarkan binar kelabu dingin yang teduh.</p>

<p>“Sepi, ya?” Jooyeon menimpali dengan pikirannya yang lain. “Kita harusnya ke sini pas liburan musim panas, Jiseok-ah.”</p>

<p>“Nggak apa-apa. Aku nggak terlalu suka keramaian,” Jiseok menghela napas, membentuk kepulan asap dingin yang keluar dari mulutnya.</p>

<p>Jooyeon tahu itu.</p>

<p>Jiseok menyandar pada pilar tangga kayu yang ia duduki, membuat suara berderit yang membuyarkan lamunan Jooyeon.</p>

<p>“Dulu,” Jiseok tampak berpikir sebelum melanjutkan, “dulu aku pernah tinggal di apartemen yang lokasinya tepat di depan jalan besar. Setiap hari polusi suara nggak bisa dihindari; dari klakson-klakson kendaraan macet, gerung motor-motor yang suka ngebut, sampai suara tabrakan beruntun ...”</p>

<p>Jooyeon seketika menoleh padanya. Jiseok sendiri tampak hilang selama beberapa saat, karena ia tak lekas melanjutkan perkataannya; sampai Jooyeon menggenggam tangannya.</p>

<p>“Kamu nggak apa-apa?”</p>

<p>Jiseok menoleh. Bertemu dengan raut wajah Jooyeon yang khawatir. Alam bawah sadarnya membuat Jooyeon masih menggenggam tangan itu erat; jempolnya kerap menyapu jemari Jiseok yang terasa dingin.</p>

<p>Jiseok memiringkan kepalanya bingung. Jawaban itu sekaligus menjawab pertanyaan Jooyeon secara tak langsung; <em>ia baik-baik saja.</em> Jooyeon mengembuskan napas yang tak sadar sedari tadi ia tahan.</p>

<p>“Tapi kalau malam hari, jalanannya sepi,” Jiseok kembali melanjutkan, walau kini tutur katanya sedikit lebih lambat. “Hanya ada beberapa truk besar yang lewat. Selain itu, sisanya suara-suara yang aku bilang tadi — deru kendaraan yang lewat lalu hilang. Lucunya, itu membuat aku tidur nyenyak, ya?”</p>

<p>Jooyeon menunggu Jiseok untuk melanjutkan.</p>

<p>“Aku selalu membayangkan mungkin seperti itu rasanya tinggal di perumahan dekat pantai. Kau akan terus mendengar suara debur ombak yang tak pernah ada habisnya. Meskipun pada beberapa hari tertentu, suara itu diisi oleh kepingan botol pecah dan teriakan orang bertengkar ...”</p>

<p>Jiseok kembali terdiam. Jooyeon merasakan genggaman tangannya mengerat.</p>

<p>“Jiseok-ah,” lamat-lamat Jooyeon memotongnya, sebelum Jiseok tersesat semakin jauh. “Aku pikir, suaranya sangat berbeda dengan debur ombak.”</p>

<p>Keheningan itu kembali terisi oleh sayup-sayup suara ombak yang saling bertabrakan. Mungkin karena anginnya semakin kencang, gulungan ombak yang tercipta terdengar semakin besar.</p>

<p>“Oh ...” Jiseok tampak mendengarkan suara ombak itu dengan seksama, kemudian ia mengerutkan dahi. “Kenapa kita ngomongin tentang hal ini, ya?”</p>

<p>Jooyeon membalas genggamannya, membuat Jiseok melirik pada kaitan tangan mereka.</p>

<p>“Mungkin karena Jiseok suka pantai?” Jooyeon mencoba memberi jawaban. “Lalu, kamu membayangkan suara-suaranya terasa seperti suasana di pantai.”</p>

<p>“Sebenarnya aku tidak pernah terlalu peduli soal itu,” Jiseok membalas. “Tapi, ini ... ada beberapa saat ketika telingaku terlalu sensitif terhadap suara. Kadang, suara-suara itu merekam memori mengerikan. Kupikir, daripada harus tenggelam dalam kegelapan, lebih baik aku asumsikan rasanya sama seperti melihat matahari di musim dingin. Warna kuning pucat yang teredam kabut dingin. Heh, sayangnya pasir-pasir itu terlalu basah untuk dipijak, ya? Jadi kita nggak bisa lihat dari dekat,”</p>

<p>“Warna?” Jooyeon kembali mengernyit. Meskipun ia paham sedikit-banyak pembicaraan Jiseok adalah omongan abstrak yang tidak seberapa ia mengerti, ia tetap terkejut ketika mendengar Jiseok mengasumsikan suara sebagai warna.</p>

<p>“Ngomongin tentang warna, aku juga punya rahasia kecil,” timpalnya. Sesungguhnya, Jooyeon melakukannya untuk mengalihkan pembicaraan ini; agar Jiseok berhenti mengingat hal-hal tidak baik—bahkan ketika mereka sudah jauh pergi meninggalkan hal itu. Tapi ia belum pernah bercerita tentang kondisinya itu pada siapa pun selain keluarganya, bahkan pada Jiseok.</p>

<p>“Ini ... aku bisa lihat warna-warna dari gelombang suara.”</p>

<p>Kini Jiseok menatapnya lekat-lekat. Tatapan kosong itu berubah menjadi ketertarikan penuh padanya.</p>

<p>“Warna? Suara?”</p>

<p>“Eum, kayak ... warna suara ombak terlihat kelabu biru di pandanganku. Meskipun suara benda mati itu gelombangnya terlihat sangat samar ... warnanya mirip dengan suara saat kita naik kendaraan di tengah jalan tol yang lengang. Mungkin karena itu menurutmu mirip, meskipun deru kendaraan warnanya kelabu mengarah ke tembaga ... atau, kamu tahu suara gitar? Warnanya kuning kecokelatan transparan, seperti gelombang milik kak Jungsu meskipun warna suara manusia biasanya jauh lebih tebal dan bervariasi. Oh, manusia. Suara manusia selalu terlihat menarik, meskipun sesekali buatku menjadi pusing.”</p>

<p>Jiseok berkedip, tampak tidak percaya. “Kamu sungguhan bisa lihat warna suara?”</p>

<p>“Nggak percaya pun nggak apa-apa” Jooyeon mengangkat bahu. “Tapi, begitu. Kadang bisa aku kontrol, kadang tidak. Kalau sudah susah dikontrol, mau melakukan apa pun rasanya seperti buta,”</p>

<p><em>“Synesthesia?”</em> Jiseok manggut-manggut.</p>

<p>“Syn ...? Yah, mungkin itu,” Jooyeon kembali mengernyit pada kosa kata Jiseok yang rumit.</p>

<p>“Serius? Wah,” Jiseok tampak terkagum-kagum. “Berarti kalau aku sedang berbicara seperti ini, ada warnanya, dong?”</p>

<p>Gelombang biru itu tampak menari dengan riang. Mereka kini memunculkan warna lainnya—yaitu <em>tosca,</em> yang selalu Jooyeon nantikan kehadirannya.</p>

<p>Warna <em>tosca</em> itu selalu muncul ketika Jiseok sedang tertawa.</p>

<p>“Biru gelap, dengan corak ... eum ... kamu tahu? Cahaya langit malam yang ada di Norwegia. Kalau kamu tertawa, corak hijaunya mengalir persis seperti di video-videonya.”</p>

<p>Jooyeon tidak ingat namanya, tapi ia ingat—penampakan langit yang ia tonton bersama Jiseok dalam sebuah film dokumenter dulu sekali. Saat pertama Jooyeon melihat langit itu, ia langsung mematenkan bahwa itu benar-benar warna Jiseok. Karena ia kadang kesulitan mendeskripsikan sebuah warna suara, dan tak terkira bahwa visualisasi langit itu akhirnya terpakai—untuk menjelaskannya kepada sang pemilik.</p>

<p>“Norwegia?” Jiseok mrngerutkan dahi. <em>“Norway ... northern— northern lights? Aurora borealis?”</em></p>

<p>Jooyeon meringis.  Bukan putri. Tolong berhenti pakai kosa kata rumit,”</p>

<p>“Bukan, bukan aurora itu,” Jiseok merogoh sesuatu dalam sakunya, menegluarkan ponsel pintar miliknya dan mencari sesuatu.</p>

<p>Ia menunjukkan sebuah video langit. “Ini?”</p>

<p>“Oh! Iya, yang ini. Tapi, hijaumu lebih ke warna kebiruan. Seperti apa ya? <em>tosca?”</em> Jooyeon menonton video 30 detik itu hingga selesai.</p>

<p>Ia melirik pada Jiseok, yang memandang langit-langit dengan kagum.</p>

<p>“Wah,” ucapnya untuk yang kesekian kali. “Kamu yakin nggak lagi ngegombal? Kayaknya deskripsimu terlalu cantik untuk dipercaya.”</p>

<p>“Ey ... aku udah bilang, kalau nggak percaya juga nggak apa-apa,” Jooyeon merengut mendengar ucapannya.</p>

<p><em>“Aurora borealis</em> di pantai? Wow,” Jiseok tertawa kecil. “Pasti cantik.”</p>

<p><em>Kamu memang cantik,</em> dalam hati Jooyeon berucap. <em>Begitu rasanya setiap aku melihatmu— rasanya, aku hampir gila.</em></p>

<p>“Kalau Jooyeonie warnanya apa?”</p>

<p>“Eng?” Jooyeon tak memperkirakan pertanyaan itu. “Aku? aku nggak bisa lihat warna suaraku sendiri,”</p>

<p>Jiseok tampak terkejut. “Eh? Serius?”</p>

<p>“Eum,” Jooyeon tertegun. “Menurutmu warnanya apa?”</p>

<p>Jiseok mengernyit. “Aku nggak mengerti bagaimana <em>synesthesia</em> bekerja.”</p>

<p>“Nggak perlu spesifik. Coba dipikir seperti saat kamu menganggap suara mobil lewat itu seperti debur ombak.”</p>

<p>Jiseok tak menjawab. Tak mengharapkan jawaban, Jooyeon ikut memandang pada lautan luas, yang langit-langitnya mulai tertutupi kabut tipis.</p>

<p>“Oh, mercusuar.”</p>

<p>Jooyeon menoleh, lalu mengikuti arah pandang dan jari telunjuk Jiseok pada sebuah titik cahaya di pinggir laut. Di balik kabut dingin yang menyelimutinya, samar terlihat bangunan tinggi yang menjulang pada ujung teluk pantai.</p>

<p>“Untuk membantu navigasi kapal, mercusuar akan menyala dalam gelapnya malam, atau saat cuaca sedang buruk.” Jiseok menjelaskan. “Karena itu, mercusuar didesain sedemikian rupa agar cahayanya cukup terang untuk dapat menembus semua itu.</p>

<p>“Aku pikir, itu yang akan aku lihat kalau bisa lihat visualisasi suara Jooyeon.”</p>

<p>Jiseok kini berpaling dari menara itu, dan menatap Jooyeon lekat-lekat. “Memang tidak ada warna spesifik, tapi kupikir seperti itu. Ketika tersesat dalam gelap, atau ketika sedang menutup mata, ada satu titik cahaya yang memandu pulang. Atau memberi sinyal agar terhindar dari marabahaya. Entah itu obrolan kecil tentang komik yang kamu baca, atau cerita keseharian anjingmu di rumah, atau sekedar senandung dari lagu yang kamu suka saat itu.</p>

<p>“Suara Jooyeon itu seperti suara-suara yang mengantar pulang ke rumah.”</p>

<p>Hening. Jooyeon hanya terdiam, masih mencoba untuk mencerna kata-katanya. Sedang lampu mercusuar di belakang masih berkedip pelan, memancarkan sinyal pada laut kosong.</p>

<p>Pernahkah Jiseok berpikir bahwa justru gelombang birunya yang selalu membuatnya tenang?</p>

<p>“Siapa yang mengajari kamu ngomong gombalan seperti itu?” Akhirnya Jooyeon menanggapi.</p>

<p>“Aku belajar dari ahlinya,” balas Jiseok, lalu ia menepuk lututnya pelan. “Yah. Nggak seperti kamu, aku nggak bercanda,”</p>

<p>“Aku nggak bilang begitu, lho?” Jooyeon tertawa kecil, berusaha menyembunyikan kesedihannya. “Ah, aku jadi malu ...”</p>

<p>“Itu yang aku rasakan tiap kamu ngomong yang aneh-aneh,” ucapnya kemudian.</p>

<p>“Ini? Seperti apa itu sebutannya—ada kupu-kupu dalam perut?” Jooyeon memasang wajah terkejut yang dilebih-lebihkan. “Apa ini? Sekarang kamu udah sayang sama aku?”</p>

<p>“Sayang kok,” Jiseok menjawab serius. “Apa yang bikin kamu berpikir kalau selama ini aku nggak sayang?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://lunarlatte.writeas.com/menara-suar-a</guid>
      <pubDate>Tue, 10 Oct 2023 17:27:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>teralis air hujan</title>
      <link>https://lunarlatte.writeas.com/teralis-air-hujan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[xh&#xA;blockquote &#xA;(for jungseok) &#xA;part of a bigger universe that doesn&#39;t have a title yet.&#xA;&#xA;note. school laws and stuff might be inaccurate, i apologize in advance.&#xA;/blockquote&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;Air-air yang turun deras dari langit tak menghalangi Jiseok untuk bergegas menuju lantai teratas bangunan ringkih itu.&#xA;&#xA;Ia berlari menaiki tangga-tangga curam yang licin, berusaha berpegangan pada gagang besi yang juga telah terbasuh air. Ia tidak peduli apabila salah satu kakinya dapat tergelincir; tujuannya saat ini hanya sampai pada bagian atapnya. Karena ia tahu, yang ia cari ada di sana; walau ia tak yakin ia akan mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam kepalanya. Meskipun pertanyaan itu kini telah terganti oleh kilasan peristiwa hari ini yang terus berputar di kepalanya tanpa henti.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Lantai 2.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Surat Permohonan Pengunduran Diri Sebagai Siswa.&#xA;&#xA;Jiseok melihat semuanya. Berkas-berkas serta lembaran duplikasi yang berserakan pada laci meja Jungsu, juga nama yang tercetak di dalamnya. Ia tak bertemu dengan Jungsu seharian ini, atau barangkali Jungsu yang memang sengaja menghindarinya; kemudian, tak sengaja ia temukan kertas-kertas itu bagai kotak pandora yang terbuka.&#xA;&#xA;Pengunduran diri.&#xA;&#xA;Surat pengunduran diri dari sekolah.&#xA;&#xA;Setelah sekian lama ia bertahan, pada akhirnya Jungsu menanggalkan salah satu mimpi terbesarnya.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Lantai 3.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Ruang guru itu tampak sepi, kecuali dua sosok yang tampak serius bercakap. Jiseok membatu di balik pintu, tak jadi melangkah masuk untuk sekedar menyerahkan hasil soal latihan karena pembicaraan antar dua insan tersebut jauh berkali lipat lebih penting.&#xA;&#xA;&#34;Kamu benar-benar berhenti sekolah?&#34;&#xA;&#xA;Tak terdengar jawaban. Jiseok mengintip ke dalam, dan disambut oleh anggukan pelan dari sosok yang membelakanginya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu tahu, ijazah sekolah sangat penting untuk mencari pekerjaan?&#34; wali kelasnya itu menghela napas. &#34;Kamu kira kamu bisa bekerja part-time selamanya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf,&#34; Jungsu hanya dapat menjawab lirih.&#xA;&#xA;&#34;Saya bisa saja mengajukan beasiswa atau keringanan biaya, tapi hasil studimu juga ...&#34; ia kembali menggeleng. &#34;Untuk apa sekolah mempertahankan siswa yang sering bolos sekolah dengan nilai yang buruk?&#34;&#xA;&#xA;Keheningan itu membuat Jiseok pengar. Pikirannya semakin kalut oleh pembelaan-pembelaan yang ingin ia lontarkan. Bagaimana bisa Jungsu belajar dengan baik jika ia bekerja tak ada habisnya? Toh sebulan terakhir ini ia sudah berusaha keras untuk mengikuti semua yang Jiseok ajarkan, dan nilainya sedikit demi sedikit mulai meningkat. Apakah itu tak bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan?&#xA;&#xA;Tapi sistem tetap sistem. Sistem yang mengatur ratusan manusia takkan peduli jika hanya ada satu-dua orang yang tercampakkan karena tak mampu menuruti aturannya.&#xA;&#xA;Sebelum keheningan itu mulai memekakkan telinga hingga Jiseok cukup berani untuk menengahi mereka, Jungsu kembali berbicara.&#xA;&#xA;&#34;Maaf. Saya terlalu sibuk bekerja karena adik saya sebentar lagi akan masuk SMA. Saya memang kurang bekerja keras dalam belajar, dan saya kurang mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Sekali lagi saya mohon maaf,&#34; kemudian Jungsu membungkuk sopan. &#34;Terima kasih atas bimbingannya selama ini.&#34;&#xA;&#xA;Sebelum Jungsu berjalan keluar, Jiseok sudah pergi meninggalkan ruang guru itu.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Lantai 4.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Semakin tinggi lantainya, semakin terasa sesak rasanya. Jiseok merasakan matanya memanas, walau sudah sekian kali ia terciprat air hujan. Apa harus ia merasa setidak berdaya ini? Ia bukan Jungsu, namun ia merasa seakan-akan ikut terjebak dalam ruang kecil dengan jeruji air hujan yang terus mengalir tanpa henti. Apa tidak ada cara lain yang dapat diusahakan? Apa sebegitu senangnya Tuhan bercanda dengan seorang anak yang selalu mengusahakan segalanya untuk berjalan dengan seharusnya?&#xA;&#xA;Sesulit itu kah beranjak dewasa dengan tempo yang semestinya?&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Jiseok sampai pada bagian atap.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Dan Jungsu memang ada di sana.&#xA;&#xA;Tali-tali tempat jemuran itu sudah lengang, kecuali pakaian-pakaian Jungsu yang masih menggantung di sisi kirinya. Basah kuyup. Pun begitu, Jungsu tak beranjak selangkah pun untuk mengangkatnya.&#xA;&#xA;Ia hanya berdiri di sana, entah sudah berapa lama. Karena rambut dan seragam yang masih ia kenakan itu tampak sama basahnya.&#xA;&#xA;Jiseok yang panik refleks berteriak, mengejutkan sosok yang sedari tadi masih diam mematung. &#34;Hei, angkat dulu jemurannya!&#34;&#xA;&#xA;Jungsu menoleh. Jiseok yang melihat raut wajahnya seketika terdiam. Walau tatapannya kosong, ada samar rona merah di sekitar mata dan hidungnya.&#xA;&#xA;&#34;Untuk apa?&#34; tanyanya kemudian. &#34;Diangkat juga sudah terlanjur basah. Nggak ada yang bisa aku lakukan dengan baju-baju itu.&#34;&#xA;&#xA;Jungsu kembali melihat jemuran basah itu dalam diam. &#34;Nggak ada,&#34; ia perlahan duduk berlutut. &#34;Bahkan aku nggak becus mengurusi hal-hal kecil seperti ini ...&#34;&#xA;&#xA;Jiseok sudah tidak sanggup. Ia ikut duduk di sampingnya, memeluknya erat-erat. &#34;Bukan salahmu,&#34; Jiseok berkata, kini terisak. &#34;Bukan salahmu. Itu bukan salahmu, Jungsu-ya ...&#34;&#xA;&#xA;Seakan tersadar oleh isakan Jiseok, Jungsu akhirnya menoleh. &#34;Kenapa?&#34; Jungsu melepas rangkulannya, menangkup wajah Jiseok yang tangisannya bercampur dengan rintik hujan. &#34;Kenapa kamu nangis? Padahal nggak apa-apa, kok. Besok bisa aku cuci lagi bajunya,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi belum tentu besok cerah. Belum tentu airnya akan menyala. Belum tentu ada tempat tersisa buat menjemur pakaian-pakaianmu. Kenapa?&#34; Jiseok masih terisak. &#34;Kenapa hidup rasanya terlalu sulit buatmu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ji—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku tahu,&#34; potong Jiseok, &#34;Aku tahu kamu mengajukan pengunduran diri dari sekolah hari ini.&#34;&#xA;&#xA;Jungsu diam membeku.&#xA;&#xA;&#34;Terus kamu mau apa?&#34; Jiseok mulai meracau. &#34;Apa yang bakal kamu lakukan sesudahnya? Biaya sekolah adikmu bukan tanggungjawabmu. Apa kamu nggak bisa menjadi egois dan hidup seperti anak normal, datang ke sekolah dengan tepat waktu tanpa babak belur atau ngantuk berkepanjangan?&#34;&#xA;&#xA;Jungsu menurunkan tangannya, juga tatapan matanya. Keheningan kini diisi oleh suara hujan yang masih turun dengan deras. &#xA;&#xA;&#34;Aku minta maaf,&#34; di antara suara rintiknya, Jungsu berbisik. &#34;Tapi mereka sudah jadi bagian dari hidupku. Ada hidup adikku yang harus kuperjuangkan supaya ia tak bernasib sama sepertiku. Hidup ibuku yang harus kulindungi. Hidup ayahku dan titelnya sebagai kepala keluarga. Bagaimana jadinya jika mereka tidak ada? Aku bukan siapa-siapa tanpa mereka.&#34;&#xA;&#xA;Jiseok tidak setuju. Di matanya, Jungsu tetaplah Jungsu. Jungsu yang kelakuannya seperti seekor kucing besar. Jungsu yang tidak menyukai kopi pahit. Jungsu yang selalu tertawa akan hal-hal kecil. Jungsu yang selalu memesan tteokbokki, tak peduli seberapa panas cuaca pada hari itu. Jungsu yang suka menunjukkan tempat-tempat tersembunyi yang indah, atau yang selalu menyemangatinya ketika Jiseok selalu mengeluh seputar sekolah atau pertengkaran dengan ibunya.&#xA;&#xA;Jungsu adalah Jungsu, dan itu adalah Jungsu yang Jiseok kenal. Tapi selama ini Jungsu selalu berpikir seakan-akan ia tidak memiliki identitas atas dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Kali ini Jungsu yang balas memeluk terlebih dahulu. Walau keduanya telah basah kuyup, gestur itu mengalirkan sedikit kehangatan pada Jiseok yang tak sadar sudah gemetar karena kedinginan.&#xA;&#xA;&#34;Maaf aku sudah mengecewakanmu. Maaf karena aku gagal menjadi apa yang kamu ekspektasikan. Karena ketika kamu bilang kalau aku selalu terlihat penuh akan kehidupan, mungkin sesungguhnya aku hanya hidup untuk orang lain.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://lunarlatte.writeas.com/tag:xh" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">xh</span></a>
<blockquote>(for jungseok)
part of a bigger universe that doesn&#39;t have a title yet.</p>

<p>note. school laws and stuff might be inaccurate, i apologize in advance.
</blockquote>
</p>

<hr/>

<p>Air-air yang turun deras dari langit tak menghalangi Jiseok untuk bergegas menuju lantai teratas bangunan ringkih itu.</p>

<p>Ia berlari menaiki tangga-tangga curam yang licin, berusaha berpegangan pada gagang besi yang juga telah terbasuh air. Ia tidak peduli apabila salah satu kakinya dapat tergelincir; tujuannya saat ini hanya sampai pada bagian atapnya. Karena ia tahu, yang ia cari ada di sana; walau ia tak yakin ia akan mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam kepalanya. Meskipun pertanyaan itu kini telah terganti oleh kilasan peristiwa hari ini yang terus berputar di kepalanya tanpa henti.</p>

<p>.</p>

<p><em>Lantai 2.</em></p>

<p>.</p>

<p><em>Surat Permohonan Pengunduran Diri Sebagai Siswa.</em></p>

<p>Jiseok melihat semuanya. Berkas-berkas serta lembaran duplikasi yang berserakan pada laci meja Jungsu, juga nama yang tercetak di dalamnya. Ia tak bertemu dengan Jungsu seharian ini, atau barangkali Jungsu yang memang sengaja menghindarinya; kemudian, tak sengaja ia temukan kertas-kertas itu bagai kotak pandora yang terbuka.</p>

<p><em>Pengunduran diri.</em></p>

<p><em>Surat pengunduran diri dari sekolah.</em></p>

<p>Setelah sekian lama ia bertahan, pada akhirnya Jungsu menanggalkan salah satu mimpi terbesarnya.</p>

<p>.</p>

<p><em>Lantai 3.</em></p>

<p>.</p>

<p><em>Ruang guru itu tampak sepi, kecuali dua sosok yang tampak serius bercakap. Jiseok membatu di balik pintu, tak jadi melangkah masuk untuk sekedar menyerahkan hasil soal latihan karena pembicaraan antar dua insan tersebut jauh berkali lipat lebih penting.</em></p>

<p><em>“Kamu benar-benar berhenti sekolah?”</em></p>

<p><em>Tak terdengar jawaban. Jiseok mengintip ke dalam, dan disambut oleh anggukan pelan dari sosok yang membelakanginya.</em></p>

<p><em>“Kamu tahu, ijazah sekolah sangat penting untuk mencari pekerjaan?” wali kelasnya itu menghela napas. “Kamu kira kamu bisa bekerja part-time selamanya?”</em></p>

<p><em>“Maaf,” Jungsu hanya dapat menjawab lirih.</em></p>

<p><em>“Saya bisa saja mengajukan beasiswa atau keringanan biaya, tapi hasil studimu juga ...” ia kembali menggeleng. “Untuk apa sekolah mempertahankan siswa yang sering bolos sekolah dengan nilai yang buruk?”</em></p>

<p><em>Keheningan itu membuat Jiseok pengar. Pikirannya semakin kalut oleh pembelaan-pembelaan yang ingin ia lontarkan. Bagaimana bisa Jungsu belajar dengan baik jika ia bekerja tak ada habisnya? Toh sebulan terakhir ini ia sudah berusaha keras untuk mengikuti semua yang Jiseok ajarkan, dan nilainya sedikit demi sedikit mulai meningkat. Apakah itu tak bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan?</em></p>

<p><em>Tapi sistem tetap sistem. Sistem yang mengatur ratusan manusia takkan peduli jika hanya ada satu-dua orang yang tercampakkan karena tak mampu menuruti aturannya.</em></p>

<p><em>Sebelum keheningan itu mulai memekakkan telinga hingga Jiseok cukup berani untuk menengahi mereka, Jungsu kembali berbicara.</em></p>

<p><em>“Maaf. Saya terlalu sibuk bekerja karena adik saya sebentar lagi akan masuk SMA. Saya memang kurang bekerja keras dalam belajar, dan saya kurang mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Sekali lagi saya mohon maaf,” kemudian Jungsu membungkuk sopan. “Terima kasih atas bimbingannya selama ini.”</em></p>

<p><em>Sebelum Jungsu berjalan keluar, Jiseok sudah pergi meninggalkan ruang guru itu.</em></p>

<p>.</p>

<p><em>Lantai 4.</em></p>

<p>.</p>

<p>Semakin tinggi lantainya, semakin terasa sesak rasanya. Jiseok merasakan matanya memanas, walau sudah sekian kali ia terciprat air hujan. Apa harus ia merasa setidak berdaya ini? Ia bukan Jungsu, namun ia merasa seakan-akan ikut terjebak dalam ruang kecil dengan jeruji air hujan yang terus mengalir tanpa henti. Apa tidak ada cara lain yang dapat diusahakan? Apa sebegitu senangnya Tuhan bercanda dengan seorang anak yang selalu mengusahakan segalanya untuk berjalan dengan seharusnya?</p>

<p>Sesulit itu kah beranjak dewasa dengan tempo yang semestinya?</p>

<p>.</p>

<p><em>Jiseok sampai pada bagian atap.</em></p>

<p>.</p>

<p>Dan Jungsu memang ada di sana.</p>

<p>Tali-tali tempat jemuran itu sudah lengang, kecuali pakaian-pakaian Jungsu yang masih menggantung di sisi kirinya. Basah kuyup. Pun begitu, Jungsu tak beranjak selangkah pun untuk mengangkatnya.</p>

<p>Ia hanya berdiri di sana, entah sudah berapa lama. Karena rambut dan seragam yang masih ia kenakan itu tampak sama basahnya.</p>

<p>Jiseok yang panik refleks berteriak, mengejutkan sosok yang sedari tadi masih diam mematung. “Hei, angkat dulu jemurannya!”</p>

<p>Jungsu menoleh. Jiseok yang melihat raut wajahnya seketika terdiam. Walau tatapannya kosong, ada samar rona merah di sekitar mata dan hidungnya.</p>

<p>“Untuk apa?” tanyanya kemudian. “Diangkat juga sudah terlanjur basah. Nggak ada yang bisa aku lakukan dengan baju-baju itu.”</p>

<p>Jungsu kembali melihat jemuran basah itu dalam diam. “Nggak ada,” ia perlahan duduk berlutut. “Bahkan aku nggak becus mengurusi hal-hal kecil seperti ini ...”</p>

<p>Jiseok sudah tidak sanggup. Ia ikut duduk di sampingnya, memeluknya erat-erat. “Bukan salahmu,” Jiseok berkata, kini terisak. “Bukan salahmu. Itu bukan salahmu, Jungsu-ya ...”</p>

<p>Seakan tersadar oleh isakan Jiseok, Jungsu akhirnya menoleh. “Kenapa?” Jungsu melepas rangkulannya, menangkup wajah Jiseok yang tangisannya bercampur dengan rintik hujan. “Kenapa kamu nangis? Padahal nggak apa-apa, kok. Besok bisa aku cuci lagi bajunya,”</p>

<p>“Tapi belum tentu besok cerah. Belum tentu airnya akan menyala. Belum tentu ada tempat tersisa buat menjemur pakaian-pakaianmu. Kenapa?” Jiseok masih terisak. “Kenapa hidup rasanya terlalu sulit buatmu?”</p>

<p>“Ji—”</p>

<p>“Aku tahu,” potong Jiseok, “Aku tahu kamu mengajukan pengunduran diri dari sekolah hari ini.”</p>

<p>Jungsu diam membeku.</p>

<p>“Terus kamu mau apa?” Jiseok mulai meracau. “Apa yang bakal kamu lakukan sesudahnya? Biaya sekolah adikmu bukan tanggungjawabmu. Apa kamu nggak bisa menjadi egois dan hidup seperti anak normal, datang ke sekolah dengan tepat waktu tanpa babak belur atau ngantuk berkepanjangan?”</p>

<p>Jungsu menurunkan tangannya, juga tatapan matanya. Keheningan kini diisi oleh suara hujan yang masih turun dengan deras.</p>

<p>“Aku minta maaf,” di antara suara rintiknya, Jungsu berbisik. “Tapi mereka sudah jadi bagian dari hidupku. Ada hidup adikku yang harus kuperjuangkan supaya ia tak bernasib sama sepertiku. Hidup ibuku yang harus kulindungi. Hidup ayahku dan titelnya sebagai kepala keluarga. Bagaimana jadinya jika mereka tidak ada? Aku bukan siapa-siapa tanpa mereka.”</p>

<p>Jiseok tidak setuju. Di matanya, Jungsu tetaplah Jungsu. Jungsu yang kelakuannya seperti seekor kucing besar. Jungsu yang tidak menyukai kopi pahit. Jungsu yang selalu tertawa akan hal-hal kecil. Jungsu yang selalu memesan tteokbokki, tak peduli seberapa panas cuaca pada hari itu. Jungsu yang suka menunjukkan tempat-tempat tersembunyi yang indah, atau yang selalu menyemangatinya ketika Jiseok selalu mengeluh seputar sekolah atau pertengkaran dengan ibunya.</p>

<p>Jungsu adalah Jungsu, dan itu adalah Jungsu yang Jiseok kenal. Tapi selama ini Jungsu selalu berpikir seakan-akan ia tidak memiliki identitas atas dirinya sendiri.</p>

<p>Kali ini Jungsu yang balas memeluk terlebih dahulu. Walau keduanya telah basah kuyup, gestur itu mengalirkan sedikit kehangatan pada Jiseok yang tak sadar sudah gemetar karena kedinginan.</p>

<p>“Maaf aku sudah mengecewakanmu. Maaf karena aku gagal menjadi apa yang kamu ekspektasikan. Karena ketika kamu bilang kalau aku selalu terlihat penuh akan kehidupan, mungkin sesungguhnya aku hanya hidup untuk orang lain.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://lunarlatte.writeas.com/teralis-air-hujan</guid>
      <pubDate>Sat, 09 Sep 2023 07:35:14 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>kucing-kucing di ladang</title>
      <link>https://lunarlatte.writeas.com/kucing-kucing-di-ladang?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[xh&#xA;blockquote &#xA;(for jungseok) &#xA;part of a bigger universe that doesn&#39;t have a title yet.&#xA;&#xA;cw // kissing, probably&#xA;also this one is pretty cringe so if someone read this, i&#39;ve warned you T__T&#xA;/blockquote&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;Mungkin ini hidup yang diidamkan orang-orang kota, pikir Jiseok seadanya.&#xA;&#xA;Meskipun sawahnya tak seluas milik desa sebelah, jarak antara satu petak dengan yang lain masih cukup jauh. Padi-padinya masih berwarna hijau, dialiri air segar yang menghidupinya. Di atasnya, plastik-plastik yang bergantung pada seutas tali mengeluarkan suara gemerisik apabila tertiup angin. Jungsu bilang, cara itu jauh lebih efektif untuk mengusir hama dan burung-burung yang suka merusak sawah, ketimbang hanya memasang orang-orangan sawah. Pada ujung petaknya, ada kolam kecil dengan sekelompok bebek yang sedang berenang dengan riang.&#xA;&#xA;&#34;Kamu bisa kena heat stroke kalau kelamaan berdiri di sini,&#34; sebuah suara menyadarkan lamunannya. Jiseok menoleh pada sumber suara, yang kini ikut memandang pada apa yang Jiseok lihat sedari tadi. &#34;Kamu suka bebek?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biasanya aku bawa pakan bebek,&#34; Jungsu mengerutkan dahi. &#34;Tapi, hari ini aku nggak lewat rumah tetangga yang ada karung pakannya,&#34;&#xA;&#xA;Mata Jiseok membesar. &#34;Kamu mencuri pakan juga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yah, apa maksudnya dengan &#39;juga&#39;? Aku nggak sesering itu mencuri,&#34; Jungsu merengut. &#34;Lagipula itu bukan mencuri, kalau aku kasih pakannya ke bebeknya sendiri, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Tapi Jiseok tidak mendengar sisanya. Angin dingin berembus lembut, membuatnya memejamkan mata. Angin di kota juga tidak seperti ini. Walau di sini cuacanya terik, udaranya tetap terasa segar.&#xA;&#xA;Jungsu memasangkan topi jerami yang sedari tadi ia kenakan padanya. Jiseok juga mulai merasakan sepasang tangan yang menggenggam lengannya. &#34;Ayo jalan lagi, kita mau pergi ke minimarket, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok tak menjawab. Ia masih hanyut dalam pikiran-pikirannya. Apakah dengan merasa seperti ini akan membuatnya hidup? Apakah dengan mencuri akan membuat jantungnya berdebar seperti manusia? Apakah terus berlari bersama Jungsu akan membuat hidupnya menjadi berwarna?&#xA;&#xA;Jiseok membuka mata. Menemukan Jungsu yang menatapnya cemas.&#xA;&#xA;&#34;Kak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu nggak apa-apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku mau ciuman.&#34;&#xA;&#xA;Angin kembali berembus. Kini suara gemerisik plastik-plastik mengisi keheningan di antara mereka, diikuti raut wajah Jungsu yang terkejut bercampur bingung.&#xA;&#xA;&#34;Ciuman?&#34; Jungsu tak tahu harus merespon apa. &#34;Sama siapa? Kamu ngincer seseorang di kelas?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya, maksudnya,&#34; Jiseok menelan ludah. Ia tidak percaya ia harus mengatakannya secara gamblang. &#34;Maksudnya, ciuman sama kakak, lah.&#34;&#xA;&#xA;Kini Jungsu menganga lebar.&#xA;&#xA;&#34;Kamu beneran kena heat stroke, ya?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok yang sudah kepalang malu akhirnya mencoba melewati Jungsu. &#34;Udahlah, lupain aja. Kayaknya aku memang kekurangan asupan cairan. Ayo ke minimarket,&#34;&#xA;&#xA;Tapi Jungsu menghentikannya sebelum ia hampir terjatuh dari pematang sawah tempatnya berpijak. &#34;Tunggu, tunggu. Tadi kamu ngomong serius?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kapan sih, omonganku dianggap serius sama kakak?&#34; Jiseok kini tampak terganggu. &#34;Terserah. Mungkin emang karena lagi panas aja. Udah—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku tanya begitu karena aku anggap omongan kamu serius,&#34; Jungsu kembali menghentikan geraknya. Ia masih menggenggam bahu Jiseok. &#34;Kamu mau? Tapi kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Jiseok menggigit bagian dalam pipinya dalam diam sebelum Jungsu kembali bertanya.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa aku?&#34;&#xA;&#xA;Kenapa? Apa karena Jungsu adalah satu-satunya anak kelas yang dekat dengannya? Atau karena ia hanya penasaran